Saturday, 15 October 2016

Pengertian Karakteristik Siswa

A. Pengertian Karakteristik Siswa

Karakteristik siswa merupakan salah satu variabal dari kondisi pengajaran. Variable ini didefinisikan sebagai aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa. Aspek-aspek ini bisa berupa bakat, minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan berpikir, dan kemampuan awal (hasil belajar) yang telah dimilikinya. Karakteristik siswa akan sangat mempengaruhi dalam pemilihan strategi pengelolaan, yang berkaitan dengan bagaimana menata pengajaran, agar sesuai dengan karakteristik perseorangan siswa (Uno, 2010:158).

Karakteristik siswa merupakan ciri atau sifat dan atribut yang melekat pada siswa yang menggambarkan kondisi siswa, misalnya kemampuan akademis yang telah dimiliki, gaya dan cara belajar serta kondisi sosial ekonomi (Pribadi, 2009:211).

Karakteristik siswa merupakan keseluruhan pola kelakuan dan kemampuan yang ada pada siswa sebagai hasil dari pembawaan dari lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-citanya.

a. Aspek Psikologis Siswa

1. Inteligensi

Inteligensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat. Inteligensi sangat besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar (Slameto, 2003:56).

2. Perhatian

Perhatian adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itu pun semata-mata tertuju pada suatu objek atau sekumpulan objek. Untuk menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan belajar tidak menjadi perhatian siswa, maka timbullah kebosanan, sehingga ia tidak suka belajar (slameto, 2003:56).

3. Minat

Minat adalah kecendrungan yang tepat untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan secara terus menerus yang disertai dengan rasa senang. Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaranyang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya terik baginya. Jika terdapat seswa yang kurang berminat terhadap belajar, dapatlah diusahakan agar ia mempunyai minat yang lebih besar dengan cara menjelaskan hal-hal yang menarik dan menarik bagi kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan cita-cita serta kaitannya dengan bahan pelajaran yang dipelajari itu (Slameto, 2003:57).

4. Bakat

Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu akan baru terealisasikan menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Bakat itu sangat mempengaruhi belajar. Jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya, maka hasil belajarnya lebih baik karena siswa labih senang belajar dan pastilah selanjutnya ia lebih giat lagi dalam belajarnya itu (Slameto, 2003:57-58).

5. Motif

Motif erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai. Di dalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak, akan tetapi untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motif itu sendiri sebagai daya penggerak/pendorongnya.

Dalam belajar haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik atau padanya mempunyai motif untuk berbikir dan memutuskan perhatian, merencanakan, dan melaksanankan kegiatan yang berhubungan untuk menunjang pelajaran (Slameto, 2003:59).

6. Kematangan

Kematangan adalah suatu tingkat/fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Kematangan belum bearti anak melaksanakan kegiatan secara terus menerus, untuk itu diperlukan latihan-latihan dan pelajaran. Deangan kata lain anak yang sudah siap belum dapat melaksanakan kecakapannya sebelum belajara (Slameto, 2003:59).

7. Kesiapan

Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi respon atau bereaksi. Kesediaan itu timbul dari dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan kematangan , karena kematangan bearti kesiapan untuk melaksanakan kecakapan. Kesiapan ini perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena jika siswa belajar dan padanya sudah ada kesiapan, maka hasil belajarnya akan lebih baik (Slameto, 2003:59).

b. Gaya Belajar

Gaya belajar merupakan sesuatu yang sangat penting dan sangat menentukan bagi siapapun dalam melaksanakan tugas belajarnya baik dirumah, di masyarakat, terutama di sekolah. Siapapun dapat belajar dengan lebih mudah, ketika ia menemukan gaya belajar yang cocok dengan dirinya sendiri.

Untuk itu secara ringkas kita akan menjelaskan beberapa tipe atau gaya belajar anak atau manusia pada umumnya adalam menimba ilmu sebagai alat pembentuk karakter dan kecerdasan terbaik bagi buah hati sebagaimana akan dipaparkan di bawah ini:

1. Auditori (learning by hearing)

Auditori adalah belajar dengan gaya mendengarkan guru yang mengajarkan suatu pelajaran. Ciri dari anak belajar dengan gaya belajar ini adalah anak sangat suka belajar melalui ceramah, diskusi, dan pembacaan pelajaran dengan jelas dan suara keras.

