Thursday, 24 November 2016

Klasifikasi Dan Morfologi Walang Sangit (Leptocorisa acuta Thunberg)

Klasifikasi Dan Morfologi Serangga Walang Sangit

Walang sangit merupakan hama yang umum merusak bulir padi. Walang sangit merusak tanaman ketika mencapai stadia berbunga sampai matang susu. Kerusakan yang ditimbulkannya menyebabkan beras berubah warna, mengapur dan gabah menjadi hampa. Mekanisme merusaknya yaitu menghisap butiran gabah yang sedang mengisi. Walang sangit akan mengeluarkan bau sebagai mekanisme pertahanan diri dari serangan predator atau makhluk pengganggu lainnya. Bau yang dikeluarkan juga untuk menarik walang sangit lain (Rahmawati, 2012).


Menurut Kalshoven (1981) dalam Efendy et al. (2010) walang sangit (Leptocorisa acuta T.) merupakan hama utama dari kelompok kepik (Hemiptera) yang merusak tanaman padi di Indonesia. Hama ini merusak dengan cara mengisap bulir padi stadia matang susu sehingga bulir menjadi hampa. Serangan berat dapat menurunkan produksi hingga tidak dapat dipanen. Hama ini juga memiliki kemampuan penyebaran yang tinggi, sehingga mampu berpindah ke tanaman padi lain yang mulai memasuki stadia matang susu, akibatnya sebaran serangan akan semakin luas. Selain itu, walang sangit betina mempunyai kemampuan menghasilkan telur lebih dari 100 butir.

Klasifikasi Walang Sangit

Klasifikasi Walang Sangit
Kingdom Animalia
Filum Arthropoda
Kelas Insecta
Ordo Hemiptera
Famili Alynidae
Genus Leptocorisa
Spesies L. acuta Thunberg

Morfologi Walang Sangit

Walang sangit merupakan kelompok hewan invertebrata, filum arthropoda pada kelas insekta. Walang sangit memiliki bentuk tubuh langsing dan memanjang, berukuran sekitar 1,5-2 cm, punggung dan sayap (walang sangit dewasa berwarna coklat dan walang sangit mudah berwarna hijau), badan berwarna hijau, memiliki 3 pasang kaki, memiliki dua pasang sayap (satu pasang tebal dan satu pasang seperti selaput), tipe mulut menusuk dan menghisap, telur berbentuk oval yang berwarna hitam kecoklatan, memiliki “belalai” proboscis untuk menghisap cairan tumbuhan, abdomen jantan terlihat agak bulat atau tumpul sedangkan yang betina terlihat meruncing, metamorfosis tidak sempurna dan memiliki aroma atau bau khas.

Biologi dan Ekologi

Serangga dewasa walang sangit meletakkan telur pada bagian atas daun tanaman. Telur berbentuk oval dan pipih berwarna coklat kehitaman, diletakkan satu per satu dalam 1-2 baris sebanyak 1-21 butir. Lama stadia telur tergantung dengan suhu, lama periode telur berkisar 5-7 hari. Nimfa yang baru menetas berwarna hijau dan segera memencar mencari bulir padi sebagai makannya. Bentuk badan nimfa sama seperti bentuk dewasa, bedanya nimfa berwarna hijau dan tidak bersayap sedangkan dewasa berwarna coklat dan bersayap. Selama periode nimfa terjadi 4 kali pergantian kulit sebelum menjadi dewasa. Lama periode nimfa berkisar 17 hari pada suhu 21-23 derajat Celcius. Pada daerah yang lebih dingin, lama periode telur dan nimfa akan lebih panjang, misalnya periode telur dan nimfa masing-masing 13 dan 21 hari. Lama periode prapeneluran berkisar 8 hari. Jadi lama siklus hidup walang sangit berkisar 30-45 hari. Lama hidup dewasa berkisar 16-134 hari dengan menghasilkan telur rata-rata 248 butir per induk (Kartoharjono, 2009).

Telur walang sangit berwarna hitam kecoklat-coklatan yang diletakkan dalam barisan di permukaan atas daun padi. Jumlah telur pada setiap kelompok kira-kira 10-20 butir. Setiap walang sangit betina dapat bertelur lebih dari 100 butir telur dan telur akan menetas setelah 6-7 hari. Nimfa mengalami 5 instar selama 17-27 hari. Walang sangit yang dewasa berbentuk langsing dan panjangnya sekitar 16-18 mm. Bagian perut berwarna hijau atau krem dan pada punggungnya berwarna coklat kehijau-hijauan. Daur hidup rata-rata mencapai 5 minggu, kurang lebih 23-34 hari. Bila keadaan ideal daur hidupnya dapat mencapai 115 hari. Bila nimfa dan walang sangit dewasa mengisap cairan daun dan biji padi yang muda, matang susu untuk nutrisi selama daur hidupnya (Pracaya, 2008).

Menurut Rajapakse dan Kulasekera (2000) dalam Efendy et al., (2010) siklus hidup walang sangit 35-56 hari dan mampu bertelur 200-300 butir per induk. Kemampuan bertelur yang tinggi ini dapat menyebabkan peningkatan populasi hama walang sangit dengan cepat di tanaman padi sehingga hal ini akan meningkatkan tingkat serangan.

Menurut Kartoharjono (2009) walang sangit baik nimfa maupun dewasa aktif mencari makan pada pagi dan sore hari. Pada siang hari bersembunyi pada tempat-tempat yang terlindung. Serangga ini menyerang padi pada stadia generatif dan yang paling disukai adalah stadia matang susu. Jika di lapangan tidak ada tanaman padi, walang sangit dewasa akan pindah ketanaman rerumputan dan tanaman perdu pada daerah yang terlindungi dan bertahan hidup pada tanaman tersebut sampai ada tanaman padi untuk berkembangbiak. Curah hujan yang berselang seling menyebabkan populasi hama ini meningkat.

Walang sangit dewasa tahan dalam keadaan lingkungan yang tidak baik. Dalam keadaan cuaca yang kering, walang sangit mencari tempat yang teduh dan tinggal selama dalam kondisi yang panas secara berker umunan di antara daun-daun pepohonan. Walang sangit dewasa bertebrangan di area persawahan. Adanya walang sangit dapat diketahui dengan adanya bau khas walang sangit (Pracaya, 2008).

No comments:

Post a comment