Wednesday, 28 August 2019

Tinjauan Umum Tanaman Pisang

Tinjauan Umum Tanaman Pisang


Tanaman pisang (Musa paradisiaca L.) bukan merupakan tanaman asli Indonesia, tetapi merupakan tanaman pendatang. Sentra aslinya adalah Asia Tenggara, kini tanaman pisang tersebar luas ke seluruh dunia, termasuk Indonesia (Sunarjono, 1990). Tanaman pisang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat luas untuk berbagai macam keperluan hidup. Selain buahnya, bagian tumbuhan lainnya mulai dari akar sampai dengan daunnya banyak dimanfaatkan orang untuk berbagai keperluan (Cahyono, 1995).


Menurut Rukmana (1999) kedudukan tanaman pisang dalam sistematika tumbuhan dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Divisi: Spermatophyta; Sub divisi: Angiospermae; Kelas: Monocotyledonae; Ordo: Scitaminae; Famili: Musaceae; Sub famili: Muscoideae; Genus: Musa; Spesies: Musa paradisiaca L.

Morfologi Tanaman Pisang

Pohon pisang berakar rimpang dan tidak mempunyai akar tunggang. Akar ini berpangkal pada umbi batang. Akar terbanyak berada di bagian bawah tanah. Akar ini tumbuh menuju ke bawah sampai kedalaman 75-150 cm, sedangkan akar yang berada di bagian samping umbi batang tumbuh ke samping atau mendatar, dalam perkembangan akar bisa mencapai 4-5 m (Satuhu dan Supriyadi, 2003).

Batang pisang dibedakan atas dua macam, yaitu batang asli/bonggol (corm) dan batang palsu/batang semu. Bonggol terletak di bawah permukaan tanah dan mempunyai beberapa mata sebagai cikal bakal anakan dan merupakan tempat melekatnya akar. Batang semu bersusun dari pelepah-pelepah daun yang saling menutupi, tumbuh tegak diatas permukaan tanah (Rukmana, 1999). Bagian atas umbi batang terdapat titik tumbuh yang menghasilkan daun dan pada suatu saat akan tumbuh bunga pisang (jantung). Tinggi batang semu ini berkisar 3,5-7,5 m tergantung jenisnya (Satuhu dan Supriyadi, 2003).

Daun pisang umumnya berbentuk panjang lonjong dengan lebar tidak sama, bagian ujung daun dan tepinya rata. Letak daun terpencar dan tersusun dalam tangkai berukuran relatif panjang dengan helaian daun yang mudah robek (Rukmana, 1999).

Bunga pisang berumah satu dalam tandan. Daun pelindung bunga berwarna merah tua, berlilin dan mudah rontok dengan panjang 10-25 cm. Bunga betina berada di bawah bunga jantan (Satuhu dan Supriyadi, 2003). Rangkaian bunga membentuk buah yang disebut satu sisir. Umumnya rangkaian bunga hanya ditumbuhkan sampai 15 sisir sebab makin banyak sisir mengakibatkan buah tidak tumbuh optimal (Suhardiman, 2004).

Ukuran buah pisang bervariasi, panjangnya berkisar antar 10-18 cm dan diameter sekitar 2,5-4,5 cm. Buah berlinggur 3-5 alur, bengkok dan ujung meruncing dan membentuk leher botol. Daging buah (mesocarpa) tebal dan lunak. Kulit buah (epicarpa) yang masih muda berwarna hijau, namun setelah tua (matang) berubah menjadi kuning dan strukturnya tebal sampai tipis (Rukmana, 1999).

Karakteristik Buah Pisang

Pisang Kepok

Pisang kepok di Filipina dikenal dengan nama pisang saba, sedangkan di Malaysia disebut pisang nipah. Jenis pisang ini termasuk dalam tipe ABB. Batang besar, kekar, tinggi 3-3,5 m dan warna hijau muda (Sunarjono, 2002).

Bentuk buah agak pipih sehingga kadang disebut pisang gepeng. Beratnya per tandan dapat mencapai 14-22 kg dengan jumlah sisir 10-16. Setiap sisir terdiri dari 12-20 buah Satuhu dan Supriyadi, 2003). Pisang kepok yang lebih di kenal adalah pisang kepok putih dan pisang kepok kuning. Daging buah pisang kepok putih berwarna putih dan daging buah pisang kepok kuning berwarna kuning. Daging buah bertekstur agak keras. Pisang kepok kuning rasanya manis dan lebih enak daripada pisang kepok putih. Kulit buah sangat tebal, dan pada huah yang sudah masak berwarna hijau-kekuningan (Cahyono, 1995).

Pisang Ambon

Jenis pisang ini termasuk tipe AAA (Sunarjono, 2002). Kulit buah berwarna hijau walaupun sudah matang, tetapi pada kondisi sangat matang kulit berwarna hijau kekuningan dengan bercak-bercak coklat kehitaman (Cahyono, 1995). Daging buah berwarna putih kemerahan dan lunak. Rasanya manis, enak dan aromanya kuat. Berat per tandan mencapai 15-18 kg dengan jumlah sisir 8-12. Setiap sisir kurang lehih 20 buah. Ukuran buah 15-20 cm dengan diameter 3-3,5 mm. Buah berbentuk melengkung dengan ujung tumpul (Satuhu dan Supriyadi, 2003).

Pisang Mauli

Kelompok pisang ini biasanya dikonsumsi segar. Golongan pisang ini termasuk tipe AA (Sunarjono, 2002). Pisang mauli mempunyai pohon yang kecil, langsing, tinggi 2.0-2.5 m, lingkar batang 25-35 cm, warna hijau pucat atau kemerah-merahan. Daun berukuran kecil, panjang 1.8-2.0 m, berwarna hijau dengan tangkai daun kadang-kadang merah muda. Tandan buah kecil pendek (1.5-1.7 m), berbulu halus, merunduk, dengan 4-8 sisir. Buah kecil langsing, panjang 10 cm, berkulit tipis, warna daging putih atau kekuning-kuningan, kurang manis dan agak lembek (Rukmana, 1999). Panjang tandan 40-60 cm dengan berat 8-12 kg. Setiap tandan terdiri dari 5-10 sisiran dan setiap sisiran ada 13-18 buah (Sunarjono, 2002).

Pisang Raja

Golongan pisang ini termasuk tipe AAB. Tinggi batang 2,0-2,6 m. Panjang tandan 40-50 cm dengan berat 6-15 kg (Sunarjono, 2002). Pisang jenis ini tangkai buahnya terdiri atas 6-8 sisir yang masing-masing terdiri 11-15 buah. Berat satu buah pisang sekitar 92 g dengan panjang 12-18 cm. Bentuk buahnya melengkung, dengan bagian pangkal bulat. Lama tanaman berbunga sejak anakan adalah 14 bulan. Sedangkan buah masak 164 hari sesudah muncul bunga (Satuhu dan Supriyadi, 2003). Daging buah yang sudah matang berwarna kuning kemerahan, buah dimakan terasa legit dan manis dengan aroma harum. Buahnya cocok untuk hidangan buah segar atau olahan (Cahyono, 1995).

Syarat Tumbuh tanaman

Iklim

Pisang termasuk tanaman yang gampang tumbuh. Tanaman dapat tumbuh di sembarang tempat. Agar produktivtas tanaman optimal, sebaiknya pisang ditanam di dataran rendah. Ketinggian tempat haruslah dibawah 1.000 meter diatas permukaan laut. lkinn yang dikehendaki adalah basah dengan curah hujan merata sepaniang tahun (Satuhu dan Supriyadi. 2003). Pisang yang ditanam di dataran tadah huian memerlukan curah hujan rata-rata 2.000-2.500 mm per tahun. Pada daerah yang beriklim basah sering terjadi stagnasi (penggenangan) air. Genangan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, sebab tanaman mudah terserang penyakit. Tanaman pisang membutuhkan keadaan lingkungan yang ideal dengan suhu udara antara 16-35 °C dengan suhu optimum 27°C. Dibawah suhu 16°C tanaman pisang akan tumbuh kerdil dan tangkai bunga akan muncul terlambat.

Proses fotosintesis tanaman pisang memerlukan sinar matahari secara langsung sepanjang hari (Cahyono, 1995). Tanaman  pisang masih tumbuh produktif di daerah beriklim kering antara 4-5 bulan asal ketersedian air tanah memadai pada ke dalaman 50-200 cm dari permukaan tanah. Daerah dengan iklim basah, air tanahnya dangkal perlu pengelolahan drainase yang baik.

Tanah

Tanah yang cocok untuk pertumbuhan pisang adalah tanah dengan solum (kedalaman tanah) dalam, tidak berbatu-batu, cukup mengandung air, namun tidak tergenang, tanah gembur dan banyak mengandung kadar humus. Jenis tanah yang cocok adalah jenis tanah liat berkapur atau aluvial. Keasaman (pH) tanah harus sesuai dengan pertumbuhan tanaman pisang yakni sekitar 5-7 (Cahyono, 1995).

Tanaman pisang mempunyai sistem perakaran yang dangkal, sehingga pertumbuhan secara optimal membutuhkan lapisan tanah atas (top soil) yang subur dan banyak mengandung bahan organik (Rukmana, 1999). Tanaman pisang dapat ditanam dan tumbuh dengan baik pada berbagai macam keadaan topografi tanah, baik pada tanah datar ataupun pada tanah miring (Cahyono, 1995).

Tuesday, 27 August 2019

Tinjauan Umum Tanaman Padi Sawah

Tinjauan Umum Tanaman Padi Sawah

Padi merupakan tanaman utama penghasil beras yang merupakan bahan makanan pokok sebagian besar rakyat Indonesia. Meskipun sebagai bahan makanan pokok, padi dapat digantikan atau disubstitusikan oleh bahan makanan lainnya, namun padi memiliki tersendiri bagi orang yang biasa makanan nasi dan tidak dapat dengan mudah digantikan oleh bahan makanan yang lain. Tanaman padi (Oryza sativa. L) termasuk dalam famili Graminiae dan spesies Oryza sativa L. Batang,nya terdiri dari ruas-ruas yang dalamnva berongga, dengan tinggi 1,0-1,5 meter. Dari setiap buku batang tumbuh daun yang berbentuk pita dan berpelepah. Tanaman ini mempunyai sifat merumpun yang artinya anak beranak. Dalain satu rumpun terdapat 40-50 batang (Soemartono, dkk. 1983).


