Friday, 7 October 2016

Pengertian Laporan Keuangan Menurut Para Ahli Lebih Lengkap

A. Pengertian Laporan Keuangan

Kondisi keuangan suatu perusahaan akan dapat diketahui dari laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan, yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi serta laporan keuangan lainnya.

Dalam buku Intermediate Accounting, Bridwan (2004:17) mendefinsikan laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan, merupakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan.

Menurut Iatan Akuntansi Indonesia (2008:05) definisi laporan keuangan adalah sebagai berikut:

"Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara misanya, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Disamping itu juga termasuk skedul dan informasi tambahan yang berkaitan dengan laporan keuangan tersebut, misalnya informasi keuangan segmen industri dan geografis serta pengungkapan pengaruh peruabahan harga".

Harnanto (2002:31) mendefinisikan laporan keuangan adalah sebagai berikut:

"Laporan keuangan adalah hasil akhir dari proses akuntansi, yang terdiri dari dua laporan utama yaitu neraca dan laporan perhitungan laba rugi dan berupa laporan yang sifatnya sebagai pelengkap seperti laporan laba yang ditahan serta laporan sumber dan penggunaan dana atau laporan perubahan posisi keuangan".

Hanafi dan Halim (2007:49) mendefinisikan laporan keuangan perusahaan merupakan salah satu sumber informasi yang penting disamping informasi industri, kondisi perekonomian, pangsa pasar perusahaan, kualitas menejeman dan lainnya.

Sedangkan menurut Machfoedz dan Mahmudi (2008:1.18) mengemukakan definisi laporan keuangan sebagai berikut:

"Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi. Proses akuntansi dimulai dari bukti transaksi, kemudian dicatat dalam harian yang disebut jurnal, kemudian secara periodik dari jurnal dikelompokan ke dalam buku besar sesuai dengan transaksinya, dan tahap terakhir dan proses akuntansi adalah penyusunan laporan keuangan".

a. Komponen Laporan Keuangan

Menganalisis suatu laporan keuangan, penganalisa harus mempunyai pengertian yang mendalam tentang laporan keuangan itu sendiri dan bentuk-bentuk maupun prinsip-prinsip yang terakandung dalam laporan keuangan adalah sebagai berikut:

1. Neraca

Neraca adalah laporan keuangan yang meberikan informasi mengenai posisi keuangan (aktiva, kewajiban, dan ekuitas) perusahaan pada saat tertentu.

Sebagaimana dijelaskan bahwa didalam laporan keuangan ada tiga laporan yaitu neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas. Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai pengertian atau definisi tentang neraca yang dikemukakan oleh beberapa ahli sebagai berikut:

Menurut Djarwanto (2004:20) mendefinisikan neraca adalah yang sistematis tentang aktiva (asset), utang (liabilities) dan modal sendiri (owner's equity) dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu.

Menurut Brighman dan Houston (2001:39) menjelaskan bahwa neraca adalah laporan posisi keuangan perusahaan pada suatu waktu tertentu.

Melihat neraca pada saat tertentu akan dapat diketahui posisi keuangan suatu perusahaan pada saat tertentu. Maka dibawah ini akan diuraikan lebih lanjut, ketiga unsur yang terdapat dalam neraca, yaitu:

1). Aktiva

Menurut Baridwan (2004:20) di dalam Elements of Financial Statements of Business Enterprises nomor 6 menyatakan bahwa aktiva adalah manfaat ekonomis dimasa yang akan datang yang diharapkan akan diterima oleh suatu badan usaha sebagai hasil dari transaksi-transaksi masa lalu.

Pada neraca aktiva dapat dikarifikasikan menjadi dua bagian utama yaitu: aktiva lancar dan aktiva tetap.

a). Aktiva lancar

Menurut Djarwanto (2004:34) pengertian aktiva lancar adalah sebagai berikut:

"Suatu aktiva dikarifikasikan sebagai aktiva lancar, jika aktiva tersebut: (1) Diperkirakan akan direalisasikan atau dimiliki untuk dijual atau digunakan dalam jangka siklus operasi normal perusahaan, (2) Dimiliki untuk diperdagangkan atau untuk tujuan jangka pendek dan diharapkan akan direalisir dalam jangka waktu 12 bulan dari tanggal neraca, 30 berupa kas atau setara kas yang penggunaanya tidak dibatsi".

