Monday, 21 November 2016

Klasifikasi Dan Morfologi Eocanthecona Furcellata Wolff

Klasifikasi Dan Morfologi Eocanthecona furcellata (predator ulat api)

Penelitian-penelitian terdahulu menunjukka n bahwa E. furcellata merupakan predator penting dari ulat pemakan daun kalapa sawit (UPDKS) dari famili Limacodidae. Oleh karena itu predator ini perlu disebarluaskan ke pertanaman kelapa sawit sehingga dapat menjadi salah satu faktor mortalitas pada pengendalian Hayati UPDKS. Untuk mencapai tujuan ini perlu dilakukan pembiakan massal predator E. furcellata (Desmier de Chenon, 1989; Sipayung et al, 1989). 


Eocanthecona furcellata, dari hasil penelitian di laboratorium dan di lapangan yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit Marihat disimpulkan bahwa predator ini merupakan predator ulat pemakan daun kelapa sawit yang potensial, perlu dikembangkan dan disebarluaskan di perkebunan kelapa sawit (Purba dkk., 1986).

Predator E. furcellata merupakan predator yang sangat berguna bagi pengendalian hama ulat api di perkebunan kelapa sawit. Kemampuannya dalam memangsa ulat api dilapangan, serta siklus hidupnya yang singkat dan kemampuan reproduksi yang tinggi membuat predator ini sangat potensial untuk diaplikasikan dalam pengendalian hama ulat api. Selain itu, pengendalian dengan menggunakan predator ini dapat berlangsung secara berkesinambungan atau terus menerus di alam.

Klasifikasi Eocanthecona furcellata Wolff

Klasifikasi Eocanthecona furcellata Wolff
Phylum Arthropoda
Klass           Insecta
Ordo Hemipt era
Family Pentatomidae
Genus Eocanthecona
Spesies Eocanthecona furcellata Wolff.

Morfologi Eocanthecona furcellata Wolff

E. Furcellata merupakan predator yang baik untuk dikembangkan menjadi sarana pengendalian hayati ulat perusak daun kelapa sawit khususnya ulat api. Hal ini mengingat siklus hidup yang pendek, kemampuan berbiaknya tinggi, lama hidup imago yang panjang (sekitar 2 bulan) serta kemampuan meletakkan telur pada helaian daun kelapa sawit, sehingga memungkinkan baik nimfa maupun imagonya hidup pada tajuk daun kelapa sawit dan aktif memangsa ulat api (Desmeir de Chenon,1989; Sipayung dkk., 1989)

Telur

E. Furcellata meletakkan telur dalam kelompok-kelompok telur. Seekor betina mampu meletakkan kelompok telur 1-4 kali dan jumlah telur per kelompok berbeda-beda tergantung kepada spesiesnya. Dari spesies-spesies yang telah dipelihara, E furcellata adalah spesies yang paling tinggi kemampuan reproduksinya (Sipayung, 1990).

Bagian samping dari telur berwarna hitam, dengan bagian atasnya lebih bersih dan bercahaya kecuali pada bagian tengahnya. Ukuran tinggi telur 1,02 mm (0,96-1,08mm) dan lebar 0,88 mm (0,84-0,92 mm). Telur diletakkan berkelompok sebanyak 9 sampai 74 butir telur, dengan rata-rata 48,33 telur dalam satu kelompok. Betina bertelur rata-rata 2 sampai 4 kali dalam waktu 23 hari (Sipayung dkk., 1991).

Nimfa
Nimfa berwarna hitam pada bagian kepala dan kaki, abdomen jingga sampai ke merahan dengan garis putus-putus pada tepi dan tengah dari abdomen. Dari stadia nimfa hingga dewasa mengalami 5 kali pergantian kulit. Perkembangan dengan menggu nakan ulat api S. nitens sebagai mangsa memerlukan waktu 4 minggu (telur sampai imago) dan 6 minggu untuk keseluruhan generasi (Miller, 1956), dan jika diberi makan dengan S. asigna, siklus hidup berkisar antara 44 sampai 76 hari (Desmier de Chenon, 1989). Nimfa instar satu yang baru menetas belum mau makan, nimfa instar dua mulai memakan hama ulat api pada daun tanaman kelapa sawit begitu juga instar tiga, instar empat, instar lima sampai imago (Sipayung dkk., 1991).

Imago

Imago dari predator ini mempunyai ukuran, jantan panjangnya 11,30 mm dan lebar 5,36 mm (5,16-5,66 mm); betina sedikit lebih besar dengan panjang 14,65 mm (13,83-15,50 mm) dan lebar 6,86 (6,50-7,16 mm). Imago pada umumnya tampak berwarna hitam, cukup cerah dengan warna hijau berkilau terutama pada bagian scutellum. Imago mempunyai perbesaran pada tibia, inilah yang membedakannya dengan genus Cantheconidea (Sipayung dkk., 1991). Scutellum besar pada sisi kanan dan kiri pronotum terdapat suatu struktur yang menyerupai tanduk yang disebut humeral tooth (gigi yang membujur), yang mencirikan sifat predator dari serangga tersebut ( Miller, 1956 ; Kalshoven, 1981).

No comments:

Post a comment