Menurut Soedarmo (1991), ada tiga stadia umum proses pertumbuban tanaman padi:


  • Stadia vegetatif yaitu mulai dari perkecambahan sampai terbektuknya bulir . Pada varietas padi yang berumur pendek (120 hari) stadia ini lamanya 55 hari, sedangkan pada varietas umur panjang (150 hari) lamanya sekitar 85 hari.
  • Stadia reproduktif yaitu mulai dari terbentunya bulir sampai pembungaan. Pada varietas berumur pendek lamanya sekitar 35 hari, demikian pula pada varietas umur panjang.
  • Stadia pembentukan gabah atau biji yaitu dari pembungaan sampai pemasakan biji. Lamanya stadia ini sekitar 30 hari, baik untuk varietas umur pendek maupun umur panjang.

Menurut Daryanto (1983), tanaman padi secara garis besar dapat dibedakan atas dua macam, yaitu padi beras dan padi ketan. Menurut cara bertanamnya padi beras dapat dibedakan atas dua macam yaitu padi sawah dan padi kering.

Dalam rangka meningkatkan produktivitas usahatani semaksimal mungkin, maka pemerintah menetapkan program intensifikasi tanaman pangan khususnya padi sawah melalui sistem pasca usaha tani dan kini telah disempurnakan menjadi sapta usahatani.

Sapta usaha tani tersebut meliputi:

1. Pemakaian varietas unggul padi sawah

Varietas unggul padi sawah adalah varietas padi yang karena sifat pembawaannya dapat memberikan hasil yang tinggi pada satuan luas dan waktu. Varietas padi unggul mempunyai sifat-sifat penting yang dimiliki sepelti : daya hasil yang tinggi, berumur pendek, mampu menyerap pupuk dengan sebaik-baiknya dan tahan terhadap hama dan penyakit sena tahan kerebahan. Selain memiliki sifat-sifat tersebut varietas padi unggul perlu mempunyai sifat tambahan yang memenuhi selera petani sepefti : mutu harus baik, rasa nasi enak dan tahan rontok serta mudah merawatnya (Soemantoro, dkk 1984).

2. Cara budidaya tanaman padi

Dalam bercocok tanaman padi sawah terdapat langkah-langkah yang harus di perhatikan dan di laksanakan dengan baik , langkah-langkah tersebut adalah sebagai befikut:

a. Pengolahan tanah

Menurut Sugeng. (2001), pengolahan tanah untuk penanaman padi hatus sudah disiapkan sejak dua bulan sebelum penanaman. Pengolahan dapat dilakukall dengan dua cara yaitu dengan cara tradisional dan cara modern.


  1. Pengolahan tanah sawah dengan cara tradisional, yaitu pengolahan sawah yang dilakukan dengan alat-alat yang sederhana seperti sabit, cangkul, bajak dan garu yang kesemuanya dikerjakan oleh manusia atau dibantu oleh hewan misalnya , kerbau atau sapi.
  2. Pengolahan tanah dengan cara modern yaitu pengolahan sawah yang dilakukan dengan mesin. Dengan traktor dan alat-alat pengolah tanah lainnya.

b. Persemaian

Harus disiapkan sebaik-baiknya agar diperoleh bibit yang baik dan sehat. Tujuan persemaian adalah memberikan keadaan lingkungan yang baik untuk perkecambahan dan penumbuhan awal bagi tanaman padi tersebut (Siregar, 1981).

c. Jarak tanam

Menanam bibit di sawah perlu diatur supaya tidak terjadi persaingan untuk mendapatkan unsur-unsur makanan dan sinar matahari dan juga memudahkan penyiangan. Jarak tanam yang lazim dipakai adalah jarak tanam persegi panjang, dan bujur sangkar misalnya 20x20 cm, 25x25 cm dan 20x30 cm, tergantung pada varietas kesuburan tanah serta musim (Soemartono, dkk. 1984).

d. Jumlah bibit perlubang

Bibit yang telah dicabut dari persemaian boleh ditanam satu atau dua bibit dalam satu lubang dengan kedalaman 3 - 4 cm (Soemartono, dkk. 1984).

e. Penyiangan

Penyiangan dapat dilakukan dengan mencabut rumput satu persatu. Tetapi menyiang tidak hanya mencabut rumput saja, melainkan menggemburkan tanah agar akar tanaman dapat berkembang dengan baik. Penyiangan dapat selesai lebih cepat apabila menggunakan cangkul atau landak (Sugeng. 2001)

3. Pemupukan

Menurut Setyamidjaja (1986), pemupukan dimaksudkan untuk memenuhi unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman. Pemupukan dilaksanakan bila dalam kondisi lapangan tersedia air yang cukup, kondisi iklim baik, gangguan hama atau penyakit dapat diatasi tetapi produksi (hasil panen) rendah.

Untuk mengetahui kebutuhan pupuk bagi tanaman dan tanah perlu dipelajari dua hal yaitu unsur hara apa yang dibutuhkan dan berapa masing-masing unsur hara diperlukan oleh tanaman sehingga diperoleh hasil yang optimal. Pupuk yang sering dipakai adalah Urea, TSP dan KCI.

4. Pengendalian jasad pengganggu

Jasad pengganggu ini meliputi hama dan penyakit yang merusak tanaman padi. Hendaknya jasad pengganggu ini dikendalikan sedemikian rupa, sehingga tidak menimbulkan kerugian berafti.

Menurut (Sugeng. HR. 2001 ), ada beberapa hama dan penyakit dan juga cara pengendaliannya yaitu:

a) Burung

Burung banyak menyerang bulir padi pada saat padi sedang menguning. Oleh karena itu padi harus dijaga, apabila ada burung yang menyerang langsung dihalau.

b) Walang sangit

Walang sangit menyerang bulir padi yang sedang masak susu yaitu dengan jalan mengisap bulir tersebut. Walang sangit dapat dikendalikan dengan menggunakan insektisida atau di sulull (dipasang lampu) sehingga mereka tertarik dan berkumpul pada cahaya lampu tersebut.

c) Tikus

Kerugian yang ditimbulkan karena serangan tikus biasanya amat besar, mereka dapat merusak areal luas dalam waktu yang tidak lama. Tikus dapat dikendalikan dengan memberi umpan ketela, jagung dan sebagainya yang dicampur dengan phospit.

d) Ulat serangga

Serangga-serangga itu betelur pada daun, apabila menetas ulatnya merusak batang dan daun. Cara pengendaliannya harus disemprot dengan 4, pestisida, misalnya: Matador, Furadan, Desis, Lindomin, Hopcyn, dan sebagainya.

5. Pengairan

Menurut Soemartono, cikk. (1984), untuk perlumbuhan tanaman padi sawah banyak sekali membutuhkan air. Maka untuk maksud tersebut bidang sawah yang akan ditanami padi dibuatkan pematang, sehingga air dapat ditampung untuk menggenangi lahan. Meskipun masa perubuhan tanaman lIll memerlukan air namun ada pula masa-masa dimana sawah perlu dikeringkan. Masa mengeringkan ini antara lain : Sebelum bunting untuk mencegah timbulnya tunas-tunas yang tidak mengelttarkan bulir. Pada periode pemasakan bualt, untuk menyeragamkan dan  mempercepat pemasakan buah.

6. Penanganan pasca panen

Waktu panen tergantung dari varietas, iklim dan pemehharaan tanaman. Produksi untuk tujuan konsumsi mempunyai saat panen yang berbeda dengan produksi untuk tujuan keperluan benih. Pentanenan dengan tujuan konsumsi dilakukan jika selunth gabah tampak kuning hanya bultt-bulti sebelah atas masih hijau, isi gabah keras, tetapi mudah dipecahkan. Gabah untuk keperluan benih di panen pada stadia masak penuh, yang mana pada stadia ini buku-buku bagian atas berwarna kuning dan isi gabah sudah dipecahkan.

Padi yang telah dipanen akan mengalami perlakuan : perontokan, pembersihan, pengeringan dan penggilingan. Pengolahan padi bertujuan untuk mempersiapkan dan mengubah padi menjadi beras (Soemartono, dkk. 1984).

7. Pemasaran

Menurut Soemartono, dkk. (1984), peningkatan produksi padi akan berlangsung secara terus-menerus bilamana ada pemasaran. Untuk menjamin kelangsungan produksi padi diperlukan langkah berbagai bidang diantaranya bidang pengangkutan, penyimpanan dan pengolahan dan pembiayaan.

Tinjauan Umum Tanaman Pepaya


Tinjauan Umum Tanaman Pepaya

Sejarah Tanaman Pepaya

Tanaman pepaya (Carica papaya L.) berasal dari Amerika Tengah. Para Pedagang Spanyol berjasa dalam menyebar luaskan tanaman pepaya dari kawasan Amerika ke berbagai negara di dunia. Daerah pusat penyebaran tanaman ini di antaranya adalah Florida, Hawai, India, Afrika Selatan, dan Australia. Dalam perkembangan selanjutnya, budidaya tanaman pepaya telah menyebar luas di negara-negara yang telah dikenal daerah pertaniannya, baik daerah (negara) yang beriklim tropis maupun sub-tropis.


Salah satu petunjuk yang memperjelas bahwa tanaman pepaya mulai ditanarn di Indonesia pada abad ke-20 adalah rintisan Direktorat Pengembangan Produksi Pertanian Departemen Pertanian (dulu dikenal dengan nama Jawatan Perkebunan Rakyat) yang mendatangkan pepaya jenis semangka dari luar negeri sekitar tahun 1925-1930. Sejak tahun 1930 penanaman pertamanya telah menyebar luas di pulau Jawa. Saat ini tanaman pepaya telah dikembangkan dan ditanam 26 provinsi mulai meluas di provinsi Nusa Tenggra Timur (Nro, Sumatera Utara dan Selatan.

Botani Tanaman Pepaya

Kedudukkan tanaman dalam sistematik diklasifikan sebagai berikut:

Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Bangsa : Brassicales
Suku : Caricaceae
Marga : Carica
Jenis : Carica papaya L.

Jenis Pepaya

Bentuk buah yang diketemukan di alam, pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua jenis pepaya, yaitu:

  1. Daging buahnya tebal, berwarna merah mirip daging buah semangka, dan citarasanya manis.
  2. Termasuk ke jenis semangka antara lain Pepaya Jinggo, Cibinong Bangkok Hortus Gold


Syarat Tumbuh Tanaman Pcpaya

Daerah yang paling optimum untuk pengembangan budidaya tanaman pepaya adalah ketinggian 600-700 m dpl, suhu udaranya berkisar antara 22-260 C, perlu sinar matahari penuh (tempat terbuka), curah hujan antar 1 (KX)-I mm tahun-i, dan iklimnya basah, Tanaman pepaya ideal ditanam pada tanah Latosol dan tanah-tanah yang subur, gembur banyak mengandung bahan organik (humus), tata udara dan tata (aeru dan drainase) tanahnya baik, dengan pH tanah sckltar 6-7.

