Tuesday, 8 November 2016

Klasifikasi Dan Morfologi Jahe

Klasifikasi Dan Morfologi Tanaman Jahe

Tanaman jahe (Zingiber officinale Rosc.) merupakan salah satu temu-temuan yang penting. Tanaman ini mempunyai banyak kegunaan antara lain sebagai ramu-ramuan dan rempah-rempah, bahan minyak atsiri, bahkan akhir-akhir ini menjadi fitofarmaka (Januwati, 1999).

Klasifikasi Dan Morfologi Jahe

Jahe merupakan salah satu komoditas tanaman obat yang mempunyai prospek yang cukup bagus untuk dikembangkan di Pasar dalam negeri, regional maupun internasional. Nilai dari tanaman terletak pada rimpangnya yang umum dikonsumsi sebagai minuman penghangat, bumbu dapur dan penambah rasa dan sebagai bahan baku obat tradisional atau yang lebih populer dengan istilah jamu. Rimpang jahe mengandung minyak atsiri 0,25-3,3% yang terdiri dari zingiberene, curcumene, philandren. Rimpang jahe mengandung oleoresin 4,3-6,0% yang terdiri dari gingerol serta shogaol yang menimbulkan rasa pedas (Bartley dan Jacobs, 2000).

Klasifikasi Jahe

Klasifikasi Jahe
Kingdom         Plantae  
Divisio  Spermatophyta 
Subdivisi            Angiospermae
Kelas      Monococtyledoneae
Ordo    Zingiberales 
Famili Zingiberaceae  
Genus    Zingiber
Species   Zingiber officinale Rosc.

Morfologi Jahe

Jahe merupakan tumbuhan herba menahun yang tumbuh liar di ladang-ladang berkadar tanah lembab dan memperoleh banyak sinar matahari. Batangnya tegak, berakar serabut, dan berumbi dengan rimpang mendatar (Lukito, 2007). 

Akar

Akar merupakan bagian terpenting dari tanaman jahe. Pada bagian ini tumbuh tunas-tunas baru yang kelak akan menjadi tanaman. Akar tunggal (rimpang) itu tertanam kuat didalam tanah dan makin membesar dengan pertambahan usia serta membentuk rhizoma – rhizoma baru (Rukmana, 2000).

Batang

Jahe tumbuh merumpun, berupa tanaman terna tahunan berbatang semu. Tanaman tumbuh tegak setinggi 30 – 75 cm. Seluruh batang semunya terbentuk dari seludang daun yang memanjang, tertutup, dan melingkar. Bagian luar batang agak licin, agak mengkilap, dan berwarna hijau tua. Batangnya basah karena banyak mengandung air sehingga digolongkan kedalam herba (Lukito, 2007). 

Daun

Helaian daunnya bertangkai pendek sepanjang 0.75-1 cm. Bentuk helaian daun lanset dengan ujung lancip. Panjang daun 15-23 cm dan lebar 0.8-2.5 cm. Tangkainya berbulu atau gundul. Ketika daun mengering dan mati, pangkal tangkainya (rimpang) tetap hidup dalam tanah. Rimpang tersebut kelak akan bertunas dan tumbuh menjadi tanaman baru setelah terkena hujan (Santoso, 1994).

Bunga
 
Bunga jahe berupa malai yang tersembul di permukaan tanah, berbentuk tongkat atau bulat telur yang sempit. Aroma bunga sangat tajam, panjang malai bunga 3.5-5 cm dan lebar 1.5-1.75 cm. Gagang bunga hampir tidak berbulu, panjang 25 cm. Sisik digagang sebanyak 5-7 buah, berbentuk lanset, letaknya berdekatan atau rapat, hampir tidak berbulu, dan panjangnya 3-5 cm. Daun pelindung bunga berbentuk bulat telur terbalik, bundar pada ujungnya, tidak berbulu, berwarna hijau cerah, panjang 2.5 cm, dan lebar 1-1.75 cm. Mahkota bunga berbentuk tabung sepanjang 2-2.5 cm. Helaian mahkota bunga agak sempit, berbentuk tajam, berwarna kuning kehijauan dengan panjang 1.5-2.5 mm dan lebar 3-3.5 mm. Sementara bibit bunga berwarna ungu, gelap, berbintik-bintik putih kekuningan, panjang 12-15 mm. Kepala sari berwarna ungu, panjang 9 mm, dan tangkai putiknya ada dua (Harmono dan Andoko, 2005).

Rimpang
 
Rimpang jahe membentuk umbi, besar kecilnya umbi bergantung pada varietas tanamannya. Rimpang agak pipih ke pinggir membentuk cabang (ranting) ke segala arah yang saling tumpang tindih. Cabang rimpang yang berada di atas dapat tumbuh membentuk batang baru, sedangkan yang berada di bagian bawah merupakan perakaran baru (Wiroatmodjo, Suroso dan Januwati, 1988).

Rimpang jahe berbuku – buku, gemuk, agak pipih, membentuk akar lateral (akar serabut). Rimpang tersebut tertanam kuat dalam tanah dan semakin membesar sesuai dengan bertambahnya usia dengan membentuk rimpang-rimpang baru. Kulit luar rimpang mudah dikelupas. Rimpang berkulit agak tebal, membungkus daging rimpang (jaringan parenchyma). Didalam sel-sel rimpang tersimpan minyak atsiri yang aromatis dan oleoresin khas jahe (Harmono dan Andoko, 2005).

No comments:

Post a comment