Lima pos penting dari aktiva lancar adalah:
  • Kas (cash) dilaporkan pada nilai ditetapkan.
  • Investasi jangka pendek (short-term investment) umumnya dilaporkan pada nilai wajar.
  • Piutang usaha (account receivable) ditetapkan pada estimasi jumlah yang dapat ditagih.
  • Persediaan (inventory) umumnya dilaporkan pada mana yang terendah antara biaya atau harga pasar.
b). Aktiva tetap

Djarwanto (2004:27) mengatakan aktiva tetap merupakan harta kekayaan yang berwujud, yang bersifat permanen, yang dugunakan dalam operasi regular lebih dari satu tahun, dibeli dengan tujuan untuk tidak dijual kembali.

Aktiva tetap adalah aktiva yang berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dibangun lebih dulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimasukan untuk dijual dalam kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.

2. Utang

Menurut Baridwan (2004:23) mendefinisikan utang adalah pengorbanan manfaat ekonomis yang akan timbul dimasa yang akan datang yang disebabkan oleh kewajiban-kewajiban disaat sekarang dari suatu badan usaha yang akan dipenuhi dengan mentransfer aktiva atau memberikan jasa kepada badan usaha lain dimasa datang sebagai akibat dari transaksi-transaksi yang sudah lalu.

Utang perusahaan dapat diklarifikasikan menjadi utang lancar dan utang jangka panjang. Berikut ulasannya:

a). Utang lancar

Menurut Djarwanto (2004:34) utang lancar (kewajiban jangka pendek) merupakan kewajiban perusahaan kepada pihak lain dan harus dipenuhi dalam jangka waktu yang normal, umumnya satu tahun atau kurang semenjak neraca disusun atau utang yang jatuh temponya masuk siklus akuntansinya yang sedang berjalan.

Bridwan (2004:23) mendefinisikan utang lancar adalah utang-utang yang pelunasannya akan memerlukan penggunaan sumber-sumber yang digolongkan dalam aktiva lancar atau dengan menimbulkan suatu utang baru.

Yang ternasuk ke dalam kelompok utang lancar adalah:
  • Utang dagang atau utang uasaha, yaitu utang-utang yang timbul dari pembelian barang-barang dagangan atau jasa secara kredit.
  • Utang wesel, yaitu utang-utang memakai bukti-bukti tertulis berupa kesanggupan untuk membayar pada tanggal tertentu.
  • Taksiran utang pajak, yaitu jumlah pajak penghasilan yang diperkirakan untuk laba periode yang bersangkutan.
  • Utang biaya, yaitu biaya-biaya yang sudah menjadi beban tetapi belum dibayar. Misal utang gaji, utang bunga dan lain-lain.
  • Utang-utang lain yang akan dibayar dalam waktu 12 bulan. Dalam kelompok ini hanya dimasukkan utang-utang, yang pelunasannya hanya akan menggunakan sumber-sumber dan aktiva lancar. 
Dapat dikatakan bahwa utang lancar atau kewajiban lancar adalah semua kewajiban yang harus dapat dilunasi dalam periode akuntansi dengan menggunakan aktiva lancar yang ada dalam perushaan yang bersangkutan.

b). Utang jangka panjang

Utang jangka panjang menurut Tunggal (2004:14) adalah kewajiban perusahaan yang jatuh temponya lebih dari satu tahun sejak tanggal penyusunan neraca.

Menurut Djarwanto (2004:36) utang jangka panjang merupakan kewajiban perusahaan kepada pihak lain yang harus dipenuhi dalam jangka waktu melebihi satu tahun.