Budidaya Tanaman pepaya

Penyiapan Bahan Tanaman 

Biji dapat diperoleh dari toko-toko produksi pertanian ataupun hasil karya pembenihan sendiri, Untuk lahan seluas satu hektar memerlukan  pupuk urea ± 250 g.

Penyiapan lahan (Pengolahan Tanah)

Lahan untuk kebun tanahnya dicangkul atau dibajak sampai gembur sambil membuang rumput-rumput liar (gulma). Kemudian buat bedengan-bedenan dengan lebar 200 atau 250 cm, tinggi 20 cm dan untuk panjang bedengan disesuaikan dengan keadaan tanah jarak antara bedengan kurang lebih 50 cm setelah itu, dibuat lubang tanam yang berukuran 50 X 50 X 40 cm, kemudian biarkan 1-2 minggu Pengolahan tanah dapat memberikan keuntungan karena dapat memperbaiki drainase tanah pada lahan-lahan yang air tanahnya dangkal, dapat melakukan sela diantara pohon pepaya sebelum menghasilkan dan dapat meningkatkan kegemburan tanah.

Penanaman Pepaya

Penanaman dilakukan dengan dua cara, yaitu:

  1. Menanam tanaman  muda (bibit) yang dipindahkan dari persemaian ke lapangan, bibit dari polybag bersama tanah dan akar-akarnya.
  2. Menanam benih langsung di kebun biasanya di praktekkan bila kita tidak mengetahui asal-usul biji papaya. Penanaman benih ataupun bibit pepaya sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari agar penguapan dan suhu udara tidak terlalu tinggi.

Pemeliharan Tanaman Pepaya

  1. Penyiraman (pengairan), pada awal pertumbuhan penyiraman secara rutin 1-2 hari sekali, kemudian setelah tanaman dewasa secara beransur-angsur kegiatan ini dlkurangi. Waktu sebaiknya pagi atau sore hari, disiram menggunakan alat embrat (gembor). dilakukan denæn mencabut rumput liar (gulma) dengan tangan (manual) atau menggunakan cangkul harus secara hati-hati agar tidak merusak akrnya.
  2. Pemupukkan, dilakukan secara rutin dan bertahap baik pupuk kandang maupun pupuk buatan. Waktu pemupukkan disesuaikan dengan umur tanaman dan bentuk kultur penanamannya.
  3. Perlindungan tanaman, dilakukan dan dianjurkan adalah pengendalian hama dan penyakit secara terpadu.

Panen Tanaman Pepaya

Panen perdana buah pepaya dapat diakukan pada umur 9-11 bulan setelah pindah tanam, atau tergantung kultivar (varietas) yang ditanam. Waktu panen yang tepat ditentukan oleh ciri-ciri sebagai Penampakkan visual warna buah telah menunjukkan 0/4 dari bagian buah berwarna kekuning-kuningan. Getahnya encer dan berwarna bening Tangkai buah mulai menguning atau terdapat garis-garis kuningpada ujtmg buah-buah telah mencapai ukuran maksimal dan biasanya posisi mulai dari bawah di antara buah-buahan yang ada pada Pohon pepaya yang masih pendek, cara panen buah dipetik dengan tangan. Usahakan agar buah jangan sampai terluka atau memar, karena bagian yang terluka akan merangsang (memudahkan) terjadinya pada saat dan pengangkutan.

Tanaman berikutnya dapat dilakukan secara rutin setiap 5-7 hari sekali atau tergantung kematangan buah, permintaan pasar (konsumen), dan tujuan penggunaan (pemanfaatan) produksi. Untuk bahan baku pengolahan manisan saat panen yang tepat adalah pada stadium buah belum matang atau mengkal.

Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu

Beberapa komponen yang dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Secara kultur teknis, meliputi pergiliran tanaman yang baik, menjaga kebersihan kebun, sesuai dosis, pengolahan tanah yang baik, pengairan yang baik.
  2. Secara mekanik atau fisik, meliputi pengumpulan hama, kemudian dibunuh (dimusnahkan). Secara Kimiawi menggunakan pestisida secara selektif.


Monday, 26 August 2019

Klasifikasi dan Morfologi Bekicot

Klasifikasi dan Morfologi Bekicot

Bekicot dengan nama latin Achatina fulica merupakan hewan moluska atau juga siput darat. Asal bekicot dari Afrika Timur. Dulu bekicot merupakan salah satu hewan perdagangan yang akhirnya menyebar luas hampir keseluruh belahan dunia dan menjadi hewan yang merugikan.


Seperti penjajah, moluska ini sudah menginvasif hampir keseluruh penjuru wilayah dunia dan menyerang lahan-lahan pertanian serta sangat merugikan.

Sehingga hewan ini dibeberapa negara sudah dilarang untuk dipelihara atau dijadikan hewan kesayangan.

Beberapa negara menjadikan bekicot sebagai bahan konsumsi yang sangat lejzat. Seperti Prancis, bekicot jenis escargots dijadikan kuliner kelas restoran dan menjadi menu special. Oleh masyarakat prancis. Di restoran Prancis menu dari bekicot merupakan sebuah simbol bahwa restoran tersebut yang dianggap mewah.

Oleh petani bekicot dianggap hama penting dan berbahaya. Berkembangbiak dengan cepat dan menginvasif lahan-lahan pertanian dengan cepat dan sangat merusak. Bekicot lebih banyak muncul pada saat musim hujan.

Bagi sebagian orang bekicot merupakan hewan moluska yang menjijikan terutama kaum wanita karena mengandung banyak lendir.

Klasifikasi Bekicot

Kingdom: Animalia
Filum: Mollusca
Kelas: Gastropoda
Ordo: Sytromatophora
Famili: Achatinidae
Genus: Achatina
Spesies: Achatina fulica

Morfologi Bekicot

Tubuh bekicot sangat lunak serta tidak memiliki tulang belakang. Tubuhnya yang lunak dilindungi oleh cangkang yang cukup keras. Cakang bekicot terbuat dari bahan kapue dan terdapat lapisan mutiara di dalamnya.

Cangkang bekicot berbentuk fosiform di bagian dalamya berpilin spiral. Cangkang berwarna coklat bergaris coklat hingga coklat gelap pada bagian permukaan.
Memiliki alat indra berjumlah 4 yaitu: mata, tentakel, ospharaduia dan statocyt.

Tidak memiliki kaki, bekicot berjalan menggunakan perut yang dibantu dengan lendirnya.

Sunday, 25 August 2019

Pengaruh Pupuk Daun Terhadap Tanaman


Pengaruh Pupuk Daun Terhadap Tanaman

Menurut Harjadi (1983), pemupukan adalah bahan yang diberikan ke dalam tanah atau disemprotkan ke bagian tanaman dalam bentuk cairan atau larutan dengan maksud menambah unsur hara pada tanaman. Ditambahkan oleh Sarief (1985), pemupukan adalah setiap usaha yang bertujuan untuk peningkatan produksi dan mutu hasil tanaman.


Menurut Lingga dan Marsono (1986), pupuk daun termasuk pupuk anorganik yang pemberiannya langsung ke tanaman dengan menyemprotkannya ke daun. Salah satu kelebihan yang paling mencolok dari pupuk daun, yaitu proses penyerapan nutrisi lebih cepat dibanding pupuk yang diberikan lewat akar, sehingga tanaman akan lebih cepat menumbuhkan tunas. Oleh karena itu pemupukan lewat daun pada tanaman tertentu dipandang lebih berhasil disbanding lewat akar. Ditambahkan oleh Hartus (2002), selain mengandung unsur hara makro, pupuk daun juga mengandung unsur hara mikro yang dibutuhkan tanaman.

Akhir-akhir ini semakin banyak beredar pupuk daun yang mengandung unsur hara makro dan mikro, dengan berbagai macam merek dagang diantaranya :

a. Seprint

Mengandung unsur hara N 9,60 %, K2O 2,11 %, P2O5 0,67 %, Ca 0,04 %, Mg 0,29 %, Si 0,14 %, A12O3 0,082 %, SO4 0,35 % dan Fe2O3 0,018 %.

b. Petrovita

Mengandung unsur hara N 10 %, K20 6 %, P2O5 5 %, S 1 %, Mg 0,0262 %, Fe 0,0277 %, Zn 0,0055 %, cu 0,0224 %, Mn 0,0125 %, Mo 0,0010 %, B 0,0075 %, dan Co 0,0005 %.

c. Gandasil-D

Mengandung unsur hara 20 % N, 15 %, K2O, 15 % P2O5, 1 % MgSO4 dilengkapi dengan unsur Mn, B, Cu, Co, Fe, Zn.

Menurut Sutiyoso (2003b), masing-masing peranan terdapat dalam pupuk tersebut adalah sebagai berikut :

Nitrogen (N)

Nitrogen berperan untuk merangsang pertumbuhan unsur hara tanaman yang secara keseluruhan, khususnya batang, cabang dan daun, serta berperan penting dalam hal pembentukan klorofil (zat hijau daun) yang berguna dalam proses fotosintesis. Peran lain adalah membentuk protein, lemak dan berbagai persenyawaan organik lainnya. Kekurangan nitrogen mengakibatkan tanaman tumbuh kerdil dan menjadi hijau kekuningan yang tampak pada daun bagian bawah terus kebagian atas, selanjutnya warna berubah menjadi cokelat dan mati.

Fospor (P)

Berperan untuk merangsang pertumbuhan akar, membantu asimilasi dan pernafasan sekaligus mempercepat pembungaan, pemasakan biji dan buah. Kekurangan fosfor mengakibatkan tepi-tepi daun, cabang dan batang bewarna merah keungu-unguan dan perakaran tanaman sangat kurang dan tidak berkembang.

Kalium (K)

Berperan untuk membantu pembentukan protein dan karbohidrat, memperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga dan buah tidak mudah gugur serta sebagai sumber kekuatan bagi tanaman menghadapi kekeringan dan penyakit. Kekuranagn kalium menyebabkan bercak-bercak atau keriput pada daun, tanaman menjadi kerdil dan tanaman mudah patah serta rebah.

