Thursday, 6 October 2016

Pengertian Tujuan Pemberdayaan Masyarakat Dengan Jelas

A. Pengertian Tujuan Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan menunjuk pada kemampuan orang, khusus kelompok rentan dan lemah sehingga mereka memiliki kekuatan atau kemampuan dalam (a) memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga mereka memiliki kebebasan (freedom), dalam arti bukan saja bebas mengemukakan  pendapat, melainkan bebas dari kelaparan, bebas dari kebodohan, bebas dari kesakitan; (b) menjangkau sumber-sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatnya dan memperolah barang-barang dan jasa-jasa yang mereka perlukan; dan (c) berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka. Beberapa ahli dibawah ini mengemukakan definisi pemberdayaan dilihat dari tujuan, proses dan cara-cara pemberdayaan (Suharto ,1997:210-224 dalam Edi Suharto 2005).
  1. Pemberdayaan bertujuan untuk meningkatkan kekuasaan orang-orang yang lemah atau tidak beruntung (Ife, 1195).
  2. Pemberdayaan adalah sebauh proses dengan nama orang menjadi cukup kuat untuk berpartisipasi dalam, berbagai pengontrolan atas, dan mempengaruhi terhadap kejadian-kejadian serta lembaga-lembaga yang mempengaruhi kehidupannya. Pemberdayaan menekankan bahwa orang memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan kekuasaan yang cukup untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi perhatiannya (Persons et al, 1994).
  3. Pemberdayaan menunjuk pada usaha pengalokasian kembali kekuasaan melalui pengubahan struktur sosial (Swift dan Levin, 1987).
  4. Pemberdayaan adalah suatu cara dengan mana rakyat, organisasi, dan komunitas diarahkan agar mampu menguasai atau berkuasa atas kehidupannya (Rappaport, 1984).
Menurut K. Suhendra (2006:86) tujuan pemberdayaan masyarakat dengan ciri-ciri, demokratis, kesetaraan masyarakat dengan pemerintah, kebebasan berbicara, kebebasan berkreativitas, hak untuk merencanakan, hak untuk mengelola asset lokal, hak untuk mengawasi jalannya roda pemerintahan, hak untuk menikmati jarih payah sebagai buah pembangunan adalah sekaligus tujuan yang akan dituju oleh gerakan pemberdayaan masyarakat.

Sedangkan menurut Edi Suharto (2005:60) tujuan utama pemberdayaan adalah memperkuat kekuasaan masyarakat, khususnya kelompok lemah yang memiliki ketidak berdayaan, baik karena kondisi internal (misal persepsi meraka sendiri), maupun karena kondisi eksternal(misalnya ditindas oleh struktur sosial yang tidak adil). Beberapa kelompok yang dapat dikategorikan sebagai kelompok lemah atau tidak berdaya meliputi:
  1. Kelompok lemah secara struktural, baik lemah secara kelas, gender, maupun etnis.
  2. Kelompok lemah Khusus, seperti manula, anak-anak dan remaja, penyandang cacat, gay dan lesbian, dan masyarakat terasing.
  3. Kelompok lemah secara personal, yakni mereka yang mengalami maslah pribadi dan keluarga.
Pelaksanaan proses dan pencapaian tujuan pemberdayaan di atas dicapai melalui penerapan pemberdayaan yang dapat disingkat menjadi 5P, yaitu: Pemungkinan, penguatan, perlindungan, penyokongan, dan pemeliharaan (Suharto, 1997:218-219 dalam Edi Suharto , 2005:67-68).
  1. Pemungkinan: menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang secara optimal. Pemberdayaan harus mampu membebaskan masyarakat dari sekat-sekat kultural dan struktural yang menghambat.
  2. Penguatan: memperkuat pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki masyarakat dalam memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Pemberdayaan harus mampu menumbuh kembangkan segenap kemampuan dan kepercayaan diri yang menunjang kemandirian mereka.
  3. Perlindungan: melindungi masyarakat terutama kelompok lemah agar tidak tertindas olah kelompok kuat, menghindari terjadinya persaingan yang tidak seimbang (apa lagi tidak sehat) antara yang kuat dan yang lemah, pemberdayaan harus diarahkan pada penghapusan segala jenis diskriminasi dan dominasi yang tidak menguntungkan rakyat kecil.
  4. Penyokongan: memberikan bimbingan dan dukungan agar masyarakat mampu menjalankan peranan dan tugas-tugas kehidupannya. Pemberdayaan harus mampu menyokong masyarakat agar tidak terjaduh kedalam keadaan dan posisi yang semakin lemah dan terpinggirkan.
  5. Pemeliharaan: memelihara kondisi yang kondusif agar tetap terjadi keseimbangan distribusi kekuasaan antar berbagai kelompok dalam masyarakat. Pemberdayaan harus mampu menjamin keselarasan dan keseimbangan yang memungkinkan setiap orang memperoleh kesempatan berusaha.

B. Indikator Pemberdayaan Masyarakat

Menurut K. Suhendra (2006:88) menyertai konsep pemberdayaan masyarakat melekat indikator-indikatornya sebagaimana diuraikan. Adapun indikator masyarakat yang berdaya adalah:
  1. Mempunyai kemampuan menyiapkan dan menggunakan pranata dan sumber-sumber yang ada dimasyarakat. 
  2. Dapat berjalannya "botton up planning".
  3. Kemampuan dan aktivitas ekonomi.
  4. Kemampuan menyiapkan hari depan keluarga.
  5. Kemampuan menyampaikan pendapat dan aspirasi tanpa adnya tekanan.
Masyarakat yang berdaya akan mampu dan kuat untuk berpartisipasi dalam pembangunan, mampu mengawasi jalannya pembangunan dan juga menikmati hasil pembangunan.

Adapun unsur-unsur pemberdayaan masyarakat diantaranya adalah:
  1. Kemauan politik yang mendukung.
  2. Suasana kondusif untuk mengembangkan potensi secara menyeluruh.
  3. Motivasi.
  4. Potensi masyarakat.
  5. Peluang yang tersedia.
  6. Kerelaan mengalihakan wewenang.
  7. Perlindungan.
  8. Awareness (kesadaran).
Menurut Kieffer (1981) dalam Edi Suharto (2005:63) indikator keberdayaan mancakup tiga dimensi yang meliputi kompetensi kerakyatan, kemampuan sosio politik, dan kompetensi partisipatif (Suharto, 1997. Persons et al (1994:106) juga mengajukan tiga dimensi pemberdayaan yang merujuk pada:
  1. Sebuah proses pembangunan yang bermula dari pertumbuhan individual yang kemudian berkembang menjadi sebuah perubahan sosila yang lebih besar.
  2. Sebuah keadaan psikologi yang ditandai oleh rasa percaya diri, berguna dan mampu mengendalikan diri dan orang lain.
  3. Pembebasan yang dihasilkan dari sebuah gerakan sosial, yang dimulai dari pendidikan dan politisasi orang-orang lemah dan kemudian melibatkan upaya-upaya kolektif dari orang-orang lemah tersebut untuk memperoleh kekuasaan dan mengubah struktur-struktur yang masih menekan.
Untuk mengetahui fokus dan tujuan pemberdayaan secara operasional, maka perlu diketahui berbagai indikator keberdayaan yang dapat menunjukan seseorang itu berdaya atau tidak. Sehingga ketika sebuah program pemberdayaan sosial diberikan, segenap upaya dapat dikonsentrasikan pada aspek-aspek apa saja dari sasaran perubahan (misalnya keluarga miskin) yang perlu dioptimalkan.

No comments:

Post a comment