Gaya belajar auditori merupakan kecendrungan untuk mempelajari meteri pelajaran melalui indera pendengaran (Pribadi, 2009:211).

Gaya belajar auditori gaya belajar yang mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Ada beberapa karakteristik yang khas bagi orang yang menyukai belajar ini, sebagai berikut:
  • Semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran.
  • Memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung.
  • Memiliki kesulitan menulis atau membaca (Uno, 2010:181-182).
Ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan untuk belajar, bisa menggunakan tape perekam sebagai alat bantu, dilakukan dengan wawancara atau terlihat dalam kelompok diskusi (Uno, 2010:182).

2. Visual (learning by seeing)

Visual adalah strategi belajar dengan menggunakan indera penglihatan atau melihat. Anak yang belajar dengan gaya belajar ini dapat belajar dengan baik dan tertib serta mengingat dengan baik jika proses pembelajaran itu dengan melihat gambar, peta, tabel, infokus, serta materi pelajaran secara langsung.

Gaya belajar visual merupakan kecendrungan untuk mempelajari pengetahuan dan keterampilan melalui indera penglihatan (Pribadi, 2009:211).

Gaya belajar seperti ini menjelaskan bahwa kita harus melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya. Ada beberapa karakterisrik yang khas bagi orang-orang yang menyukai gaya belajar visual ini, sebagai berikut:
  • Kebutuhan melihat sesuatu (informasi/pelajaran) secara visual untuk mengetahuinya atau memahaminya.
  • Memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna.
  • Memiliki cukup pemahaman yang cukup terhadap masalah artistic.
  • Memiliki kesulitan dalam berdialog secara langsung.
  • Terlalu reaktif terhadap suara.
  • Sulit mengikuti anjuran secara lisan.
  • Seringkali salah menginterprestasikan kata atau ucapan (Uno, 2010:181).
Untuk mengatasi ragam masalah di atas, salah satunya adalah menggunakan beragam bentuk grafis untuk menyampaikan informasi atau materi pelajaran. Perangkat grafis itu biasanya berupa film, slide, gambar ilustrasi, kartu bergambar (Uno, 2010:181).

3. Kinestetik (learning by doing)

Strategi belajar dengan melakukan (langsung berbuat) artinya dengan langsung melakukan atau setidaknya menggunakan gerakan saat belajar atau mengajarkan suatu meteri pelajaran. Anak sangat senang belajar dengan berusaha mengalami dan mencoba sendiri, serta mengoptimalkan semua indra, seperti indra pengihatan, pendengaran, dan peraba.

Gaya belajar kinestik merupakan kecendrungan melakukan proses belajar sambil melakukan aktifitas (Pribadi, 2009:211).

Dalam gaya belajar ini kita harus menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar kita bisa mengingatnya. Ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya, sebagai berikut:
  • Menempatkan tangan seagai alat informasi utama agar kita bisa terus mengingatnya.
  • Hanya dengan memegang kita bisa menyarap informasinya tanpa harus membaca penjelasannya.
  • Termasuk orang yang tidak bisa/tahan duduk terlalu lama untuk mendengarkan pelajaran.
  • Merasa bisa belajar lebih baik apabila disertai dengan kegiatan fisik.
  • Orang yang memiliki gaya belajar ini memiliki kemampuan mengkoordinasi sebuah tim dan kemampuan mengendalikan gerak tubuh (athletic ability) (Uno, 2010:182).
Untuk orang-orang yang memiliki karakteristik seperti di atas pendekatan belajar yang mungkin bisa dilakukan adalah belajar berdasarkan atau melalui pengalaman dengan menggunakan model tau peraga, bekerja dilaboratorium atau bermain sambil belajar (Uno, 2010:182).

Daftar Pustaka:

Pribadi, Benny Agus. 2009. Model desain sistem pembelajaran. Jakarta: Dian Rakyat.
Slameto. 2003. Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Bumi Aksara.
Uno, Hamzah B. 2010. Orientasi baru dalam psikologi pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.


No comments:

Post a comment