Sulfur (S)/Belerang

Berperan penting dalam sintesis protein dan dalam pembentukan klorofil. Sulfur dibutuhkan tanaman terutama tanaman-tanaman muda pada awal pertumbuhan dan perkembangannya, unsur inipun membantu untuk pertumbuhan anakan.

Kalsium (Ca)

Ikut berperan dalam pembentukan dinding sel, berguna bagi tanaman untuk pertumbuhan ujung dan bulu-bulu akar, dan mempengaruhi kecepatan pertumbuhan. Sehingga apabila kekurangan unsur ini, maka pertumbuhan perakaran kurang berkembang, ujung akar lemah, daun mengalami malformasi (bentuk buruk), dan ujung daun berlekuk kebawah.

Magnesium (Mg)

Magnesium diperlukan bagi tanaman untuk pembentukan klorofil atau butir hijau daun, membentuk karbohidrat dan lemak. Kekurangan unsur magnesium ini menyebabkan daun berbercak kuning atau khlorosis yang tampak pada permukaan daun sebelah bawah.

Boron (Bo)

Boron berperan sebagai unsur yang bertugas sebagai transportasi karbohidrat dalam tubuh tanaman dan untuk perkembangan bagian-bagian tanaman yang tumbuh aktif. kekurangan boron mengakibatkan daun seperti hangus, bertotol serta berubah warna, meristem/titik tumbuh mengalami distorsi dan akhirnya mati, terjadi malformasi (salah bentuk) pada buah.

Zincum (Zn) atau Seng

Peranan unsur seng adalah memberikan dorongan terhadap pertumbuhan tanaman, karena unsur seng berfungsi untuk membantu pembentukan hormone tumbuh. Kekurangan seng mengakibatkan warna daun kekuningan sampai kemerahan terutama pada daun yang agak tua dan juga akan berlubang-lubang dan akhirnya mengering.

Cuprum (Cu) / Tembaga

Berperan sebagai bahan pembentuk klorofil, membantu metabolisme protein dan karbohidrat, dan berperan dalam fungsi reproduksi seperti pembentukan benih. Kekurangan unsur tembaga menyebabkan daun bewarna hijau kebiruan, melintir dan berbentuk tidak beraturan, titik tumbuh (meristem) pucuk terhenti dan ujung daun muda bertepi menguning.

Ferrum (Fe) / Besi

Besi berperan sebagai katalisator atau koenzim yang berhubungan dengan pembentukan klorofil, terlibat dalam sintesis protein dan juga pertumbuhan meristem atau titik tumbuh ujung akar. Keberadaannya sangat diperlukan untuk aktifitas oksigen. Gejala kekurangan unsur besi tampak pada daun muda yang khlorosis atau menguning diantara tulang daun, sedangkan tulang daunnya masih tetap hijau.

Mangan (Mn)

Mangan digunakan oleh tanaman untuk pembentukan protein dan vitamin. Selain itu, Mn berperan penting dalam mempertahankan kondisi hijau daun pada daun yang tua. Peran mangan juga hampir sama dengan unsur besi yaitu untuk memperlancar proses asimilasi dan komponen penting dalam berbagai enzim.

Molibdenum (Mo)

Unsur ini berguna untuk fiksasi nitrogen dari udara, dan merupakan komponen sistem enzim yang mengubah nitrat menjadi amonium. Gejala kekurangan unsur ini dapat dilihat pada daun yang menggulung, terkadang tepi daun menjadi gosong atau daun tertekuk ke bawah serta pertumbuhan dan pembungaan terhambat.

Kobalt (Co)

Berperan dalam membantu sistem transportasi elektron dalam proses fotosintesis, menjadi bagian dari beberapa enzim yang mengatur sitkrom, asam askorbik dan polifeno (polyphenol). Kekurangan unsur ini berpengaruh pada sistem jaringan pengangkut di pangkal batang sehingga kerusakan yang terjadi menyebabkan angkutan air terhambat dengan gejala melayu.

Tinjauan Umum Tanaman Jati


Tinjauan Umum Tanaman Jati

Tanaman Jati merupakan tanaman tropika dan subtropika yang sejak abad ke-9 telah dikenal sebagai pohon yang memiliki kualitas tinggi dan bernilai jual tinggi. Di Indonesia, Jati digolongkan sebagai kayu mewah dan memiliki kelas awet tinggi yang tahan gangguan rayap serta jamur dan awet (mampu bertahan hingga 500 tahun). Adapun klasifikasi, ciri morfologi, maupun seluk beluk mengenai Jati yaitu sebagai berikut:


Klasifikasi Jati

Tanaman Jati yang tumbuh di Indonesia berasal dari India. Tanaman ini mempunyai nama ilmiah Tectona grandis Linn.f. Secara historis, nama Tectona berasal dari bahasa portugis (Tekton) yang berarti tumbuhan yang memiliki kualitas tinggi di negara asalnya.

Dalam sistem klasifikasi, tanaman jati mempunyai penggolongan sebagai berikut:

Divisi : Spermatophyta
Kelas : Angiospermae
Sub Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Verbenaceae
Famili : Verbenaceae
Genus : Tectona
Spesies : Tectona grandis Linn. f

Ciri Morfologi Jati

Secara morfologis, tanaman jati memiliki tinggi yang dapat mencapai sekitar 30-45 meter.Dengan pemangkasan, batang yang bebas cabang dapat mencapai antara 15-20 cm. Diameter batang dapat. mencapai 220 cm. Kulit kayu berwarna kecoklatan atau abu-abu yang mudah terkelupas. Pangkal batang berakar papan pendek dan bercabang sekitar 4. Daun berbentuk opposite (bentuk jantung membulat dengan ujung meruncing), berukuran panjang 20-50 cm dan lebar 15-40 cm, permukaannya berbulu.

Daun muda (petiola) berwarna hijau kecoklatan, sedangkan daun tua berwarna hijau tua keabu-abuan. Bunga Jati bersifat majemuk yang terbentuk dalam malai bunga (inflorence) yang tumbuh di ujung atau tepi cabang Panjang malai antara 60-90 cm dan lebar antara 10-30 cm (Yana Sumarna, 2001).

Pertumbuhan jati

Epikotil akan tumbuh tegak menghasilkan organ batang dan pada ujung batang akan menghasilkan daun muda dengan bentuk membulat dan berwarna hijau atau kemerahan.
Tanaman jati tergolong tanaman yang menggugurkan daun (deciduous) pada saat musim kemarau, antara bulan November hingga Januari. Setelah daun gugur, daun akan tumbuh lagi pada bulan Januari atau Maret. Tumbuhnya daun ini secara umum ditentukan oleh kondisi musim.

Sifat-Sifat Umum Jati

Tanaman jati yang tumbuh di alam dapat mencapai diameter 220 cm. Namun, umumnya jati dengan diameter 50 cm sudah ditebang karena banyaknya permintaan. Bentuk batang tidak teratur serta beralun. Warna kayu teras (bagian tengah) cokelat muda, cokelat-merah tua atau merah cokelat. Sedangkan warna kayu gubal (bagian luar teras hingga kulit) putih atau kelabu kekuningan. Tekstur kayu agak kasar dan tidak merata, Arah serat lurus dan agak terpadu. Permukaan kayu licin agak berminyak dan memiliki gambaran yang indah.

Kambium kayu jati memiliki sel-sel yang menghasilkan perpanjangan vertikal dan horisontal, dimulai dengan berkembangnya inti sel berbentuk oval secara memanjang, kemudian akan membelah menjadi dua sel dan seterusnya (Hananu Simon, 1993).

Aklimatisasi dan Nurseri Anggrek


Aklimatisasi dan Nurseri Anggrek

Aklimatisasi adalah adaptasi iklim dari suatu organisme. Pada tanaman yang dipindahkan ke lingkungan yang baru, penyesuaian ini ditujukan terutama terhadap cahaya dan kelembaban serta suhu lingkungan sekitarnya. Tujuan aklimatisasi untuk mempersiapkan tanaman untuk dapat hidup di lingkungan yang baru. Perubahan lingkungan selama aklimatisasi mempengaruhi anatomi dan fisiologi tanaman (Sutarni dan Moeso, 1990).


Aklimatisasi merupakan periode paling kritis dalam perbanyakan secara kultur in vitro karena merupakan peralihan dari heterotrof atau organisme yang kebutuhan makanannya tergantung dari bahan organik ke autotrof yaitu organism yang dapat membuat makanan dari zat-zat anorganik.

Menurut Wetherel (1982), biasanya planlet yang dipindahkan dari kultur in vitro ke dalam pot pemeliharaannya selama masa peralihan lebih peka terhadap cahaya yang kuat, kekurangan air dan hama serta penyakit. Pada awal aklimatisasi tanaman ditaruh dalam wadah-wadah yang lembab dan pada tempat-tempat yang terlindung cahaya selama beberapa minggu, dan digunakan sungkup plastik untuk mempertahankan kelembaban tinggi pada lingkungan sekeliling tanaman, karena hal tersebut sangat dibutuhkan oleh tanaman yang masih lemah. Agar tanaman makin kuat, intensitas cahaya perlu dinaikkan dan kelembaban diturunkan, keduanya dilakukan secara bertahap. Tahap ini harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari kerugian akibat kematian tanaman.

Setelah melalui proses aklimatisasi bibit tanaman perlu dipindahkan ke nurseri (pembibitan tanaman) agar tanaman dapat tumbuh lebih baik. Dalam nurseri dilakukan pemeliharaan pada bibit tanaman anggrek seperti halnya tanaman konvensional lainnya, sehingga cukup kuat dan tegar untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan luar. Pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan meliputi penyiraman, pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit (Sutarni dan Moeso, 1990).


Kelembaban merupakan persyaratan tumbuh yang sangat dibutuhkan oleh tanaman anggreke Oleh karena itu penyiraman perlu dilakukan dengan frekuensi yang tidak terlalu sering, artianya diusahakan agar tanaman tidak terlalu kering dan tidak terlalu basah, karena air yang berlebihan dapat menyebabkan kebusukan pada akar dan daun, serta dapat mengundang hama dan penyakit. Selain itu pemupukan juga menentukan keberhasilan pada pembibitan tanaman anggrek.

Pada masa vegetatif, tanaman anggrek membutuhkan pupuk yang mengandung unsur nitrogen yang tinggi, dengan kadar unsur fosfor dan kalium yang seimbang serta mengandung unsur mikro yang lengkap (Widastoety, 2003b).

