Thursday, 27 October 2016

Pengertian Biologi Rayap

Biologi Rayap

Rayap termasuk dalam ordo Isoptera, berasal dari bahasa Yunani terdiri dari kata iso dan ptera, iso artinya sama dan ptera artinya sayap (Jumar, 1997). Isoptera terdiri dari tujuh famili yang secara fiologenik dipisahkan menjadi rayap strata tinggi dan strata rendah. Mastotermitidae, Kalotermitidae, Hordotermitidae, Termopsidae, Rhinotermitidae, dan Serritermitidae termasuk kedalam rayap strata rendah, sedangkan Termitidae adalah rayap strata tinggi. Rayap dikelompokan lagi menjadi rayap penghuni tanah atau rayap penghuni kayu; rayap penghuni kayu tidak membentuk sarang, tetapi hidup pada lubang-lubang dalam kayu pohon di daerah hutan tropik (Handayanto dan Hairiah, 2009).

Siklus hidup dan prilaku sebagian besar jenis rayap umumnya sama, tetapi ada sedikit perbedaan dalam cara hidup. Perbedaan ini disebabkan adanya keragaman yang cukup tinggi dalam dunia, jumlahnya hampir mencapai 3.000 spesies dan penyebarannya yang cukup luas (Prasetiyo dan Yusuf, 2004).

Nandika dkk (2003), menyatakan bahwa rayap mengalami metamorfosis paurometabola atau metamorfosisi bertahap, yaitu tahap telur, tahap nimfa, dan tahap dewasa. Bentuk telur rayap ada yang berupa butiran yang lepas dan ada pula yang berupa kelompok yang terdiri dari 16-24 telor yang melekat satu sama lain. Telur-telur ini berbentuk silinder dengan ukuran panjang yang berfariasi antara 1-1,5 mm. Nimfa muda akan mengalami pergantian kulit sebanyak 8 kali, sampai kemudian berkembang menjadi kasta pekerja, prajurit dan calon laron hingga dewasa.

Rayap termasuk serangga yang berukuran kecil, bertubuh lunak dan biasanya bewarna coklat pucat. Antena pendek dan berbentuk benang (filiform) atau seperti rangkaian manik (monilifrom). Serci biasanya pendek. Rayap dewasa ada yang bersayap dan ada yang tidak bersayap. Jika bersayap, maka jumlahnya dua pasang, bentuk memanjang, ukuran serta bentuk sayap depan dan belakang sama. Pada saat istirahat sayap diletakan mendatar di atas tubuh. Alat mulut menggigit dan mengunyah. Mata majemuk ada atau tidak ada. Trasus beruas tiga atau empat dan biasanya hidup berkoloni di dalam tanah atau kayu yang lapuk. Serangga ini merugikan karena dapat merusak kayu, misalnya tumbuhan dan kayu bangunan, tetapi serangga ini juga menguntungkan karena konversi yang dilakukan serangga terhadapa tumbuhan mati menjadi zat-zat berguna bagi tumbuhan (Jumar, 1997).

Daftar Pustaka:
  • Handayanto, E dan Hairiah, K. 2009. Biologi tanah landasan pengelolaan tanah sehat. Pustaka Adipura: Yogyakarta.
  • Jumar. 1997. Entomologi pertanian. Rineka Cipta: Jakarta. 
  • Nandika, D, Rismayadi, Y dan Diba, F.2003. Biologi rayap dan pengendaliannya. Muhammadiyah Universitas Press: Surakarta.

No comments:

Post a comment