Tuesday, 27 August 2019

Tinjauan Umum Tanaman Padi Sawah

Tinjauan Umum Tanaman Padi Sawah

Padi merupakan tanaman utama penghasil beras yang merupakan bahan makanan pokok sebagian besar rakyat Indonesia. Meskipun sebagai bahan makanan pokok, padi dapat digantikan atau disubstitusikan oleh bahan makanan lainnya, namun padi memiliki tersendiri bagi orang yang biasa makanan nasi dan tidak dapat dengan mudah digantikan oleh bahan makanan yang lain. Tanaman padi (Oryza sativa. L) termasuk dalam famili Graminiae dan spesies Oryza sativa L. Batang,nya terdiri dari ruas-ruas yang dalamnva berongga, dengan tinggi 1,0-1,5 meter. Dari setiap buku batang tumbuh daun yang berbentuk pita dan berpelepah. Tanaman ini mempunyai sifat merumpun yang artinya anak beranak. Dalain satu rumpun terdapat 40-50 batang (Soemartono, dkk. 1983).


Menurut Soedarmo (1991), ada tiga stadia umum proses pertumbuban tanaman padi:


  • Stadia vegetatif yaitu mulai dari perkecambahan sampai terbektuknya bulir . Pada varietas padi yang berumur pendek (120 hari) stadia ini lamanya 55 hari, sedangkan pada varietas umur panjang (150 hari) lamanya sekitar 85 hari.
  • Stadia reproduktif yaitu mulai dari terbentunya bulir sampai pembungaan. Pada varietas berumur pendek lamanya sekitar 35 hari, demikian pula pada varietas umur panjang.
  • Stadia pembentukan gabah atau biji yaitu dari pembungaan sampai pemasakan biji. Lamanya stadia ini sekitar 30 hari, baik untuk varietas umur pendek maupun umur panjang.

Menurut Daryanto (1983), tanaman padi secara garis besar dapat dibedakan atas dua macam, yaitu padi beras dan padi ketan. Menurut cara bertanamnya padi beras dapat dibedakan atas dua macam yaitu padi sawah dan padi kering.

Dalam rangka meningkatkan produktivitas usahatani semaksimal mungkin, maka pemerintah menetapkan program intensifikasi tanaman pangan khususnya padi sawah melalui sistem pasca usaha tani dan kini telah disempurnakan menjadi sapta usahatani.

Sapta usaha tani tersebut meliputi:

1. Pemakaian varietas unggul padi sawah

Varietas unggul padi sawah adalah varietas padi yang karena sifat pembawaannya dapat memberikan hasil yang tinggi pada satuan luas dan waktu. Varietas padi unggul mempunyai sifat-sifat penting yang dimiliki sepelti : daya hasil yang tinggi, berumur pendek, mampu menyerap pupuk dengan sebaik-baiknya dan tahan terhadap hama dan penyakit sena tahan kerebahan. Selain memiliki sifat-sifat tersebut varietas padi unggul perlu mempunyai sifat tambahan yang memenuhi selera petani sepefti : mutu harus baik, rasa nasi enak dan tahan rontok serta mudah merawatnya (Soemantoro, dkk 1984).

2. Cara budidaya tanaman padi

Dalam bercocok tanaman padi sawah terdapat langkah-langkah yang harus di perhatikan dan di laksanakan dengan baik , langkah-langkah tersebut adalah sebagai befikut:

a. Pengolahan tanah

Menurut Sugeng. (2001), pengolahan tanah untuk penanaman padi hatus sudah disiapkan sejak dua bulan sebelum penanaman. Pengolahan dapat dilakukall dengan dua cara yaitu dengan cara tradisional dan cara modern.


  1. Pengolahan tanah sawah dengan cara tradisional, yaitu pengolahan sawah yang dilakukan dengan alat-alat yang sederhana seperti sabit, cangkul, bajak dan garu yang kesemuanya dikerjakan oleh manusia atau dibantu oleh hewan misalnya , kerbau atau sapi.
  2. Pengolahan tanah dengan cara modern yaitu pengolahan sawah yang dilakukan dengan mesin. Dengan traktor dan alat-alat pengolah tanah lainnya.

b. Persemaian

Harus disiapkan sebaik-baiknya agar diperoleh bibit yang baik dan sehat. Tujuan persemaian adalah memberikan keadaan lingkungan yang baik untuk perkecambahan dan penumbuhan awal bagi tanaman padi tersebut (Siregar, 1981).

c. Jarak tanam

Menanam bibit di sawah perlu diatur supaya tidak terjadi persaingan untuk mendapatkan unsur-unsur makanan dan sinar matahari dan juga memudahkan penyiangan. Jarak tanam yang lazim dipakai adalah jarak tanam persegi panjang, dan bujur sangkar misalnya 20x20 cm, 25x25 cm dan 20x30 cm, tergantung pada varietas kesuburan tanah serta musim (Soemartono, dkk. 1984).