Saturday, 24 August 2019

Klasifikasi dan Morfologi Salak (Salacca zalacca (Gaertn.) Voss

Klasifikasi dan Morfologi Salak (Salacca zalacca (Gaertn.) Voss


Salak merupakan tanaman yang masih berkeluarga dengan tanaman palma. Salak memiliki nama latin atau ilmiah yaitu Salacca zalacca yang diperkirakan berasal dari Malaysia, Thailand, dan Indonesia.


Di luar Indonesia buah salak ini sering kali dijuluki sanke fruit karena kulitnya yang menyerupai sisik ular. Di Jawa bagian barat daya dan Sumatera tanaman salak begitu banyak populasinya. Hingga menyebar ke Mulucca, Papua New Guinea, Filipina, kepulauan Fiji dan Queensland (Australia).

Di Indonesia tanaman salak sudah dibudidayakan dan tersebar di daerah-daerah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I.Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku, Bali, NTB lan Kalimantan Barat.

Oleh masyarakat lokal, buah salak sering dihidangkan menjadi buah meja. Buah salak juga dapat diolah menjadi produk makanan seperti manisan buah salak dan buah kaleng. Buah salak memiliki rasa yang asam manis gurih dan segar.

Klasifikasi buah salak

Kerajaan : Plantae
Divisi :Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Arecales
Famili : Arecaceae
Genus : Salacca
Spesies : Salacca edilus reinw dan Salacca zalacca

Morfologi buah salak

Akar salak

Tanaman salak tumbuh dengan perakaran serabut yang sangat banyak dan kuat. Akar serabut tanaman salak tumbuh ke dalam tanah begitu dangkal hanya mencapai ke dalam 10-50 cm. Akar salak berfungsi sebagai alat penyerapan unsur hara dan air serta sebagai penopang tubuhnya bagi tanaman itu sendiri.

Batang salak

Tanaman salak juga memiliki batang namun tidak terlihat secara jelas karena tertutup oleh banyaknya daun. Batang diselimuti oleh banyaknya duri tajam sebagai alat pertahanan diri dari gangguan organisme lain. Warna batang hijau dan dibagian dalamnya berwarna putih. Batang salak membentuk rimpang yang tumbuhnya menjalar ke bawah.

Daun salak

Tipe daun salak adalah majemuk menyirip dengan panjangnya berkisar 3-7 meter. Daun juga memiliki tulang daun primer yang kuat seperti daun kelapa yang dijadikan sapu lidi.

Bunga salak

Di dalam satu tanaman salak memiliki tiga macam bunga yaitu bunga jantan, bunga betina, dan bunga sempurna. Pada bunga betina dilapisin seludang yang bertangkai pendek sedangkan bunga jantan dilapisi seludang yang bertangkai panjang.

Warna bunga jantan coklat dan tumbuh berkelompok dan terdiri dari 4-12 malai. Sedangkan warna bunga betina adalah hijau berbintik merah serta memiliki petal.
Bunga salak tumbuh dari ketiak pelepah daun. Proses pembuahan bunga tanaman salak dengan cara penyerbukan silang yang dibantu oleh serangga (Curculinoid sp) atau kumbang moncong.

Buah salak 

Buah salak berbentuk bulat kerucut dengan dibungkus kulit menyerupai sisik ular dan berwarna coklat muda sampai tua. Kulit yang menyerupai ular inilah oleh sebagian masyarakat barat disebut snake fruit atau buah ular.

Buah salak memiliki jumlah biji 3-4 yang daging buahnya berwarna putih. Di dalamnya terdapat biji yang keras berwrana coklat. Buah salak juga dilapisi selaput bening transparan yang tidak tembus air namun tembus cahaya.

Buah salak memiliki rasa yang unik asam manis segar dan gurih. Di Indonesia buah salak yang terkenal lezatnya adalah salak pondoh.

Tinjauan Umum Tanaman Anggrek

Tinjauan Umum Tanaman Anggrek


Pada umumnya tanaman anggrek berasal dari daerah tropika basah, oleh karena itu penyebarannya juga terdapat di daerah hutan hujan tropik basah seperti Amerika Selatan, Amerika Tengah, Meksiko, India, Indonesia, Srilangka, Thailand dan Malaysia (Ashari, 1995).


Menurut Lestari (1985), berdasarkan sistematika tumbuhan, tanaman anggrek Dendrobium sp. diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Orchidales
Famili : Orchidaceae
Subfamili : Epidendroideae
Suku : Epidendreae
Subsuku : Dendrobiinae
Genus : Dendrobium
Spesies : D. macrophyllum, D. canaliculatum, D. lineale, D. bifalce, D. Secundum.

Tanaman anggrek berdasarkan sifat tumbuhnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu anggrek efifit dan anggrek teresterial. Anggrek efifit, yaitu anggrek yang tumbuhnya menopang pada tanaman lain, namun tidak merugikan tanaman yang ditumpanginya. Golongan anggrek efifit antara lain genus Aerides, Angraecum, Cattleya, Brassovola, Dendrobium, Epidendrum, Lailea, Odontoglossum dan Vanda. Anggrek teresterial, yaitu tanaman anggrek yang seluruh perakarannya berkembang didalam tanah, rawa atau daratan. Karena itu anggrek ini juga disebut anggrek tanah. Golongan anggrek teresterial ini antara lain Arachnis, Arundina, Calanthe dan Spathoglotis (Ashari, 1995).

Akar anggrek berfungsi sebagai tempat menempelkan tubuh pada media tanam, berbentuk silindris, panjang seperti benang dan bercabang. Anggrek Dendrobium sp. mempunyai lapisan velamen yang berongga, yang berfungsi memudahkan akar dalam menyerap air hujan yang jatuh di kulit pohon media tumbuh anggrek. Di bagian bawah lapisan ini terdapat lapisan yang mengandung kiorofil 2003).

Menurut Iswanto (2002), berdasarkan tipe pertumbuhannya, batang tanaman anggrek Dendrobium sp. bertipe monopodial mempunyai batang tunggal tumbuh memanjang lurus keatas, beruas dan sering tumbuh akar gantung.

Bentuk daun tanaman menyerupai jenis tanaman monokotil pada umumnya, yakni memanjang seperti pedang dan ukuran panjang daunnya bervariasi (Sutiyoso, 2003b).

Bunganya pada umumnya mempunyai tiga buah sepalum atau kelopak bunga. Satu buah sepalum yang terletak di punggung dinamakan kelopak punggung atau sepalum dorsale dan dua lainnya dinamakan daun kelopak samping atau sepala literalia. Di pusat bunga terdapat alat yang berfungsi sebagai alat kelaminjantan dan betina, yang menjadi satu bagian (Iswanto, 2002).

Menurut Ashari (1995), tanaman anggrek Dendrobium sp. dapat tumbuh pada berbagai ketinggian tempat. Ditambahkan oleh Iswanto (2002), temperature yang dibutuhkan untuk tumbuh normal sekitar 150C-280C, namun di daerah pegunungan anggrek masih dapat tumbuh pada suhu rendah yaitu 5OC-100C. Umumnya, di Indonesia anggrek dapat tumbuh baik pada daerah yang bersuhu udara 260C-300C (Sandra, 2001).

Friday, 23 August 2019

Tinjauan Umum Tanaman Kacang Hijau


Tinjauan Umum Tanaman Kacang Hijau

Klasifikasi dan Botani

Tanaman kacang hijau merupakan salah satu tanaman semusim yang berumur pendek. Tanaman kacang hijau di yakini berasal dari wilayah India-Burma di Asia Tenggara; dari sini tanaman tersebut diintroduksikan ke wilayah lain dunia (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).


Tanaman ini disebut juga mungbean, green gram atau golden gram. Dalam dunia tumbuh-tumbuhan, tanaman ini diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Magnoliophyta
Ordo : Fabelas
Famili : Fabaceae
Genus : Vigna
Spesies : Vigna radiata L. Wilczek

Susunan tubuh tanaman (morfologi) kacang hijau terdiri atas akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji.

Perakaran tanaman kacang hijau bercabang banyak dan membentuk bintil-bintil (nodula) akar. Makin banyak nodula akar, makin tinggi kandungan nitrogen (N) sehingga menyuburkan tanah. Batang tanaman kacang hijau berukuran kecil, berbulu, berwarna hijau kecokelat-cokelatan, atau kemerah-merahan, tumbuh tegak mencapai ketinggian 30 cm- 110 cm dan bercabang menyebar ke semua arah.

Daun tumbuh majemuk, tiga helai anak daun per tangkai. Helai daun berbentuk oval dengan ujung lancip dan berwarna hijau (Rahmat Rukmana, 2004). Lebih lanjut menurut Andrianto dan Novo Indarto (2004), tanaman kacang hijau berbatang tegak dengan cabang menyamping pada batang utama, berbentuk bulat, dan berbulu. Warna batang dan cabangnya ada yang hijau dan ada yang ungu. 

Akarnya tunggang dengan akar cabang pada permukaan. Ditambahkan oleh Soeprapto dan Rasyid Marzuki (2004), tanaman kacang hijau daunnya trifoliat (terdiri dari tiga helaian) dan letaknya berseling. Tangkai daunnya cukup panjang, lebih panjang dari daunnya. Warna daunnya muda sampai hijau tua. Bunga kacang hijau berwarna kuning, tersusun dalam tandan, keluar pada cabang serta batang, dan dapat menyerbuk sendiri. Polong kacang hijau berbentuk silindris dengan panjang antara 6-15 cm dan biasanya berbulu pendek. Sewaktu muda polong berwarna hijau dan setelah tua berwarna hitam atau cokelat. Setiap polong berisi 10-15 biji.

Biji kacang hijau lebih kecil dibandingkan biji kacang-kacangan lain. Warna bijinya kebanyakan hijau kusam atau hijau mengkilap, beberapa ada yang berwarna kuning, cokelat dan hitam. Tanaman kacang hijau berakar tunggang dengan akar cabang pada permukaan (Andrianto dan Novo Indarto, 2004).

Syarat Tumbuh Tanaman Kacang Hijau

Ikiim

Tanaman kacang hijau dapat beradaptasi luas di berbagai daerah yang beriklim panas (tropik). Di Indonesia, kacang hijau dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai ketinggian 500 m di atas permukaan laut. Di daerah dengan ketinggian 750 m dpl, kacang hijau masih tumbuh baik, tetapi hasilnya cenderung turun (rendah) (Rahmat Rukmana, 2004).