Secara umum, kewajiban jangka panjang terdiri dari tiga jenis, yaitu:
  • Kewajiban yang berasal dari situasi pembiayaan khusus, seperti penerbitan obligasi, kewajiban Lease jangka panjang dan wesel bayar jangka panjang.
  • Kewaban yang berasal dari operasi normal perusahaan, seperti kewajiban pensiun dan kewajiban pajak penghasilan yang ditangguhkan.
  • Kewajiban yang tergantung pada apa yang terjadi atau tidak terjadinya suatu kejadian atau lebih di masa depan untuk mengkonfirmasi jumlah yang harus dibayar atau harus dibayarkan atau tanggal pembayaran seperti jaminan jasa atau produk dan jasa kontijensi.
Utang jangka panjang adalah kewajiban yang masa jatuh temponya lebih dari satu masa periode akuntansi, yaitu satu tahun.

3. Modal

Riyanto (2001:19) menggambarkan modal dengan cara: "Melihat neraca, dimana yang tercatat di sebelah debit dari neraca disebut 'modal kongret' dan yang tercatat di sebelah kredit dari neraca disebut 'modal abstrak'. Selain itu dari neraca juga akan tampak dua gambaran modal yang lain, yaitu bahwa neraca disatu pihak menunjukan modal menurut bentuknya (sebelah kredit). Modal yang menunjukkan bentuknya disebut 'modal aktif', sedangkan yang menunjukan sumbernya atau asalnya disebut 'modal pasif'.

Menurut Baridwan (2004:24) pengertian modal atau ekuitas adalah perbedaan antara aktiva dengan utang dan merupakan kewajiban perusahaan kepada pemilik.

Dapat disimpulkan modal adalah pengelompokan dari neraca dimana tercatat di sisi pasiva, di mana modal merupakan unsur yang paling penting dalam mendirikan usaha atau bisnis.

b. Perhitungan Hasil Usaha (Laporan Laba Rugi)

Laporan perhitungan hasil usaha yang biasanya dalam suatu perusahaan disebut dengan laporan laba rugi adalah gabungan dari hasil partisipasi neto dan laba atau rugi dengan non anggota, ditambah atau dikurangi dengan pendapatan dan beban lain serta beban perkoperasian dan pajak penghasilan badan koperasi. Perhitungan sisa hasil usaha ini juga salah satu dari laporan keuangan yang tidak kalah penting dengan laporan keuangan lainnya. Laporan ini akan dapat menyajikan baik hasil pokok perusahaan maupun hasil sampingan, serta hasil luar biasa.

Menurut Machfoedz dan Mahmudi (2008:1.21) laporan laba rugi (perhitungan sisa hasil usaha) adalah laporan tentang hasil usaha/operasi perusahaan atau badan lain selama jangkan waktu periode akuntansi tertentu misalnya satu tahun.

Sedangkan menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2008:5) pengertian perhitungan hasil usaha dapat diuraikan sebagai berikut:
"Perhitungan hasil usaha manyajikan informasi mengenai pendapatan dan beban-beban usaha dan beban perkoperasian selama periode tertentu. Perhitungan hasil usaha menyajikan hasil akhir yang disebut sisa hasil usaha. Sisa hasil usaha yang diperolah mencakup hasil usaha dengan anggota dan laba atau rugi kotor dengan non anggota. Istilah perhitungan hasil usaha digunakan mengingat manfaat dari usaha koperasi tidak semata-mata diukur dari sisa hasil usaha atau laba tetapi lebih ditentukan pada manfaat bagi anggota".

Pada umumnya perhitungan sisa hasil usaha meliputi bagian-bagian sebagi berikut:
  • Bagian yang pertama menunjukan partisipasi anggota yang terdiri dari partisipasi bruto anggota yang dikurangi dengan beban pokok yang akan menghasilkan pertisipasi neto anggota.
  • Bagian kedua menunjukan pendapatan dari non anggota, yaitu penjualan barang atau jasa kepada non anggota.
  • Bagian ketiga menunjukan beberapa beban operasi serta pendapatan sehingga akhirnya akan diperoleh sisa hasil usaha bersih setelah pajak.

No comments:

Post a comment