d. Jumlah bibit perlubang

Bibit yang telah dicabut dari persemaian boleh ditanam satu atau dua bibit dalam satu lubang dengan kedalaman 3 - 4 cm (Soemartono, dkk. 1984).

e. Penyiangan

Penyiangan dapat dilakukan dengan mencabut rumput satu persatu. Tetapi menyiang tidak hanya mencabut rumput saja, melainkan menggemburkan tanah agar akar tanaman dapat berkembang dengan baik. Penyiangan dapat selesai lebih cepat apabila menggunakan cangkul atau landak (Sugeng. 2001)

3. Pemupukan

Menurut Setyamidjaja (1986), pemupukan dimaksudkan untuk memenuhi unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman. Pemupukan dilaksanakan bila dalam kondisi lapangan tersedia air yang cukup, kondisi iklim baik, gangguan hama atau penyakit dapat diatasi tetapi produksi (hasil panen) rendah.

Untuk mengetahui kebutuhan pupuk bagi tanaman dan tanah perlu dipelajari dua hal yaitu unsur hara apa yang dibutuhkan dan berapa masing-masing unsur hara diperlukan oleh tanaman sehingga diperoleh hasil yang optimal. Pupuk yang sering dipakai adalah Urea, TSP dan KCI.

4. Pengendalian jasad pengganggu

Jasad pengganggu ini meliputi hama dan penyakit yang merusak tanaman padi. Hendaknya jasad pengganggu ini dikendalikan sedemikian rupa, sehingga tidak menimbulkan kerugian berafti.

Menurut (Sugeng. HR. 2001 ), ada beberapa hama dan penyakit dan juga cara pengendaliannya yaitu:

a) Burung

Burung banyak menyerang bulir padi pada saat padi sedang menguning. Oleh karena itu padi harus dijaga, apabila ada burung yang menyerang langsung dihalau.

b) Walang sangit

Walang sangit menyerang bulir padi yang sedang masak susu yaitu dengan jalan mengisap bulir tersebut. Walang sangit dapat dikendalikan dengan menggunakan insektisida atau di sulull (dipasang lampu) sehingga mereka tertarik dan berkumpul pada cahaya lampu tersebut.

c) Tikus

Kerugian yang ditimbulkan karena serangan tikus biasanya amat besar, mereka dapat merusak areal luas dalam waktu yang tidak lama. Tikus dapat dikendalikan dengan memberi umpan ketela, jagung dan sebagainya yang dicampur dengan phospit.

d) Ulat serangga

Serangga-serangga itu betelur pada daun, apabila menetas ulatnya merusak batang dan daun. Cara pengendaliannya harus disemprot dengan 4, pestisida, misalnya: Matador, Furadan, Desis, Lindomin, Hopcyn, dan sebagainya.

5. Pengairan

Menurut Soemartono, cikk. (1984), untuk perlumbuhan tanaman padi sawah banyak sekali membutuhkan air. Maka untuk maksud tersebut bidang sawah yang akan ditanami padi dibuatkan pematang, sehingga air dapat ditampung untuk menggenangi lahan. Meskipun masa perubuhan tanaman lIll memerlukan air namun ada pula masa-masa dimana sawah perlu dikeringkan. Masa mengeringkan ini antara lain : Sebelum bunting untuk mencegah timbulnya tunas-tunas yang tidak mengelttarkan bulir. Pada periode pemasakan bualt, untuk menyeragamkan dan  mempercepat pemasakan buah.

6. Penanganan pasca panen

Waktu panen tergantung dari varietas, iklim dan pemehharaan tanaman. Produksi untuk tujuan konsumsi mempunyai saat panen yang berbeda dengan produksi untuk tujuan keperluan benih. Pentanenan dengan tujuan konsumsi dilakukan jika selunth gabah tampak kuning hanya bultt-bulti sebelah atas masih hijau, isi gabah keras, tetapi mudah dipecahkan. Gabah untuk keperluan benih di panen pada stadia masak penuh, yang mana pada stadia ini buku-buku bagian atas berwarna kuning dan isi gabah sudah dipecahkan.

Padi yang telah dipanen akan mengalami perlakuan : perontokan, pembersihan, pengeringan dan penggilingan. Pengolahan padi bertujuan untuk mempersiapkan dan mengubah padi menjadi beras (Soemartono, dkk. 1984).

7. Pemasaran

Menurut Soemartono, dkk. (1984), peningkatan produksi padi akan berlangsung secara terus-menerus bilamana ada pemasaran. Untuk menjamin kelangsungan produksi padi diperlukan langkah berbagai bidang diantaranya bidang pengangkutan, penyimpanan dan pengolahan dan pembiayaan.

No comments:

Post a comment