Kacang hijau dapat tumbuh di daerah yang curah hujannya rendah dengan memanfaatkan sisa-sisa kelembapan pada tanah bekas tanaman yang diairi, misalnya padi. Tanaman ini tumbuh baik pada musim kemarau. Pada musim hujan, pertumbuhan vegetatifnya sangat cepat sehingga mudah rebah (Soeprapto dan Rasyid Marzuki, 2004).

Tanah

Hampir semua jenis tanah pertanian cocok untuk budi daya tanaman kacang hijau. Jenis tanah yang dikehendaki tanaman kacang hijau adalah liat berlempung atau tanah lempung yang banyak mengandung bahan organik, seperti tanah podsolik merah kuning dan latosol.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi kebun kacang hijau adalah tanahnya subur, gembur, banyak mengandung bahan organik (humus), aerasi dan drainasenya baik, serta mempunyai kisaran pH 5,8-6,5. untuk tanah yang ber-pH lebih rendah daripada 5,8 perlu dilakukan pengapuran. Fungsi pengapuran adalah meningkatkan mineralisasi nitrogen organik dalam sisa-sisa tanaman, membebaskan nitrogen sebagai ion ammonium dan nitrat agar tersedia bagi tanaman, membantu memperbaiki kegemburan, serta meningkatkan pH tanah mendekati pH netral (Rahmat Rukmana, 2004).

Peranan Unsur Hara bagi Tanaman


Peranan Unsur Hara bagi Tanaman

Unsur hara yang dibutuhkan tanaman sedikitnya ada 60 jenis unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Dari sekian banyak unsur hara tersebut, sebanyak 16 unsur atau senyawa diantaranya merupakan unsur hara esensial yang mutlak dibutuhkan tanaman untuk mendukung pertumbuhannya.


Dari 16 unsur hara tersebut, 3 diantaranya tidak terlalu bermasalah karena ketersediaannya di alam melimpah. Ketiga tersebut adalah Karbon (C), Hidrogen (H), dan Oksigen (O). Ketiganya dapat diperoleh bebas dari udara. Kebutuhan air dapat diperoleh dati tanah dan dari air penyiraman (Parnata, 2004). Menurut Subroto dan Yusrani (2005), unsur-unsur hara atau nutrient tanaman merupakan unsur kimia yang berbentuk ion, molekul, senyawa atau larutan. Secara alami, unsur-unsur hara tersebut terdapat dan tersedia di dalam tanah dan diserap oleh tanaman melalui akarnya dalam bentuk ion atau larutan. Namun ada beberapa unsur hara dapat juga diberikan dan diserap tanaman lewat daunnya. Kekurangan unsur hara tersebut dapat diperbaiki dengan cara pemupukan.

Berikut ini peranan 16 unsur hara esensial bagi tanaman:

Karbon (C)

Karbon yang digunakan oleh tumbuhan berasal dari karbondioksida (C02) yang ada di udara. Karbon berfungsi untuk membentuk karbohidrat, lemak dan protein yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Selain itu, berfungsi untuk membentuk selulosa yang merupakan dinding sel dan memperkuat bagian tanaman. Unsur karbon juga bisa menciptakan rasa wangi pada air yang terdapat di dalam buah dan bunga, serta membentuk warna daun dan bunga (Parnata, 2004).

Hidrogen (H)

Hidrogen diperoleh tanaman dalam bentuk senyawa H20 atau air (Subroto dan Yusrani, 2005). Air dapat diperoleh tanaman dari udara dan tanah. Hidrogen berguna dalam proses pembentukan gula (glukosa) menjadi karbohidrat dan sebaliknya, serta proses pembentukan lemak dan protein (Parnata, 2004).

Oksigen (O)

Oksigen diserap tanaman dalam bentuk senyawa 02 atau oksigen bebas (Subroto dan Yusrani, 2005). Oksigen dibutuhkan tanaman untuk membentuk bahan organik tanaman. Seluruh tanaman, baik akar, batang, daun, bunga, dan buah memerlukan oksigen. Oksigen dibutuhkan dalam sel tanaman untuk mengubah karbohidrat menjadi energi, proses ini disebut oksidasi (Parnata, 2004).

Nitrogen (N)

Unsur N diserap oleh sebagian besar tanaman dalam bentuk ion Nitrat (N03) dan Amonium (NH4+) (Subroto dan Yusrani, 2005). Nitrogen berperan untuk memacu pertumbuhan tanaman secara umum terutama pada fase vegetatif, berperan dalam pembentukan kiorofll, membentuk lemak, protein dan persenyawaan Iain (Marsono dan Sigit, 2002).

Fosfor (P)

Sebagian besar tanaman menyerap unsup P dalam bentuk offhofosfat primer (H2P04-) dan sebagian kecil dalam bentuk orthofosfat sekunder (HPC)c-) (Subroto dan Yusrani, 2005). Fosfor berperan untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan akar, sebagai bahan dasar protein (ATP dan ADP), membantu asimilasi dan respirasi, mempercepat proses pembungaan dan pembuahan, serta pemasakan biji dan buah (Marsono dan Sigit, 2002).

Kalium (K)

Unsur K diserap oleh tanaman dalam bentuk ion K+ (Subroto dan Yusrani, 2005). Fungsi utama kalium ialah membantu pembentukan protein dan karbohidrat. Kalium juga berperan dalam memperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga, dan buah tidak mudah gugur. Selain itu, kalium merupakan sumber kekuatan bagi tanaman dalam menghadapi kekeringan dan penyakit (Lingga dan Marsono, 2006).

Kalsium (Ca)

Kalsium di dalam tanah diserap oleh tanaman dalam bentuk ion Ca-(Subroto dan Yusrani, 2005). Kalsium berperan untuk mengaktifkan pembentukan bulu-bulu akar dan biji serta menguatkan batang. menetralisir senyawa dan kondisi tanah yang merugikan (Marsono dan Sigit, 2002).

Magnesium (Mg)

Unsur Magnesium diserap oleh tanaman dalam bentuk ion Mg (Subroto dan Yusrani, 2005). Magnesium berperan untuk membantu proses pembentukan hijau daun atau klorofil. Selain itu, berfungsi untuk membentuk karbohidrat, lemak dan minyak, serta berfungsi membantu proses transportasi fosfat dalam tanaman (Parnata, 2004).

Sulfur (S)

Sulfur diserap oleh akar tanaman dalam bentuk ion S04 - dan sedikit sekali dalam bentuk gas Sulfur dioksida (S02) yang diserap lewat daun tanaman (Subroto dan Yusrani, 2005). Sulfur sangat membantu tanaman dalam membentuk bintil akar, pertumbuhan tunas, dan pembentukan hijau daun (klorofil). Sulfur merupakan unsur penting dalam pembentukan berbagai jenis asam amino (Parnata, 2004).

Klor (Cl)

Unsur Klor diserap oleh akar tanaman dalam bentuk ion Cl- (Subroto dan Yusrani, 2005). Klor berperan membantu meningkatkan atau memperbaiki kualitas dan kuantitas produksi tanaman (Marsono dan Sigit, 2002).

Besi atau Ferrum (Fe)

Unsur besi dapat diserap oleh akar tanaman dalam bentuk ion Fe- dan Fe (Subroto dan Yusrani, 2005). Unsur besi berveran pada proses-proses fisiologis tanaman, seperti proses pernapasan dan pembentukan klorofil (Marsono dan Sigit, 2002).

Mangan (Mn)

Unsur Mangan diserap oleh akar tanaman dalam bentuk ion Mn2+ (Subroto dan Yusrani, 2005). Unsur mangan berperan dalam proses asimilasi dan sebagai komponen utama dalam pembentukan enzim-enzim pada tanaman (Marsono dan Sigit, 2002).

Tembaga atau Cuprum (Cu)

Unsur Tembaga dapat diserap oleh akar tanaman dalam bentuk ion Cu dan dapat juga diserap dalam bentuk garam organik kompleks (Subroto dan Yusrani, 2005). Unsur Tembaga berperan sebagai pendorong proses pembentukan klorotil dan sebagai komponen dalam pembentukan enzim tanaman (Marsono dan Sigit, 2002).

Boron (B)

Unsur Boron di dalam tanah diserap oleh tanaman dalam bentuk beberapa ion, seperti B407 - , H2B03-, HBO3-, atau BOs-, dan umumnya diperlukan tanaman dalam jumlah sedikit (Sobroto dan Yusrani, 2005). Unsur Boron berperan membawa karbohidrat keseluruh jaringan tanaman, mempercepat penyerapan unsur kalium, berperan pada pertumbuhan tanaman khususnya di bagian yang masih aktif, meningkatkan kualitas produksi sayuran dan buah-buahan (Marsono dan Sigit, 2002).

Molibdenum (Mo)

Unsur Molibdenum dapat diserap oleh akar tanaman dalam bentuk ion yang diserap hanya dalam jumlah sedikit karena Mo sangat beracun bagi tanaman dan hewam bila sedikit melampaui ambang batas keperluan tanaman (Subroto dan Yusrani, 2005). Unsur Molibdenum berperan sebagai pengikat nitrogen bebas di udara, dan menjadi komponen pembentuk enzim pada bakteri bintil akar tanaman Leguminosae (Marsono dan Sigit, 2002).

Seng (Zn)

Unsur Seng diserap oleh akar tanaman dalam bentuk ion Zn dan dapat juga disemprotkan lewat daun, yang kemudian diserap oleh tanaman lewat daun dalam bentuk molekul organik kompleks (Subroto dan Yusrani, 2005). Unsur seng berperan dalam pembentukan hormon dalam tanaman (Marsono dan Sigit, 2002).

Tinjauan Umum Pupuk Daun Green Tonik


Tinjauan Umum Pupuk Daun Green Tonik

Pupuk daun adalah segala macam pupuk yang diberikan lewat daun dengan cara penyemprotan. Pupuk daun disemprotkan ke bagian daun yang menghadap ke bawah, hal ini disebabkan umumnya daun memiliki mulut daun (stomata) menghadap ke bawah. Konsentrasi pupuk harus sesuai dengan petunjuk pada kemasan. Lebih baik konsentrasinya kurang daripada berlebihan. Kalau dosisnya kurang dari yang dianjurkan, pengimbangannya dengan cara frekuensi pemupukan dipercepat. Paling ideal penyemprotan dilakukan sore atau pagi hari saat sinar matahari belum begitu menyengat. Kalau dipaksakan penyemprotan saat panas, pupuk daun akan lebih banyak menguap dibanding diserap daun.


