Thursday, 3 November 2016

Klasifikasi Dan Morfologi Rambutan (Nephelium lappaceum L)

Klasifikasi Dan Morfologi Tumbuhan Rambutan

Rambutan (Nephelium lappaceum) banyak ditanam sebagai pohon buah, terkadang ditemukan sebagai tumbuhan liar, terutama di luar Jawa. Rambutan merupakan tanaman dataran rendah hingga ketinggian 300-600 mdpl. Rambutan mampu tubuh dengan tinggi mencapai 8 m, bercabang-cabang, dan daunnya berwarna hijau. Pohon rambutan merupakan pohon hijau abadi, menyukai suhu tropika hangat (suhu rata-rata 25 derajat Celsius). Pertumbuhan rambutan dipengaruhi oleh ketersediaan air. Setelah masa berbuah selesai, pohon rambutan akan bersemi (flushing) menghasilkan cabang dan daun baru. Tahap ini sangat jelas teramati dengan warna pohon yang hijau muda karena didominasi oleh daun muda. Pertumbuhan ini akan berhenti ketika ketersediaan air terbatas dan tumbuhan beristirahat tumbuh. 


Klasifikasi Rambutan
Klasifikasi Rambutan
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
SubkingdomTracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas Rosidae
Ordo Sapindales
Famili  Sapindaceae
Genus Nephelium

Morfologi

Pohon

Pohon rambutan akan menghasilkan bunga setelah berusia 7 tahun jika ditanam dari biji, namun pada usia 2 tahun sudah dapat berbunga jika diperbanyak secara vegetatif. Pohon rambutan terdiri dari dua jenis kelamin yaitu pohon rambutan jantan dan pohon berbiji tunggal. Pohon jantan tidak pernah bisa menghasilkan buah. Pembungaan rambutan dipengaruhi oleh musim atau ketersediaan air. Masa kering tiga bulan menghentikan pertumbuhan vegetatif dan merangsang pembentukan bunga. Di daerah Sumatera bagian utara, yang tidak mengenal musim kemarau rambutan dapat menghasilkan buah dua kali dalam setahun. Di tempat lain, bunga muncul biasanya setelah masa kering 3 bulan (di Jawa dan Kalimantan biasanya pada bulan Oktober dan November).

Bungan

Bunga majemuk tersusun dalam karangan, dengan ukuran satuan bunga berdiameter 5 cm atau bahkan lebih kecil. Bunga jantan tidak menghasilkan putik. Tumbuhan berbiji tunggal yang baru berbunga biasanya menghasilkan bunga jantan, baru kemudian diikuti dengan bunga dengan alat betina (putik). Bunga (hermafrodit) memiliki benang sari yang fungsional dan memiliki dua bakal buah, meskipun jika terjadi pembuahan hanya satu yang biasanya berkembang hingga matang, sementara yang lainnya tereduksi. Penyerbukan dilakukan oleh berbagai jenis lebah, namun yang paling sering hadir adalah Trigona, lebah kecil tanpa sengat berukuran sebesar lalat.

Buah

Buah rambutan terbungkus oleh kulit yang memiliki "rambut" dibagian luarnya (eksokarp). Warnanya hijau ketika masih muda, lalu berangsur kuning hingga merah ketika masak/ranum. Endokarp berwarna putih, menutupi "daging". Bagian buah yang dimakan, "daging buah", sebenarnya adalah salut biji atau aril, yang bisa melekat kuat pada kulit terluar biji atau lepas ("rambutan ace"/ngelotok). Pohon dengan buah masak sangat menarik perhatian karena biasanya rambutan sangat banyak menghasilkan buah. Pohon rambutan banyak dibudidayakan karena dalam buah.Jika pertumbuhan musiman, buah masak pada bulan Maret hingga Mei, dikenal sebagai "musim rambutan". Masanya biasanya bersamaan dengan buah musiman lain, seperti durian dan mangga.

Biji

Biji rambutan diperoleh dari buah rambutan yang termasuk keluarga sapindaceae. Biji rambutan berbentuk elips yang ditutupi oleh daging rambutan yang berwarna putih transparan, kulit biji rambutan tipis berkayu. Buah rambutan merupakan buah musiman ketika tiba musim rambutan muncul beberapa masalah yang ada di masyarakat, diantaranya adalah konsumsi buah rambutan yang banyak mengakibatkan sampah kulit dan biji rambutan yang dihasilkan menjadi banyak. Sampah kulit rambutan tersebut dapat digunakan sebagai pewarna alami tekstil (Danang, 2014:3) sedangkan biji rambutan belum bisa dikelola dengan baik oleh masyarakat sehingga pada saat musim rambutan tiba terjadi penumpukan sampah biji Rambutan. Biji rambutan berasa pahit, narkotik dan mungkin beracun karena mengandung saponin.

Kandungan yang terdapat dalam biji rambutan sangat beragam. Sekitar 37% dari biji rambutan merupakan lemak berwarna putih dan dapat dimakan (edible). Lemak biji rambutan terdiri dari asam lemak jenuh yaitu arakhidat (34,7%), stearat (13,8%), erikosenoat (4,2%), dan palmitat (2%), serta asam lemak tak jenuh yaitu oleat (45,3%) (Zee, 1998: 14). Sedangkan pada penelitian yang dilakukan Suwarso dan Hudiyono (1996) terhadap rambutan diketahui bahwa kandungan lemak dalam biji rambutan berkisar 32,4% -36,2% dan mengandung asam lemak oleat, arakhidat, stearat, linoleat, palmitat, laurat dan miristat.

Daftar Pustaka:
  • http://bpdas-pemalijratun.dephut.go.id
  • http://eprints.uny.ac.id/27434/1/SKRIPSI.pdf 
  • (http://repository.ipb.ac.id.)


No comments:

Post a comment