Tuesday, 4 October 2016

Variabel, Faktor Penyebab Dan Indikator Kemiskinan

A. Variabel Kemiskinan Yaitu:

Menurut Ritonga Hamonangan (2003:9) variabel-variabel kemiskinan adalah:

a. Pangan
  1. Jumlah konsumsi kalori perkapita perhari dibawah 2100 kalori.
  2. Cara memperoleh kebutuhan pokok (beli tunai, berhutang, produksi sendiri).
  3. Sumber utama protein (ikan asin, tempe, tahu, telur dan daging).
  4. Frekuensi makan sendiri.
b. Sandang
  1. Frekuensi membeli pakaian.
  2. Jumlah pakaian yang dimiliki.
  3. Papan atau rumah beserta perlengkapan dan lingkungannya.
  4. Kepemilikan rumah (milik rumah sendiri, bukan milik sendiri).
  5. Kepemilikan meja dan korsi.
  6. Jenis atap (genteng, seng, daun-daunan dan sebgainya).
  7. Jenis dinding terluas (tembok, kayu, papan, anyaman, bambu dan sebagainya).  
c. Luas bangunan
  1. Jenis lantai terluas (tanah, bukan tanah).
  2. Kondisi lingkungan rumah (layak huni, tidak layak huni).
  3. Sumber air minum (ledeng, pompa atau sumber, air sungai, air hujan).
  4. Sumber penerangan (listrik, bukan listrik).
  5. Bahan bakar masak (minyak tanah, kayu bakar, dan sebagainya).  
d. Pendidikan
  1. Kemampuan menyekolahkan anak.
  2. Menunggak biaya pendidikan.
  3. Anak usia 7-12 tahun yang belum sekolah.
  4. Anak putus sekolah. 
e. Kesehatan
  1. Kemampuan berobat.
  2. Cara memperoleh air bersih.
  3. Tempat pembuangan hajat.
  4. Tempat pembuangan sampah.
  5. Jenis pelayanan bila anak sakit. 
f.Sosial
  1. Keterlibatan dalam perkumpulan kedaerahan.
  2. Keterlibatan dalam kegiatan kemasyarakatan.
  3. Pemanfaatan sarana umum.
  4. Bantuang keuangan pelayanan kesehatan, pendidikan, dan lain-lain.
  5. Frekuensi rekreasi. 

B. Faktor-faktor Penyebab Kemiskinan

Menurut Soeharto (2005:135) faktor-faktor terjadinya kemiskinan disebabkan oleh:

a. Faktor Internal

Kemiskinan berasal dari diri seseorang yang bersangkutan, seperti rendahnya pendidikan atau adanya hambatan budaya. Hal ini sejalan dengan teori kemiskinan budaya (cultural paperty) yang dikemukakan oleh Oscar Lewis bahwa "kemiskina  dapat muncul sebagai akibat adanya nilai-nilai atau kebudayaan yang dianut oleh orang-orang miskin. Seperti malas, mudah menyerah pada nasib, kurang memiliki etos kerja dan sebagainya".

b. Faktor Eksternal

Kemiskinan berasal dari luar kemampuan orang yang bersangkutan, seperti birokrasi atau peraturan-peraturan resmi yang dapat menghambat seseorang dalam memberdayakan sumberdaya. Kemiskinan ini terjadi bukan dikarenakan ketidak mauan orang miskin untuk bekerja (malas), melainkan karena ketidakmampuan sistem dan struktur sosial dalam menyediakan kesempatan-kesempatan yang memungkinkan orang miskin dapat bekerja. Kemiskinan model ini seringkali diistilahkan dengan kemiskinan struktural.

C. Indikator Kemiskinan

Untuk kepentingan pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan diperlukan indikator yang lebih merefleksikan tingkat kemiskinan yang sesungguhnya di masyarakat. Oleh karena itu Departemen Sosial Republik Indonesia di dalam bukunya (2004:15) mengemukakan indikator kemiskinan sebagai berikut:
  1. Penghasilan rendah atau berada dibawah kemiskinan yang dapat diukur dari tingkat pengeluaran per orang per bulan berdasarkan standart BPS per wilayah provinsi dan kabupaten/kota.
  2. Ketergantungan pada bantuan pangan kemiskinan (zakat/beras miskin/santunan sosial).
  3. Keterbatas kepemilikan pakaian yang cukup setiap anggota keluarga pertahun (hanya mampu memiliki satu stel pakaian lengkap per orang per tahun).
  4. Tidak mampu membiayai pengobatan jika ada salah satu anggota keluarga yang sakit.
  5. Tidak mampu membiayai pendidikan dasar 9 tahun bagi anak-anaknya.
  6. Tidak memiliki harta yang dapat dijual untuk membiayai kebutuhan hidup selama tiga bulan atau dua kali batas kemiskinan.
  7. Ada anggota keluarga yang meninggal dalam usia muda atau kurang dari 40 tahun akibat tidak mampu mengobati penyakit sejak awal.
  8. Ada anggota keluarga usia 15 tahun ke atas yang buta huruf.
  9. Tinggal di rumah yang tidak layak huni.

No comments:

Post a comment