Monday, 30 March 2020

Klasifikasi dan Morfologi Kelelawar

Klasifikasi dan Morfologi Kelelawar

Kelelawar merupakan satwa yang paling unik karena satu-satunya mamalia yang bisa terbang, termasuk ke dalam ordo Chiroptera bercirikas kedua kaki depan yang berkembang menjadi sayap.

Habitat Kelelawar

Kelelawar Spesies Megaderma spasma sering dijumpai pada habitat gua-gua, gedung-gedung, rongga pepohonan dan atap-atap rumah sebagai tempat tinggalnya.

Daerah Penyebaran Kelelawar

Spesies Megaderma spasma banyak tersebar di negara India dan Srilangka sampai Indochina, Malaysia dan Philipina. Penyebaran kelelawar di negara Indonesia banyak dijumpai di pulau Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku (Ternate, Pulau Taliabu).

Makanan Kelelawar

Kelelawar aktif pada malam hari saat mencari makan termasuk hewan nocturnal. Makanan utama kelelawar adalah serangga seperti belalang atau kupu-kupu. Selain serangga, terkadang kelelawar juga dapat memangsa sejenis kadal, reptil kecil, burung kecil, ikan, dan rodensia kecil. Tak jarang juga kelelawar bersifat kanibal. Terdapat jenis kelelawar pemakan buah-buahan.

Kelelawar memiliki kelebihan karena dapat terbang bebas pada malam hari tanpa menabrak benda-benda atau pohon-pohon di depannya. Kelebihan itu terjadi karena kelelawar memiliki kemampuan menangkap pantula getaran atau gema dari suara yang dikeluarkannya atau dikenal dengan istilah ekholokasi. Ekholokasi adalah tingkah laku kelelawar mengeluarkan suara dengan mulut atau hidungnya ketika terbang. Bunyi kelelawar dalam menangkap getaran tidak dapat terdengar oleh manusia.

Ketika terbang kelelawar membutuhkan energi banyak dengan cara memakan-makanan dalam jumlah banyak.

Klasifikasi Kelelawar

Kerajaan : Animalia
Upakerajaan : Bilateria
Infrakerajaan : Deuterostomia
Filum : Chordata
Upafilum : Vertebrata
Infrafilum : Gnathostomata
Superkelas : Tetrapoda
Kelas : Mammalia
Upakelas : Theria
Infrakelas : Placentalia ·
Ordo : Chiroptera Blumenbach, 1779
Subordo : Megachiroptera, Microchiroptera

Morfologi Kelelawar

Perbedaan nyata antara sayap kelelawar dengan sayap burung adalah pada
perluasan tubuhnya yang berdaging dan sayapnya yang tidak berambut terbuat
dari membran elastis dan berotot.

Kelelawar memiliki dua tipe sayap, tipe sayap lebar dan sayap kecil. Sayap kecil ditemukan pada kelelawar yang hidup di alam tertutup. Tipe sayap kecil berguna untuk terbang dengan cepat. Tipe sayap lebar dimiliki kelelawar yang hidup di tempat terbuka, terbang pelan di antara cabang pohon (Vaughan, 2000).

Kelelawar mempunyai morfologi sayap yang terdiri dari beberapa bagian yaitu plagiopatagium, propatagium, dactylopatagium, uropatagium, dan informal membran. Tulang telapak dan jari tangan kelelawar mengalami pemanjangan dan berfungsi sebagai kerangka sayap dan antara kaki belakang dan ekor membentuk membran interfemoral (Prastianingrum, 2008).

Menurut Simmons dan Conway (1997) kaki bawah termodifikasi guna membantu patagium pada saat terbang atau menggantung. Kelelawar memiliki otot yang kuat pada jari-jari kaki untuk mencengkeram sehingga kelelawar dapat tidur menggantung.

Kelelawar mempunyai otot pada patagium dan menggunakan otot-otot tambahan pada dada untuk menggerakkan sayap ke atas dan bawah. Tulang yang kuat pada kelelawar dipakai untuk menopang propatagium pada membran sayap sehingga  memiliki kemampuan untuk melakukan manuver saat terbang. Hal ini dikarenakan sayapnya yang lebih kompleks jika dibandingkan dengan kelelawar dari jenis Megachiroptera (Simmons dan Conway, 1997).

Ukuran tubuh (Suyatno, 2001)

  • lengan bawah sayap 53-58 mm
  • telinga 32-39 mm, besar dan tegak
  • betis 29-32 mm
  • kaki belakang 14-17 mm
  • bobot badan 40-60 gram (Lekagul dan McNeely, 1977)
  • total panjang badan 65-95 mm (Lekagul dan McNeely, 1977)

No comments:

Post a comment