Sunday, 20 November 2016

Klasifikasi Dan Morfologi Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata L)

Klasifikasi Dan Morfologi Tanaman Cocor Bebek

Tanaman cocor bebek (Kalanchoe pinnata (Lam.)) merupakan salah satu tanaman obat tradisional Indonesia (Bangun, 2012). Tanaman cocor bebek memiliki banyak kegunaan, antara lain meringankan gejala maag dan penyakit usus, sakit kepala, hipertensi, dan demam (Nwose, 2013).


Penelitian Pattewar (2012) menunjukkan bahwa 4,5% ekstrak cair daun cocor bebek dalam dosis 100 mg/kg berat badan memiliki efek anti-inflamasi, yaitu menurunkan bengkak yang disebabkan oleh karagenan. Efek anti-inflamasi dari daun cocor bebek disebabkan karena adanya senyawa flavonoid dalam tanaman ini (Bangun, 2012).

Klasifikasi Tanaman Cocor Bebek

Klasifikasi Cocor Bebek
Kingdom Plantae
Subkingdom Tracheobionta
Superdivisi Spermatophyta
DivisiMagnoliophyta
KelasMagnoliopsida
Subkelas Rosidae
Ordo  Saxifragales
Famili Crassulaceae
GenusKalanchoe pinnata (Lam.)
Species Kalanchoe pinnata (Lam.)

Morfologi Tanaman Cocor Bebek

Tanaman cocor bebek memiliki beberapa sinonim, antara lain Brophyllum pinnatum, Brophyllum calycinum, B. Germinans, B., pinnatum, Cotyledon calycina, C. calyculata, C.pinnata, C. rhizophilla, Crassuvia floripendia, Crassula pinnata, Sedum madagascariense, Verea pinnata (Majaz dkk., 2011).

Tanaman cocor bebek memiliki batang yang lunak dan beruas. Daunnya tebal berdaging dan mengandung banyak air. Warna daun hijau muda, kadang-kadang abu-abu, bunga majemuk, dan buah kotak (Bangun, 2012).

Tumbuhan yang umum pada daerah beriklim tropika ini, merupakan tumbuhan yang memiliki tinggi sekitar 1 meter, tumbuh liar di tepi jurang, pinggir jalan dan tempat-tempat yang tanahnya berbatu-batu, daerah panas dan kering. Tumbuh dengan baik pada daerah hingga 1.000 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini dapat dikembangbiakkan melalui daun (kuncup-kuncup daun berbentuk dalam toreh-toreh pada tepi daunnya) (Bangun, 2012).

Tanaman ini dikenal dengan nama-nama daerah, seperti daun sejuk, buntiris, jampe, jukut kawasa, tere, ceker itik, suru bebek, cocor bebek, teres, tuju dengen, didingin beueu, mamala, rau kufiri, kabi-kabi, daun ancar bebek, dan daun ghemet (Haryanto, 2009).

Farmakologi Cina dan pengobatan tradisional lainnya menyebutkan bahwa tanaman ini memiliki sifat agak masam, lunak, dingin serta berkhasiat antiradang, menghentikan perdarahan, mengurangi pembengkakan, dan mempercepat penyembuhan (Suhono dan tim LIPI, 2010).

Daun cocor bebek diketahui memiliki aktivitas anti-diabetik, anti-hipertensi, anti-mikroba, anti-fungi, anti-inflamasi dan analgesik, anti-asma, sitotoksik, anti-urolitik, anti-oksidan, proteksi jantung, neurosedatif, dan relaksasi otot (Afzal dkk., 2012).

Tanaman ini kaya dengan kandungan kimia, yang sudah diketahui adalah zat asam lemon, zat asam apel, vitamin C, quercitin-3-diarabinoside, dan kaemferol-3-glucoside (Haryanto, 2009).

Senyawa aktif yang terkandung dan berhasil diisolasi dari cocor bebek antara lain alkaloid, triterpen, lipid, flavonoid, glikosida, bufadienolida, fenol, dan asam organik. Flavonoid yang terkandung di dalam daun cocor bebek inilah yang memiliki aktivitas anti-inflamasi (Afzal dkk., 2012).

No comments:

Post a comment