Wednesday, 23 November 2016

Klasifikasi Dan Morfologi Wereng Batang Cokelat

Klasifikasi Dan Morfologi Wereng Batang Cokelat (Nilaparvata lugens)

Wereng batang cokelat (WBC) sebelumnya termasuk hama sekunder. Saat ini WBC telah menjadi hama utama yang mampu merusak tanaman pada skala yang luas dalam waktu singkat, sehingga dapat menyebabkan puso. Disamping itu WBC merupakan vektor penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput (BBPTP 2006). Untuk mengendalikan serangan WBC, petani pada umumnya menggunakan insektisida sintetik. Penggunaan insektisida ini pada akhirnya dapat menimbulkan efek samping seperti, terjadinya pencemaran lingkungan sekitar, timbulnya resurjensi dan resistensi terhadap insektisida, terbunuhnya organisme bukan sasaran, dan sebagai penyebab keracunan pada manusia dan ternak. Oleh karena itu, beberapa negara telah mencoba mengurangi penggunaan pestisida dan melibatkan penggunaan musuh alami untuk mengendalikan hama (Habazar & Yaherwandi 2006).

Klasifikasi Wereng Batang Cokelat

Klasifikasi Wereng Batang Cokelat
Kerajaan Animalia
FilumArthropoda
UpafilumHexapoda
KelasInsecta
OrdoHemiptera
FamiliDelphacidae
GenusNilaparvata
SpesiesN. lugens
Nama binomial  Nilaparvata lugens (Stål,)

Morfologo Wereng batang cokelat

Wereng batang cokelat (WBC) dikelompokkan ke dalam ordo Hemiptera, subordo Auchenorrhycha, famili Delphacidae. Imago WBC mempunyai dua bentuk morfologi tubuh yaitu bersayap normal (makroptera) dan bersayap pendek (brakhiptera). Menurut Miyake et al. (1951) & Johno (1963 dalam Mochida & Okada 1979), kepadatan populasi saat stadia nimfa mempengaruhi perkembangan bentuk sayap imago WBC. Peningkatan kepadatan populasi WBC berbanding lurus dengan kemunculan imago makroptera. Kisimoto dalam Mochida & Okada (1979), melaporkan bahwa lama stadia nimfa yang akan berkembang menjadi imago brakhiptera lebih pendek dibandingkan nimfa bakal imago makroptera. Apabila ditinjau dari perkembangan populasi WBC di lapangan, imago brakhiptera biasanya mendominasi populasi sebelum tanaman memasuki fase pembungaan dan imago makroptera banyak dijumpai pada saat tanaman tua (IRRI 1995).

WBC memiliki siklus hidup yang singkat dan tingkat keperidian yang tinggi. Siklus hidup WBC berkisar antara 21-24 hari, lama peneluran wereng sekitar 25 hari. Telur WBC berbentuk silinder berwarna putih bening. Bagian telur terdiri atas korion, membran vitellin, protoplasma, nukleus, kuning telur, dan misetosit. Imago biasanya menyisipkan telur secara berkelompok ke dalam jaringan tanaman inang. Imago betina WBC dapat memproduksi telur maksimal 902 butir dengan tingkat penetasan mencapai 83,47% (Mahrub & Sukirno 1976 dalam Manti 1981). Telur menetas dalam waktu 7-9 hari (IRRI 1995). WBC memiliki lima stadia nimfa yang dapat dibedakan melalui bentuk mesonotum dan metanotum serta ukuran tubuhnya (Mochida & Okada 1979). Stadium nimfa berlangsung selama 13-15 hari (IRRI 1995). Di daerah tropis hama ini dapat berkembangbiak hingga 2 sampai 8 generasi dalam satu musim tanam (Chiu 1979).

No comments:

Post a comment