Wednesday, 16 November 2016

Diabetes Melitus Adalah

Pengertian Diabetes Melitus

Diabetes melitus merupakan suatu penyakit gangguan metabolisme karbohidrat yang disebabkan oleh kekurangan insulin dengan menimbulkan efek hiperglikemik (Hanafiah dkk, 1981). Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, diabetes berarti mengalir terus dan melitus berarti madu atau manis. Di Indonesia penyakit ini dikenal dengan nama penyakit gula atau kencing manis (Dalimartha, 2003).


Penderita diabetes tidak mampu memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup atau tubuh tak mampu menggunakan insulin secara efektif sehingga terjadilah kelebihan gula di dalam darah. Kelebihan yang kronis di dalam darah disebut dengan hiperglikemia dan menjadi racun bagi tubuh (Sustrani dkk, 2006). Selain bertumpuk di dalam darah, kadar gula yang berlebihan dalam tubuh juga akan disekresikan lewat kemih tanpa digunakan (Tjay dan Rahardja, 2007).

Hiperglikemia juga menyebabkan glukosa darah tidak dapat masuk ke sel-sel otot, jaringan adiposa atau hepar dan metabolismenya terganggu. Pada penderita diabetes melitus semua proses tersebut terganggu, glukosa tidak dapat masuk ke sel sehingga energi terutama diperoleh dari metabolisme protein dan lemak (Syarif dkk, 2007). Menurut Sukandar, dkk (2008), kriteria diagnosis diabetes melitus adalah kadar glukosa puasa >126 mg/dL atau 2 jam setelah makan >200 mg/dL. Jika kadar glukosa 2 jam setelah makan >140 mg/dL tetapi lebih kecil dari 200 mg/dL dinyatakan glukosa toleransi lemah.

Ada beberapa jenis gangguan pada sistem metabolisme yang terjadi pada pankreas yang memproduksi insulin, di antaranya adalah:

1. Diabetes melitus tipe 1 (IDDM)

DM (Diabete melitus) tipe ini berkembang pada anak-anak atau pada masa awal dewasa yang disbabkan oleh kerusakan sel pankreas akibat autoimun, sehingga terjadi defisiensi insulin absolut. Hiperglikemia terjadi apabila 80-90% dari sel pankreas rusak. Penyakit DM dapat menjadi penyakit menahun dengan resiko komplikasi dan kematian (Sukandar dkk, 2008). Faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya autoimun tidak diketahui, tetapi proses tersebut diperantarai  oleh makrofag dan limfosit T dengan autoantibodi yang bersirkulasi ke berbagai antigen sel (Sukandar dkk, 2008). Menurut Sustrani, dkk (2006), penderita diabetes Tipe 1 ini sangat rentan terhadap komplikasi jangka pendek yang berbahaya dari penyakit ini, yakni dua komplikasi yang erat hubungannya dengan perubahan kadar gula darah, yaitu terlalu banyaknya gula darah (hiperglikemia) atau kekurangan gula darah (hipoglikemia). Resiko lain penderita diabetes tipe 1 adalah keracunan senyawa keton yang berbahaya dari hasil samping metabolisme tubuh yang menumpuk (ketoasidosis) dengan resiko mengalami koma diabetik.

2. Diabetes melitus tipe 2 (NIDDM)

Terjadi pada 90% dari semua kasus diabetas dan biasanya ditandai dengan resistensi insulin dan defisiensi insulin relatif. Resistensi insulin ditandai dengan peningkatan lipolisis dan produksi asam lemak bebas, peningkatan produksi glukosa hepatik, dan penurunan pengambilan glukosa pada otot skelet. Disfungsi sel mengakibatkan gangguan pada pengontrolan glukosa darah (Sukandar dkk, 2008).

3. Diabetes Gestasional (GDM)

Diabetes ini terjadi pada masa kehamilan dan muncul pada minggu ke 24 (bulan keenam). Diabetes gestasional biasanya akan menghilang sesudah melahirkan. Dan pada wanita hamil dengan penyakit gula, rugulasi glukosa yang ketat adalah penting sekali untuk menurunkan resiko akan geguguran spontan, cacat, dan kematian prenatal (Kariadi, 2009).

4. Diabetes tipe lain

Yang dimaksud dengan diabetes tipe lain adalah diabetas yang tidak termasuk tipe 1 dan 2 yang disebabkan oleh kelainan tertentu. Misalnya, diabetes yang timbul karena kenaikan hormon-hormon yang kerjanya berlawanan dengan insulin atau hormon kontra-insulin, misalnya diabetes yang muncul pada penyakit kelebihan hormon tiroid (Kariadi, 2009).

Daftar Pustaka:
  • Dalimartha, S. 2003. Ramuan tradisional untuk pengobatan diabetes melitus. Jakarta: Penebar Swadaya.
  • Kariadi, S.H. 2009. Diabetes (panduan lengkap untuk diabetesi, keluarganya, dan profesional medis). Bandung: Qanita.
  • Sukandar, E.Y., Andrajati, R., Sigit J.L., Andyana, I.K., Setiadi, A.P., dan Kusnandar. 2008. Iso farmakoterapi. Jakarta: Penerbittan ISFI.
  • Sustrani, L., Alam, S., dan Hadibroto, I. 2006. Diabetes. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Syarif, A., Estuningtyas, A., dan Setiawati, A. 2007. Farmakologi dan terapi. Edisi kelima. Jakarta: Gaya Baru.
  • Tjay, T.H. dan Rahardja, K. 2007. Obat-obat penting (khasiat, penggunaan, dan efek-efek sampingnya). Edisi keenam. Jakarta: Elex Media Komputindo.

No comments:

Post a comment