Monday, 31 October 2016

Pengertian Vulva Hygiene

Pengertian Vulva Hygiene

Vilva hygiene adalah perawatan diri pada organ eksternal yang terdiri atas mons veneris, terletak didepan simpisis pubis, labia mayora yang merupakan dua lipatan besar yang membentuk vulva, labia minora dua lipatan kecil diantara atas labia mayora, klitoris, kemudian juga bagian yang terkait disekitarnya seperti uretra, vagina, perineum, dan anus (Musrifatul, 2006).

Cara Melakukan Vulva Hygiene

Seharusnya, merawat organ intim tanpa kuman dilakukan sehari-hari mulai bangun tidur dan mandi pagi. Daerah disekitar vagina harus dibersihkan dengan sabun, sama halnya seperti bagian tubuh yang lainnya. Membersihkan organ intim wanita tidak perlu sampai kebagian dalamnya, cukup pada bagian luar permukaan vagina saja. Terpenting, mengeringkan daerah disekitar vagina sebelum berpakaian. Sebab, bila tidak dikeringkan, akan menyebabkan celana dalam yang dipakai menjadi basah dan lembab. Selain tidak nyaman dipakai, celana basah dan  lembab berpotensi mengandung bakteri dan jamur.

Beberapa wanita, ada yang dengan sengaja terbiasa menaburkan bedak di vagina dan di sekitarnya. Tujuannya agar organ intimnya menjadi harum dan kering sepanjang hari. Cara itu tidak dianjurkan karena ada kemungkinan bedak tersebut akan menggumpal disela-sela lipatan vagina yang sulit terjangkau tangan untuk dibersihkan. Bila dibiarkan, tumpukan bedak ini lama kelamaan akan mengandung kuman. Ini disebabkan karena struktur vagina yang memiliki banyak lipatan (rugae), sehingga dianjurkan untuk membilas dan menggosok bagian vagina dengan cermat terutama setelah buang air kecil. Hal ini dimasukan untuk mencegah tertinggalnya sisa air kemih maupun kotoran lainnya. Setelah itu keringkan vagina dengan menggunakan tissue ataupun handuk kecil. Bila celana dalam terkena cipratan air kemih atau air bilasan, usahakan untuk segera diganti dengan celana kering. Yang paling baik, disediakan celana dalam ganti di dalam tas kemanapun juga untuk berjaga-jaga.

Celana dalam ikut menentukan kesehatan organ intim. Bahan yang paling baik dari katun, karena dapat menyerap keringat dengan sempurna. Celana dalam dari bahan satin ataupun bahan sintetik lainnya, justru menyebabkan organ intim menjadi panas dan lembab. Bahan pakaian luarpun perlu diperhatikan oleh seorang wanita. Bahan dari jins memiliki pori-pori yang sangat rapat, sehingga tidak memungkinkan udara untuk mengalir secara leluasa.

Rok atau celana berbahan kain lebih dianjurkan, terutama bagi wanita yang sedang mengalami haid dan gemuk. Darah yang keluar saat haid menyebabkan darah sekitar vagina menjadi lebih lembab dari pada biasanya. Untuk itu harus pula diperhatikan lebih cermat dibandingkan pada hari biasanya. Idealnya, pembalut saat haid diganti setiap habis mandi dan selesai buang air kecil walau hal ini prakteknya sulit untuk dilakukan. Dianjurkan untuk mengganti pembalut 4-5 kali sehari disaat darah haid sedang banyak-banyaknya. Bila ada hari-hari haid terakhir, cukup mengganti pembalut 3 kali sehari yaitu pada bagi, sore dan malam hari. 

Perlu diketahui darah haid merupakan tempat idealnya bagi pertumbuhan bakteri dan jamur penyebab keputihan dan infeksi. Kalau seharian terus-menerus memakai pembalut tanpa diganti akan menimbulkan rasa gatal disekitar vagina.

