Wednesday, 26 October 2016

Pengertian Pencemaran Tanah

Pengertian Pencemaran Tanah

Istilah pencemaran mulai dipergunakan untuk pertamakalinya guna menterjemahkan istilah asing (pollution), pada seminar biologi II di Ciawi-Bogor tahun 1970 sejak saat itu mulailah istilah ini menyebar dan merata dalam bahasa Indonesia baik dalam penggunaa di media atau dipergunakan di lembaga-lembaga resmi serta didalam rencana pembangunan nasional (REPELITA II) (Soedjono, 1979).

Bahan pencemaran tanah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bahan anorganik dan organik. Bahan anorganik terutama logam berat seperti seng (Zn), tembaga (Cu), timbal (Pb) dan arsenikum (As). Bahan-bahan tersebut cendrung berada di dalam tanah dalam waktu yang lama meskipun status kimianya kemungkinan berubah menurut waktu. Bahan organik pada umumnya senyawa kimia buatan manusia seperti pestisida atau bahan industri lainnya yang kemungkinan sulit atau tidak terurai oleh kegiatan mikroorganisme tanah. Hasil peruraian tersebut sampai batas tertentu juga sebagai bahan pencemar sehingga tanah mengalami pencemaran. Walaupun bahan pencemaran tersebut sudah mengalami peruraian lebih lanjut tetapi penggunaan yang berulang-ulang menyebabkan konsentrasi di dalam tanah meningkat (Sutanto, 2005).

Limbah perkotaan termasuk limbah rumahtangga dan limbah industri serta limbah cair kemungkinan mengandung bahan kima organik yang dapat menyebabkan pencemaran pada tanah. Bahan organik dan anorganik yang dapat menjadi sumber kontaminasi tanah antara lain limbah industri, endapan admosfer, limbah cair, limbah domestik, atau limbah pemukiman dari indutri lainnya seperti kotoran ternak, pupuk kimia dan pestisida (Susanto, 2005).

Bahan pencemaran yang masuk ke dalam lingkungan akan berinteraksi denga satu atau lebih komponen lingkungan. Perubahan komponen lingkungan secra fisik, kimia dan biologi akibat adanya bahan pencemaran akan mengakibatkan perubahan nilai lingkungan yang disebut dengan perubahan kualitas lingkungan. Limbah yang mengandum bahan pencemar akan mengubah kwalitas lingkungan bila lingkungan tersebut tidak mampu memulihkan kondisinya sesuai dengan daya dukung yang ada pada lingkungan, oleh karena itu sangat perlu dikatahui sifat limbah dan komponen bahan pencemar yang terkandung di dalam limbah tersebut (Kristanto, 2004).

Tanah merupakan tempat penampungan berbagai bahan kimia. Banyak dari gas SO2 yang dihasilkan dari perubahan bahan bakar batubara atau bensin berakhir dengan sulfat yang masuk kedalam tanah atau tertampung diatas tanah. Nitrogen Oksida (NO) yang dirubah I atmosfer menjadi nitrat akhirnya akan terdeposit di tanah. Tanah menyerap NO dan NO2 denga cepat dan gas-gas tersebut mengalami oksidasi menjadi nitrat di dalam tanah. Karbon monoksida dirubah menjadi CO2 oleh bakteri dan ganggang dalam tanah. Partikel timbal (Pb), yang berasal dari gas buangan bermotor di temukan pada lapisan atas tanah sepanjang jalan raya yang padat lalu lintas. Timbal dilapisan tanah ditemukan juga di daerah dekat dengan penambangan dan peleburan timbal (Achmad, 2004).

Mikrobiologi tanah terlibat secara erat dengan bioteknologi tanah, yang mempunyai arti berfariasi, tetapi secara sederhana dapat disefinisikan sebagai studi tentang biologi seluler dan molekuler dan secara lebih luas. Mikrobia secara lebih luas dapat difungsikan untuk mendegradasikan molekul-molekul organik baru dan untuk membebaskan tanah dari air dan permukaan tanah dari polutan (bahan pencemaran) yang meliputi tumpahan-tumpahan minyak hingga ekses nitrat dari komponen-komponen limbah atau lumpur organik. Salah satu masalah lingkungan yang akhir-akhir ini nampak sangat menonjol adalah masalah pencemaran lingkungan seperti tanah, air, udara, pendengaran, penglihatan, dan unsur-unsur lingkungan. Masalah lingkungan ini sebenarnya hanya merupakan salah stu masalah saja dari problem lingkungan yang sangat mendasar yaitu cara pengelolaan lingkungan hidup yang tidak terencana dan tidak terpadu secara serasi dan integral (Soedjono, 1979).

No comments:

Post a comment