Penyemprotan pun jangan dilakukan menjelang musim hujan karena pupuk akan tercuci habis oleh air hujan, lagipula saat seperti ini stomata sedang menutup. Penyemprotan yang tepat dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 08.00-10.00 atau sore pukul 15.00-17.00 karena pada saat itulah stomata sedang membuka sempurna sehinga resiko kehilangan pupuk dapat ditekan (Lingga dan Marsono, 2008).

Pupuk daun Green Tonik merupakan formula baru yang dibuat khusus untuk merangsang pertumbuhan dan kesuburan semua jenis tanaman, terutama untuk melebatkan bunga, memperbanyak dan memperbesar buah. Kandungan unsur hara pupuk daun Green Tonik meliputi unsur hara makro yaitu : 14,73 % N, 1,56% P205, 2,55 % K20, 1,33 % Ca, 09,02% Mg, 0,33% S, dan unsur hara mikro berupa 706,38 ppm Fe, 17,18 ppm Mn, 111,77 ppm Zn, 615,63 ppm B, 2,25 ppm Cu. Selain itu, pupuk ini mengandung senyawa-senyawa organik seperti protein, lemak, zat perekat, dan zat organik yang kesemuanya dapat diserap oleh seluruh bagian tanaman mulai dari daun sampai ke akar. Konsentrasi pupuk daun Green Tonik yang dianjurkan untuk tanaman sayuran antara 2-3 ml/L air (Yan Utama, 2008).

Thursday, 22 August 2019

Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Leci

Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Leci

Pada dasarnya tanaman leci dapat tumbuh dengan baik pada iklim tropis. Tanaman buah ini termasuk ke dalam familia lerak-lerakan Sapindaceae. Tanaman buah ini sudah tersebar di seluruh belahan dunia seperti di Tiongkok, India, Madagaskar, Nepal, Bangladesh, Pakistan, Taiwan bagian selatan dan tengah, Vietnam utara, Indonesia, Thailand, Filipina, Afrika Selatan dan Meksiko. Buah leci rasanya segar dan wangi yang khas.


Di Asia, buah leci dikonsumsi dalam bentuk buah segar dan dijadikan produk ekspor menjadi buah kaleng. Buah leci sering dijadikan toping kue puding yang dapat menambah tekstur kelejatan dan menambah penampilan yang cantik.

Terdapat kandungan nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh manusia seperti vitamin C dan Potasium yang cukup tinggi. Dalam dunia industry makanan dan minuman, buah leci dikalengkan, dibuat selai dan sirup minuman segar ekstrax buah leci.

Bagi tubuh manusia, buah leci memiliki banyak manfaat di dalam bidang kesehatan. Buah leci dapat mengatasi masalah kesehatan manusia seperti dapat mengurangi tumor, meredakan batuk, mengatasi masalah usus, mencegah diare dan mencegah cacar.

Klasifikasi Tanaman Leci

Kingdom: Plantae
(tanpa takson): Angiospermae
(tanpa takson): Eudikotil
(tanpa takson): Rosidae
Ordo: Sapindales
Famili: Sapindaceae
Genus: Litchi Sonn.
Spesies: L. chinensis

Morfologi Tanaman Leci

Buah leci berukuran kecil berbentuk bulat seperti kelereng. Daging buah berwarna putih bening dengan lapisan kulit berwarna merah. Rasa buahnya asam manis segar dan enak serta bau wangi yang khas.

Tanaman leci dapat tumbuh mencapai 12-25 meter. Berbunga banyak dan sempurna tersusun dalam satu malai atau disebut panicula.

Berdaun majemuk dengan jumlah 5-9 helai. Daun berwarna hijau berbentuk oval dan juga bulat telur. Pertulangan daun menyirip, memiliki tangkai silindris.

Tinjauan Umum Tanaman Mentimun


Tinjauan Umum Tanaman Mentimun

Asal tanaman mentimun

Mentimun merupakan salah satu jenis sayuran dari keluarga labu-labuan (Cucurbitacceae) yang sudah populer di seluruh dunia. Menurut sejarahnya, tanaman mentimun berasal dari benua Asia. Beberapa sumber pustaka menyebutkan daerah asal tanaman mentimun adalah Asia Utara, tetapi sebagian Iagi menduga berasal dari Asia Selatan. Para ahli tanaman memastikan daerah asal tanaman mentimun adalah India tepatnya di lereng gunung Himalaya.


Kandungan gizi buah mentimun tiap 100 gram bahan mentah (segar) adalah energi (12,00 kalori), protein (0,60 g), karbohidrat (2,40 g), serat (050 g), abu (0,40 g), Kalsium (19,00 mg), Fosfor (12,00 mg), Kalium (122,00 mg), Zat Besi (0,40 mg), Natrium (5,00 mg), Vitamin A (0 S.I.), Vitamin B1 (0,02 mg), Vitamin B2 (0,02 mg), Niacin (0, 10 mg), Vitamin C (10,00 mg), dan Air (96,10 g) (Rukmana, 1994).

Taksonomi dan morfologi tanaman mentimun

Menurut Samadi tanaman mentimun dalam sistematika tumbuhan diklasifikasikan sebagaj berikut:

Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Cucurbitales
Famili : Cucurbitaceae
Genus : Cucumis
Spesies : Cucumis sativus L.

Menurut Rukmana (1994), tanaman mentimun merupakan tanaman semusim (annual) yang bersifat menjalar atau memanjat dengan perantara pemegang yang berbentuk pilin atau spiral.

Akar timun

Perakaran mentimun memiliki akar tunggang dan bulu-bulu akar, tetapi daya tembusnya relatif dangkal, pada ke dalaman sekitar 30-60 cm. Oleh karena itu, tanaman mentimun termasuk peka terhadap kekurangan dan kelebihan air.

Daun timun

Daun berbentuk bulat lebar, persegi mirip jantung dan bagian ujung daunnya meruncing. Daun ini tumbuh berselang-seling keluar dari buku-buku (ruas batang).

Batang timun

Batang tanaman mentimun basah, berbulu serta berbuku-buku. Panjang bias mencapai 50-250 cm, bercabang dan bersulur yang tumbuh di sisi tangkai daun.

Bunga timun

Pada dasarnya mentimun memiliki bunga yang sempurna. Bentuk bunga mirip terompet yang mahkota bunganya berwarna putih atau kuning cerah.

Buah timun

Buah berbentuk bulat panjang atau bulat pendek, kulitnya ada yang berbintil-bintil, ada pula yang halus permukaannya. Warna kulit buah antara hijau keputih-putihan, hijau muda, dan hijau gelap.

Biji timun

Biji bentuknya pipih, kulitnya berwarna putih kekuning-kuningan sampai coklat.

Syarat tumbuh tanaman mentimun

a. Faktor iklim

Mentimun dapat tumbuh baik mulai di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai ketinggian 1000 m dpl (Sunarjono, 2008). Selama pertumbuhannya, tanaman mentimun membutuhkan iklim kering, sinar matahari 26,70C yang cukup (tempat terbuka), dan temperatur berkisar antara 21,10.
Berbagai mentimun hibrida umumnya ditanam di dataran tinggi antara 1000-1200 m dpl. Tanaman mentimun kurang tahan terhadap curah hujan yang tinggi. Hal ini akan mengakibatkan bunga-bunga yang terbentuk berguguran, sehingga gagal membentuk buah (Rukmana, 1994).

b. Faktor tanah

Untuk mendapatkan produksi yang tinggi dan kualitasnya baik, tanaman mentimun membutuhkan tanah yang subur, gembur, banyak mengandung humus, tidak menggenang (becek), dan pH-nya berkisar antara 6-7 (Rukmana, 1994).

Tinjauan Umum Tanaman Karet


Tinjauan Umum Tanaman Karet

Tanaman karet (Hevea brasiliensis) berasal dari Brazil. Tanaman ini merupakan sumber utama bahan karet alam dunia. Tanaman karet mempunyai batang yang cukup besar. Tinggi tanaman dewasa mencapai 15-25 m. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi di atas. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks (Tim Penulis Penebar Swadaya, 1996).


Menurut Tim Penulis Penebar Swadaya (1996), tanaman karet dalam dunia tumbuhan tersusun dalam sistematika sebagai berikut:

Klasifikasi botani tanaman karet adalah sebagai berikut :

Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dycotyledonae
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Hevea
Spesies : Hevea brasiliensis

Budidaya tanaman karet berkaitan dengan beberapa hal berikut:

1. Syarat Tumbuh Tanaman Karet

Menurut Tim Penulis Penebar Swadaya (1996), tanaman karet dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian antara 1-600 m dari permukaan laut. Hampir di seluruh daerah di Indonesia karet dapat tumbuh subur. Curah hujan yang cukup tinggi antara 2.000-2.500 mm setahun sesuai untuk tanaman karet. Sinar matahari yang cukup melimpah di negara-negara tropis merupakan syarat lain yang diinginkan tanaman karet. Dalam sehari tanaman karet membutuhkan sinar matahari dengan intensitas yang cukup selama 5-7 jam.

Tanaman karet adalah tanaman yang paling toleran terhadap tanah yang kesuburannya rendah dibanding dengan tanaman kopi, cokelat, teh, dan tembakau. Tanah yang kurang subur seperti podsolik merah kuning dengan bantuan pemupukan dan pengelolaan yang baik bisa dikembangkan menjadi perkebunan karet dengan hasil yang memuaskan. Tanah latosol dan alluvial juga bisa dikembangkan untuk penanaman karet. Derajat keasaman yang paling cocok adalah 5-6. Batas toleransi pH tanah adalah 4-8. Tanah yang agak asam masih lebih baik daripada tanah yang basa.

Pengolahan Lahan

Ada dua jenis penanaman karet, yaitu penanaman baru dan peremajaan. Penanaman baru adalah usaha penanaman karet di areal yang belum pernah dipakai untuk budidaya karet. Peremajaan adalah usaha penanaman ulang di areal karet karena tanaman lama sudah tidak produktif lagi. Kegiatan pengolahan lahan baik untuk penanaman baru maupun peremajaan adalah sama. Langkah pertama pengolahan lahan adalah membabat pepohonan yang tumbuh. Pembabatan dapat dilakukan secara manual menggunakan kapak dan gergaji. Setelah pepohonan dibabat, tahap berikutnya membongkar tanah dengan cangkul atau traktor. Dalam pembongkaran ini sekaligus dilakukan pembersihan sisa-sisa akar, rizoma, alang-alang, dan bebatuan karena akan mengganggu perakaran tanaman karet. Jika lahan tidak berkontur rata, tetapi memiliki kemiringan lebih dari 100, sebaiknya dibuat teras dengan lebar minimum 3 m. Teras ini dibuat untuk mencegah erosi. Kebun karet memerlukan sarana berupa jalan, baik untuk pemeliharaan tanaman maupun kegiatan produksi (Setiawan dan Andoko, 2008).

