Wednesday, 9 November 2016

Interaksi Antara Timbal (Pb) Dengan Tanaman

Interaksi Antara Timbal (Pb) Dengan Tanaman

Widaglo (2005) menyatakan bahwa kamampuan daun menangkap partikel sangat dipengaruhi oleh keadaan permukaan daun yaitu kebasahan, kelengketan, dan bulu daun. Semakin tinggi kandungan partikel Pb di udara akan semakin tinggi pula kandungan partikel Pb yang terserap oleh daun tanaman. Hal tersebut terjadi karena semakin besar kandungan partikel Pb di udara akan semakin besar kemungkinan bertubrukan dengan daun dan masuk ke dalam stomata sampai tersimpan dalam lapisan epidermis dan mesofil akan lebih besar. Semakin besar kemampuan tanaman menyerap Pb dari udara maka semakin banyak Pb dapat dibersihkan dari udara.

Timbal merupakan unsur yang tidak esensial bagi tanaman, kandungannya berkisar antara 0,1-10 ppm dan kandungan timbal dalam tanaman untuk berbagai jenis secara normal berkisar antara 0,5-3 ppm. Untuk tanaman tertentu tingkat keracunan terhadap timbal sangat tinggi (Siregar, 2005).

Fakuara (1986) menyatakan bahwa untuk menyerap polutan maka jenis tanaman yang dapat dipakai adalah tanaman yang mempunyai sifat: (1) mempunyai jumlah stomata yang cukup banyak, (2) mempunyai ketahanan tertentu terhadap polutan tertentu dan (3) mempunyai tingkat pertumbuhan yang cepat.

Penyerapan melalui daun terjadi karena partikel timbal di udara jatuh dan mengendap pada permukaan daun. Permukaan daun yang lebih kasar, berbulu dan lebar akan lebih mudah menangkap partikel dari pada daun yang halus, tidak berbulu dan sempit (Siregar, 2005).

Masuknya partikel Pb ke dalam jaringan daun karena ukuran stomata daun yang cukup besar dan ukuran partikel Pb yang lebih kecil daripada ukuran stomata. Timbal (Pb) masuk ke dalam daun melalui proses penyerapan pasif. Akumulasi Pb di dalam jaringan daun akan lebih besar daripada bagian lainnya. Jumlah kandungan Pb dalam suatu jenis tanaman bervariasi menurut organ (Dahlan, 1989).

Partikel yang menempel pada permukaan daun berasal dari tiga proses yaitu: (1) sedimen akibat gaya gravitasi, (2) tumbukan akibat turbulensi angin dan (3) pengendapan yang berhubungan dengan hujan. Widagdo (2005) mengemukakan bahwa celah stomata mempunyai panjang sekitar 10 mikrometer dan lebar antara 2-7 mikrometer. Oleh karena ukuran Pb yang dimiliki kecil yaitu kurang dari 4 mikrometer dan rata-rata 0,2 mikrometer maka partikel akan masuk ke dalam daun lewat celah stomata serta menetap dalam jaringan daun dan menumpuk diantara celah sel jaringan pagar/palisade atau jaringan bunga karang/spongi tissue. Oleh karena partikel Pb tidak larut dalam air maka senyawa Pb dalam jaringan terperangkap antara rongga antar sel sekitar stomata. Sedangkan yang lebih besar ukurannya akan terakumulasi pada permukaan kulit luar tanaman. Cemaran yang terakumulasi ini sebagian kecil dapat terjerap secara kimiawi (chemically adsorbed) dan akhirnya terserap (absorbed) oleh jaringan hijau dan sebagian lagi akan tersapu oleh angin atau air hujan yang kemudian dibawa aliran angin/air dan diendapkan ke dalam tanah. Partikel berukuran sub mikro akan terdifusi ke dalam jaringan tanaman melalui stomata dan akhirnya terbawa ke dalam sistem metabolisme tanaman.

Daftar Pustaka
  • Dahlan, E.N. 1989. Dampak pencemaran udara terhadap manusia dan beberapa komponen sumber daya alam. Media Konservasi. Vol II (2): 39-34
  • Fakuara, M.Y. 1986. Hutan Kota: Pereanan dan permasalahannya. Bogor: Fakultas Kehutanan. IPB
  • Siregar, E.B.M. 2005. Pencemaran udara, respon tanaman dan pengaruhnya pada manusia. Medan: Karya Ilmiah Fakultas Pertanian (USU)
  • Widagdo, S. 2005. Tanaman elemen lanskap sebagai biofilter untuk mereduksi polusi timbal (Pb) di udara. Makalah Pribadi Falsafah Sains. Bogor Sekolah Pasca Sarjana/S3 IPB

No comments:

Post a comment