Thursday, 3 November 2016

Pembentukan Gel Alginat

Pembentukan Gel Alginat

Salah satu sifat terpenting dalam pemanfaatan natrium alginat, kalium alginat, maupun magnesium alginat adalah kemampuannya untuk membentuk gel yang bereaksi dengan ion-ion kalsium. Sumber-sumber kalsium biasanya kalsium karbonat, kalsium sulfat, kalsium klorida, kalsium fosfat, dan kalsium tartrat. Selain memiliki kemampuan membentuk gel, alginat juga digunakan sebagai pengental (pengikat air), pengemulsi, penstabil, dan bahan pembentuk filmstrip (Kirk dan Othemer, 1994).

Sifat spesifik tersebut di atas ditentukan oleh prosentase dari setiap unit-unit monomer penyusunnya. Misalnya alginat dengan prosentase poli (asam guluronat) lebih tinggi akan membentuk gel yang kaku dan lebih rapuh. Alginat dengan prosentase poli (asam mannuronat) lebih tinggi akan membentuk gel yang elastis. Bentuk gel alginat yang berbeda-beda tersebut dibuat dari bahan baku yang berbeda pula (Hui, 1992).

Alginat yang biasa digunakan untuk kebutuhan industri (misalnya industri makanan, farmasi, kosmetik, tekstil, cat, dan lainlain) meliputi natrium alginat, kalium alginat, ammonium alginat, campuran kalsium amonium alginat, campuran kalsium-natrium alginat yang merupakan garam-garam dari asam alginat dan propilen glikol alginat. Alginat yang larut dalam air ini diproduksi dalam berbagai bentuk partikel (butiran atau serabut), bobot molekul, kadar kalsium, ukuran partikel dan rasio asam mannuronat terhadap asam guluronat (Kirk dan Othmer, 1994).

Menurut Kirk & Othmer pembentukan gel alginat dapat dilakukan dengan menggunakan tiga macam metode, yaitu metode difusi, metode internal dan metode pendinginan.

1. Metode Difusi

Metode difusi merupakan teknik yang paling sederhana dari ketiga metode tersebut di atas dimana pembentukan gel dilakukan oleh ion-ion kalsium melalui proses difusi ke dalam larutan alginat. Oleh karena proses difusi tersebut berlangsung lambat, cara seperti ini hanya efektif digunakan untuk membentuk lapisan gel yang tipis pada permukaan produk (misalnya produk makanan).

2. Metode Internal

Pada dasarnya metode internal atau dikenal pula dengan istilah "bulk setting" dilakukan pada suhu kamar, dimana kalsium dikeluarkan dengan kondisi terkontrol dari dalam sistem. Metode ini digunakan pada pengolahan buah-buahan, makanan, hewan piaraan, dan pada makanan pencuci mulut yang disajikan dalam keadaan dingin. Senyawa kalsium yang paling umum digunakan adalah kalsium sulfat dihidrat dan dikalsium fosfat (kalsium hidrogen ortofosfat).

3. Metode Pendinginan

Metode ketiga yang biasa digunakan dalam pembentukan gel alginat adalah metode pendinginan dimana alginat, garam kalsium dan asam dimasukkan bersamaan. Garam-garam kalsium yang digunakan dalam metode ini sama dengan metode internal seperti yang telah dijelaskan di atas (Kirk dan Othmer, 1994; Chapman dan Chapman, 1980).

No comments:

Post a comment