Penanaman

Menurut Setiawan dan Andoko (2008), tanaman karet dapat ditanam secara monokultur maupun tumpangsari.

a. Monokultur

Penanaman karet secara monokultur bisa menggunakan jarak tanam berbentuk segitiga atau tidak teratur. Jarak tanam segitiga hanya bias diterapkan di lahan berkontur datar atau mendekati datar. Jarak tanam tidak teratur bisa diterapkan di lahan yang berbukit-bukit.

b. Tumpangsari

Hal pertama yang harus diperhatikan dalam penanaman karet dengan cara tumpangsari adalah jarak tanam jangan telalu rapat agar tidak terjadi persaingan dalam memperebutkan unsur hara. Dalam penanaman dengan cara tumpangsari, tanaman tumpangsari berfungsi sebagai pagar atau mengapit tanaman utama.

Perawatan

Tanaman yang belum berproduksi sering disebut dengan komposisi yaitu tanaman berumur 1-4 tahun. Perawatan tanaman karet belum berproduksi meliputi penyulaman, penyiangan, pemupukan, seleksi dan penjarangan, serta pemeliharaan tanaman penutup tanah.

Setelah menginjak umur lima tahun atau mulai disadap, tanaman karet sering disebut dengan komposisi II. Perawatan tanaman selama masa produksi dimaksudkan agar kondisi tanaman dalam keadaan baik, produksinya dapat meningkat, dan masa produktifnya semakin panjang. Perawatan tanaman pada masa produksi ini hanya meliputi penyiangan dan pemupukan (Setiawan dan Andoko, 2008).

Hama dan Penyakit

Menurut Setiawan dan Andoko (2008), hama yang menyerang tanaman karet terbagi dalam dua fase.


  1. Hama pada fase pembibitan: tikus, belalang, siput, dan uret tanah.
  2. Hama pada fase penanaman sampai produksi: rayap, kutu, tungau, babi hutan, rusa dan kijang, tapir, monyet, tupai, dan gajah.


Penyakit tanaman karet menyerang dari wilayah akar, batang, bidang sadap, hingga daun. Penyakit yang menyerang akar adalah penyakit akar putih dan penyakit akar merah. Penyakit yang menyerang batang antara lain jamur upas, kanker bercak, dan busuk pangkal batang. Penyakit yang menyerang bidang sadap yaitu kanker garis, mouldy rot, dan brown blast. Penyakit yang menyerang daun antara lain embUn tepung, colletotrichum, phytophthora, corynespora, dan helminthosporium (Setiawan dan Andoko, 2008).

Penyadapan

Penyadapan adalah kegiatan pemutusan atau pelukaan pembuluh lateks di kulit pohon, sehingga dari Iuka tersebut akan keluar lateks. Pembuluh lateks yang terputus atau terluka tersebut akan pulih kembali, sehingga jika dilakukan penyadapan untuk kedua kalinya tetap akan mengeluarkan lateks.

Kriteria umum untuk menentukan tanaman karet sudah matang sadap atau belum adalah dengan melihat umurnya. Umur tanaman karet yang telah matang sadap adalah lima tahun, dengan catatan tanaman berada di lingkungan yang sesuai dan pertumbuhannya normal. Kriteria lain adalah dengan melihat ukuran lingkar pohon atau lilit batang. Jika lilit batang sudah mencapai 45 cm yang diukur pada jarak 100 cm dari pertautan okulasi, pohon karet sudah masuk kriteria matang sadap (Setiawan dan Andoko, 2008).

Manfaat dari Anggaran


Manfaat dari Anggaran


Sebagai suatu teknik penyelenggaraan perusahaan, maka setiap kegiatan yang dilaksanakan diharapkan mempunyai kegunaan untuk mencapai tujuan perusahaan, begitu pula dalam hal penyusunan budget, secara teori dapat dikemukakan sebagai berikut : menurut Gunawan Adisaputro dan Marwan Asri (2003: 50) memerinci kegunaan dari anggaran , terdapat 3 (tiga) aktivitas perusahaan yaitu :

a. Perencanaan
b. Koordinasi
c. Pengendalian

Untuk lebih jelasnya mengenai fungsi anggaran dalam hal perencanaan, koordinasi, dan pengendalian tersebut di atas dikemukakan sebagai berikut:

a. Hubungan Anggaran dengan Perencanaan

Setelah pimpinan menetapkan pilihan yang paling tepat atau yang paling baik berkenan dengan harga hasil pengeluaran teknik produksi dan sebagainya, maka pilihan ini diwujudkan dalam satu tindakan formal dan perencanaan terpadu. Hal ini merupakan salah satu tujuan yang paling penting dalam proses anggaran juga yang memaksa seorang pimpinan untuk benar-benar yakin bahwa setiap pilihan yang dibuat mempunyai hubungan koordinasi dengan pilihan yang diambil sebelumnya.

b. Hubungan Budget dengan Koordinasi

Budget tidak dapat dipisahkan dengan manajemen koordinasi di dalam perusahaan dimana perusahaan terdiri dari banyak departemen, karena koordinasi berhubungan dengan sinkronisasi yang menyeluruh yaitu terdiri dari jumlah, waktu, arah, dan mempunyai arti yang lebih luas dari pada koperasi. Di dalam organisasi ini tujuannya menyelaraskan dari rencana atau planning perusahaan ke dalam aktivitas-aktivitasnya supaya organisasi daripada perusahaan berjalan secara efektif dan efisien sesuai budget yang telah dibuat.

Koordinasi tidak dapat diperintahkan, atau dipaksakan tetapi dapat dilakukan dengan baik dengan permintaan, permohonan kepada organisasi perusahaan yang terkait. Hal ini akan lebih diresapi dan ditaati oleh pala pelaksana organisasi perusahaan, karena merasa dihargai,

c. Hubungan Budget dengan Pengendalian

Hubungan Budget dengan Pengendalian merupakan estimasi yang diharapkan terjadi, seperti membuat kriteria atau standar untuk mengevaluasi hasil. Suatu perbandingan yang dianggarkan dengan jumlah nyata sebagai dasar untuk mengevaluasi hasil yang lalu dengan tindakan yang akan datang. Supaya lebih efektif digunakan sebagai pengendali dan anggaran harus dikembangkan sebagai alat untuk menunjang produksi, pemasaran, administrasi dan sebagainya.

Hal-hal tersebut kemudian disatukan dalam induk anggaran perusahaan secara keseluruhan. Dengan cara ini hasil dari setiap pertanggung jawaban dapat dievaluasi berkenan dengan kegiatan-kegiatan yang akan diawasi selama jangka waktu tertentu.

Thursday, 8 August 2019

Syarat Tumbuh Kacang Hijau

Syarat Tumbuh Kacang Hijau

Kacang hijau merupakan salah tanaman palawija yang cukup digemari oleh masyarakat Indonesia. Kacang hijau memiliki banyak manfaatnya untuk tubuh manusia. Bagian kacang hijau yang dapat dimanfaatkan dan bernilai ekonomi tinggi adalah bagian bijinya.
Biji kajang hijau dapat diolah menjadi berbagai macam produk olahan makanan seperti isi dari onde-onde, isi bakpau, bubur kacang hijau dan minuman kemasan dll. Tingginya peminat terhadap kacang hijau, para petani terus membudidayakan kacang hijau untuk memenuhi ketersediaan pasar.


Agar budidaya kajang hijau mendapatkan hasil yang maksimal, petani harus mengetahui kondisi lingkungan apakah cocok dengan syarat tumbuh kacang hijau tersebut. Syarat tumbuh merupakan faktor lingkungan yang menentukan keberhasilan dalam budidaya kacang hijau.

teorieno.com – Akan menjelaskan secara lengkap bagaimana syarat tumbuh yang dikehendaki oleh tanaman budidaya kacang hijau agar hasil yang didapat terus meningkat. Brikut ini penjelasannya:

Syarat tumbuh

Iklim

Tananam kacang hijau menghendaki daerah budidaya dengan curah hujan berkisar 50-200 mm/bln. Temperatur yang terbaik buat pertumbuhan tanaman ini dengan kelembaban berkisar antara 50-80° dan mendapatkan cukup cahaya mata hari .

Kacang hijau merupakan tanaman yang cocok untuk dibudidayakan di daerah tropis. Kacang hijau dapat hidup pada daerah dataran rendah sampai tinggi. Kacang hijau dapat tumbuh pada daerah dengan ketinggian tempat 500 meter diatas permukaan laut (mdpl). Pada kondisi ekstrem seperti daerah yang cukup panas, dan curah hujan rendah dengan cara memanfaatkan kelembaban dari sisa tanaman lain yang terairi seperti bekas lahan padi setelah dipanen. Segala macam tipe tanah kacang hijau juga dapat hidup namun bisa tidak maksimal tergantung di mana ia tumbuh. Kacang hijau menghendaki keadaan tanah yang berlempung dengan kandungan bahan organik.

Tanah

Kacang hijau dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada kondisi tanah yang liat berlempung, memiliki kandungan bahan organik, berdrainase air baik, serta mengandung unsur makro dan mikro. Tidak baik juga pada kondisi tanah subur dengan kandungan unsur N-total (0,51-0,75%) dan K-total (0,61-1,00 C mol, kg pangkat men 1) karena pertumbuhan vegetatifnya sangat tinggi yang mengakibatkan sulitnya pertumbuhan polong kacang hijau. Tanah yang baik untuk pertumbuhan kacang hijau mengandung derajat keasaman optimum dengan pH 6,5.

Semua jenis tanah dapat ditanami kacang hijau asalkan air dan unsur hara yang dibutuhkan tanaman selama hidupnya terpenuhi. Sawah bekas tanam padi dengan sisa potongan jerami merupakan lahan yang baik untuk ditanami kacang hijau dan tidak perlu lagi melakukan pengolahan tanah. Namun sebaliknya, sawah yang sudah lama tidak ditanami padi harus dilakukan pengolahan tanah terlebih dahulu. Agar tanah tidak tergenang di lahan sawah harus dibuat drainase air.

Total Pageviews

Kategori