Thursday, 22 August 2019

Tinjauan Umum Tanaman Karet


Tinjauan Umum Tanaman Karet

Tanaman karet (Hevea brasiliensis) berasal dari Brazil. Tanaman ini merupakan sumber utama bahan karet alam dunia. Tanaman karet mempunyai batang yang cukup besar. Tinggi tanaman dewasa mencapai 15-25 m. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi di atas. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks (Tim Penulis Penebar Swadaya, 1996).


Menurut Tim Penulis Penebar Swadaya (1996), tanaman karet dalam dunia tumbuhan tersusun dalam sistematika sebagai berikut:

Klasifikasi botani tanaman karet adalah sebagai berikut :

Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dycotyledonae
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Hevea
Spesies : Hevea brasiliensis

Budidaya tanaman karet berkaitan dengan beberapa hal berikut:

1. Syarat Tumbuh Tanaman Karet

Menurut Tim Penulis Penebar Swadaya (1996), tanaman karet dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian antara 1-600 m dari permukaan laut. Hampir di seluruh daerah di Indonesia karet dapat tumbuh subur. Curah hujan yang cukup tinggi antara 2.000-2.500 mm setahun sesuai untuk tanaman karet. Sinar matahari yang cukup melimpah di negara-negara tropis merupakan syarat lain yang diinginkan tanaman karet. Dalam sehari tanaman karet membutuhkan sinar matahari dengan intensitas yang cukup selama 5-7 jam.

Tanaman karet adalah tanaman yang paling toleran terhadap tanah yang kesuburannya rendah dibanding dengan tanaman kopi, cokelat, teh, dan tembakau. Tanah yang kurang subur seperti podsolik merah kuning dengan bantuan pemupukan dan pengelolaan yang baik bisa dikembangkan menjadi perkebunan karet dengan hasil yang memuaskan. Tanah latosol dan alluvial juga bisa dikembangkan untuk penanaman karet. Derajat keasaman yang paling cocok adalah 5-6. Batas toleransi pH tanah adalah 4-8. Tanah yang agak asam masih lebih baik daripada tanah yang basa.

Pengolahan Lahan

Ada dua jenis penanaman karet, yaitu penanaman baru dan peremajaan. Penanaman baru adalah usaha penanaman karet di areal yang belum pernah dipakai untuk budidaya karet. Peremajaan adalah usaha penanaman ulang di areal karet karena tanaman lama sudah tidak produktif lagi. Kegiatan pengolahan lahan baik untuk penanaman baru maupun peremajaan adalah sama. Langkah pertama pengolahan lahan adalah membabat pepohonan yang tumbuh. Pembabatan dapat dilakukan secara manual menggunakan kapak dan gergaji. Setelah pepohonan dibabat, tahap berikutnya membongkar tanah dengan cangkul atau traktor. Dalam pembongkaran ini sekaligus dilakukan pembersihan sisa-sisa akar, rizoma, alang-alang, dan bebatuan karena akan mengganggu perakaran tanaman karet. Jika lahan tidak berkontur rata, tetapi memiliki kemiringan lebih dari 100, sebaiknya dibuat teras dengan lebar minimum 3 m. Teras ini dibuat untuk mencegah erosi. Kebun karet memerlukan sarana berupa jalan, baik untuk pemeliharaan tanaman maupun kegiatan produksi (Setiawan dan Andoko, 2008).

Penanaman

Menurut Setiawan dan Andoko (2008), tanaman karet dapat ditanam secara monokultur maupun tumpangsari.

a. Monokultur

Penanaman karet secara monokultur bisa menggunakan jarak tanam berbentuk segitiga atau tidak teratur. Jarak tanam segitiga hanya bias diterapkan di lahan berkontur datar atau mendekati datar. Jarak tanam tidak teratur bisa diterapkan di lahan yang berbukit-bukit.

b. Tumpangsari

Hal pertama yang harus diperhatikan dalam penanaman karet dengan cara tumpangsari adalah jarak tanam jangan telalu rapat agar tidak terjadi persaingan dalam memperebutkan unsur hara. Dalam penanaman dengan cara tumpangsari, tanaman tumpangsari berfungsi sebagai pagar atau mengapit tanaman utama.

Perawatan

Tanaman yang belum berproduksi sering disebut dengan komposisi yaitu tanaman berumur 1-4 tahun. Perawatan tanaman karet belum berproduksi meliputi penyulaman, penyiangan, pemupukan, seleksi dan penjarangan, serta pemeliharaan tanaman penutup tanah.

Setelah menginjak umur lima tahun atau mulai disadap, tanaman karet sering disebut dengan komposisi II. Perawatan tanaman selama masa produksi dimaksudkan agar kondisi tanaman dalam keadaan baik, produksinya dapat meningkat, dan masa produktifnya semakin panjang. Perawatan tanaman pada masa produksi ini hanya meliputi penyiangan dan pemupukan (Setiawan dan Andoko, 2008).

Hama dan Penyakit

Menurut Setiawan dan Andoko (2008), hama yang menyerang tanaman karet terbagi dalam dua fase.


  1. Hama pada fase pembibitan: tikus, belalang, siput, dan uret tanah.
  2. Hama pada fase penanaman sampai produksi: rayap, kutu, tungau, babi hutan, rusa dan kijang, tapir, monyet, tupai, dan gajah.


Penyakit tanaman karet menyerang dari wilayah akar, batang, bidang sadap, hingga daun. Penyakit yang menyerang akar adalah penyakit akar putih dan penyakit akar merah. Penyakit yang menyerang batang antara lain jamur upas, kanker bercak, dan busuk pangkal batang. Penyakit yang menyerang bidang sadap yaitu kanker garis, mouldy rot, dan brown blast. Penyakit yang menyerang daun antara lain embUn tepung, colletotrichum, phytophthora, corynespora, dan helminthosporium (Setiawan dan Andoko, 2008).

Penyadapan

Penyadapan adalah kegiatan pemutusan atau pelukaan pembuluh lateks di kulit pohon, sehingga dari Iuka tersebut akan keluar lateks. Pembuluh lateks yang terputus atau terluka tersebut akan pulih kembali, sehingga jika dilakukan penyadapan untuk kedua kalinya tetap akan mengeluarkan lateks.

Kriteria umum untuk menentukan tanaman karet sudah matang sadap atau belum adalah dengan melihat umurnya. Umur tanaman karet yang telah matang sadap adalah lima tahun, dengan catatan tanaman berada di lingkungan yang sesuai dan pertumbuhannya normal. Kriteria lain adalah dengan melihat ukuran lingkar pohon atau lilit batang. Jika lilit batang sudah mencapai 45 cm yang diukur pada jarak 100 cm dari pertautan okulasi, pohon karet sudah masuk kriteria matang sadap (Setiawan dan Andoko, 2008).

No comments:

Post a comment