Friday, 14 October 2016

Pengertian Model Pembelajaran ASSURE

A. Pengertian Model Pembelajaran ASSURE

Model dapat diartikan sebagai tampilan grafis, prosedur kerja yang teratur atau sistemmatis, serta mengandung pemikiran bersifat uraian atau penjelasan berikut saran (Prawiradilaga, 2009:33).

Model adalah sesuatu yang menggambarkan adanya pola pikir. Sebuah model biasanya menggambarkan keseluruhan konsep yang saling berkaitan. Model juga dapat dipandang sebagai upaya untuk mengkonkretkan sebuah teori sekaligus juga merupakan sebuah analogi dan respresentasi dari variabel-variabel yang terdapat didalam teori tersebut (Pribadi, 2009:86).

Model ASSURE ini sudah dicetuskan oleh Heinich, dkk. Sejak tahun 1980-an, dan terus dikembangkan oleh Smaldino, dkk. Hingga sekarang. Satu hal yang perlu dicermati dalam model ASSURE, strategi pembelajaran dikembangkan melalui pemanfaatan metode, media, bahan ajar dan peran serta peserta didik (Prawiradilaga, 2009:47).

Untuk menciptakan sebuah aktivitas pembelajaran yang efektif, diperlukan adanya sebuah proses perencanaan atau desain yang baik. Demikian pula dengan aktivitas belajar yang menggunakan media dan teknologi. Sharon E.Smaldino, James D. Russel, Robert Heinich, dan Michel Molenda (2005), mengemukakan sebuah model desain pembelajaran yang diberi nama ASSURE. Model ASSURE lebih difokuskan pada perencanaan pembelajaran untuk digunakan dalam situasi pembelajaran di dalam kelas secara aktual. Model desain pembelajaran ini lebih sederhana dari model desain yang lain. Didalam mengembangkan model dessain pembelajaran ASSURE, penulis Smaldino, Russel, Heinich, dan Molenda, mendasari pemikirannya pada pandangan-pandangan Robert M.Gagne (1985) tentang pembelajaran (Pribadi, 2009:110-111). Model ASSURE cukup sederhana untuk dapat diaplikasikan dalam menciptakan proses pembelajaran yang menarik (Pribadi, 2009:186).

Langkah-langkah dalam model desain pembelajaran ASSURE meliputi beberapa aktivitas, yaitu:

a. Analyze Learner

Langkah awal yang perlu dilakukan dalam menerapkan model ini adalah mengidentifikasi karakteristik siswa yang akan melakukan aktifitas pembelajaran. Pemahaman yang baik akan karakteristik siswa akan sangat membantu siswa dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran. Analis terhadap karakteristik siswa meliputi beberapa aspek penting, yaitu karakteristik umum, kompetensi spesifik yang telah dimiliki sebelumnya dan gaya belajar siswa (Pribadi, 2009:113).

b. State Objective

Langkah selanjutnya adalah menetapkan tujuan pembelajaran yang bersifat spesifik. Tujuan pembelajaran dapat diperoleh dari silabus atau kurikulum, infomasi yang tercatat dalam buku teks, atau dirumuskan sendiri oleh perancang. Tujuan pembelajaran merupakan rumusan atau pernyataan yang medeskripsikan tentang pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh siswa setelah menempuh proses pembelajaran.

Selain menggambarkan kompetensi yang perlu dikuasai oleh siswa, rumusan tujuan pembelajaran juga mendeskripsikan kondisi yang diperlukan oleh siswa untuk menunjukan hasil belajar yang telah dicapai dan tingkat penguasaan siswa terhadap pengetahuan dan keterampilan yang diketahui (Pribadi, 2009:113-114).

c. Select Method, Media and Materials

Langkah berikutnya adalah memilih metode, media dan bahan ajar yang akan digunakan. Ketiga komponen ini berperan penting dalam membantu siswa mancapai tujuan pembelajaran yang telah digariskan.

Pemilihan metode, media dan bahan ajar yang tepat akan mampu mengoptimalkan hasil belajar siswa dan membantu siswa mencapai kompetensi atau tujuan pembelajaran. Dalam memilih metode, media dan bahan ajar yang akan digunakan, ada beberapa pilihan yang dapat dilakukan, yaitu memilih media dan bahan ajar yang ada, memodifikasi bahan ajar yang telah tersedia dan memproduksi bahan ajar baru (Pribadi, 2009:114).

d. Utilize Materials

Langkah selanjutnya adalah menggunakan ketiganya dalam kegiatan pembelajaran. sebelum menggunakan metode, media dan bahan ajar, instruktur atau perancang terlebih dahulu perlu melakukan uji coba untuk memastikan bahwa ketiga komponen tersebut dapat berfungsi efetif untuk digunakan dalam situasi yang sebenarnya.

Langkah berikutnya adalah menyiapkan kelas dan sarana pendukung yang diperlukan untuk dapat menggunakan metode, media dan bahan ajar yang dipilih (Pribadi, 2009:114-115).

e. Requires Learner Participation

Proses pembelajaran memerlukan keterlibatan mental siswa secara aktif dengan materi dan substansi yang sedang dipelajari. Pemberian latihan merupakan contoh cara melibatkan aktivitas mental siswa dengan meteri yang dipelajari.

Siswa yang terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran akan dengan mudah mempelajari materi pembelajaran. Setelah aktif melakukan proses pembelajaran, pemberian umpan balik berupa pengetahuan tentang hasil belajar akan memotivasi siswa untuk mencapai prestasi belajar yang lebih tinggi (Pribadi, 2009:114).

f. Evaluate 

Setelah mendesain aktivitas pembelajaran maka langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah evaluasi. Tahap evaluasi dalam model ini dilakukan untuk menilai efektifitas pembelajaran dan juga hasil belajar siswa. Proses evaluasi terhadap semua komponen pembelajaran perlu dilakukan agar dapat memper oleh gambaran yang lengkap tentang kualitas sebuah program pembelajaran (Pribadi, 2009:116).
Beberapa manfaat dari model desain pembelajaran ASSURE adalah sebagi beikut:
  1. Sederhana, relative mudah untuk diterapkan.
  2. Karena sederhana, maka dapat dikembangkan sendiri oleh pengajar.
  3. Komponen kegiatan belajar mengajar lengkap.
  4. Peserta didik dapat dilibatkan dalam persiapan kegiatan belajar mengajar (Prawiradilaga, 2009:48).
Daftar pustaka:

Pribadi, Benny Agus. 2009. Model desain sistem pembelajaran. Jakarta: Dian Rakyat.
Prawiradilaga, Dewi Salma. 2009. Prinsip desain pembelajaran. Jakarta: Prenada Media Group.


No comments:

Post a comment