Kalau gatal itu digaruk, dapat menyebabkan luka lecet. Jika luka lecet tersebut mengalami kontak dengan darah haid yang penuh dengan bakteri, bisa dipastikan akan memperparah keadaan luka tersebut.

Tips merawat antara lain:
  1. Mencuci vagina setiap hari.
  2. Usahakan dalam keadaan kering.
  3. Hindari celana dalam yang ketat.
  4. Usahakan celana dalam dari bahan katun.
  5. Gunakan sabun khusus pembersih vagina dengan pH 4-5.
Untuk mengurangi kelembaban disekitar daerah organ intim wanita, sebaiknya menggunakan panty liner. Beberapa hari menjelang dan sesudah haid, biasanya wanita akan mengalami keputihan normal (bukan penyakit) sebagai akibat pengaruh hormon. Pada saat seperti itu, pemakaian panty liner pun sebaiknya tidak dipakai terus menerus dari pagi sampai sore hari. Sebaiknya panty liner juga diganti siang hari meskipun sekilas terlihat kering dan bersih, karena bisa saja dipermukaan panty liner tersebut terdapat cairan keputihan atau sisa air kemih yang menempel.
  
Sebab, bila tidak segara diganti, maka bakteri dan kotoran akan kontak kembali dengan permukaan luar vagina sehingga mengakibatkan inveksi dan keputihan abnormal. Pemakaian panty liner terus menerus tiap hari juga sangat tidak dianjurkan jika tidak dalam keadaan keputihan, karena panty liner akan menutup aliran udara disekitarnya sehingga menyebabkan kondisi disekitar vagina menjadi panas dan semakin lembab.

Panty liner sebaiknya tidak digunakan pada saat haid tapi diluar waktu haid. Jenis apa yang akan dipilih tergantung selera dan ketahanan kulit masing-masing wanita. Yang jelas ada dua pilihan, yakni yang mengandung parfum dan nonparfum.

Biasanya wanita lebih menyukai panty liner dengan parfum. Alasannya, mereka merasa daerah organ intimnya menjadi lebih wangi seperti memakai bedak. Pemakaian tissue untuk membersihkan vagina usai air kecil tidak menyehatkan. Ini karena tissue tidak mampu untuk mengangkat semua kotoran yang masih melakt pada organ intim. Selain itu tissue juga belum tentu steril (bebas kuman). Ada tissue yang terbuat dari serbuk kayu yang bisa jadi telah tercemar jamur pada saat proses pembuatannya. Membersihkan vagina dengan air akan lebih baik dibandingkan dengan tissue. Yang penting diingat bahwa setelah membasuh vagina usai buang air kecil, vagina harus dikeringkan, jangan biarkan vagina dalam keadaan basah. Atau kalau terpaksa menggunakan tissue, sebaiknya tissue dibasahkan dulu karena tissue kering tidak mampu menyerap habis sisa air seni dan kotoran yang menempel disekitar vagina.

Terpenting kondisi organ intim wanita harus dalam keadaan kering. Sebab kalau lembab atau basah bisa menjadi tempat bertumbuhnya jamur dan kuman. Untuk menjaga agar tetap kering bisa menggunakan panty liner atau tissue (Pribakti, 2012).

Menurut Hidayat (2008), vulva hygiene merupakan tindakan pada pasien yang tidak mampu membersihkan vulva sendiri. Tujuannya adalah mencegah terjadinya infeksi pada vulva dan menjaga kebersihan vulva. Dan membersihkan alat kelamin wanita harus cuci tangan terlebih dahulu sebelum menyentuhnya dengan menggunakan air bersih (Saleha, 2009). Dan menurut Mubarak (2007), tujuan perawatan perineum adalah untuk mencegah dan mengontrol infeksi, mencegah kerusakan kulit, meningkatkan kenyamanan, serta mempertahankan kebersihan diri. Pada wanita, perawatan pirenium dilakukan dengan membersihkan area genetalia eksterna pada saat mandi. Umumnya wanita lebih suka melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain apabila mereka masih mampu secara fisik.

 




No comments:

Post a comment