Friday, 21 October 2016

Pengertian Adsorpsi

Adsorpsi

Adsorpsi adalah suatu proses pemisahan bahan dari campuran gas atau cair, bahan yang harus dipisahkan ditarik oleh permukaan sorben padat dan diikat olah gaya-gaya yang bekerja pada permukaan tersebut. Adsorpsi menyangkut akumulasi atau pemusatan subtansi adsorbat pada permukaan adsorben. Hal tersebut dapat terjadi pada antar muka antara 2 fasa, misalnya fasa cair dengan fasa cair, fasa gas dengan padat, fasa cair dengan fasa padat dan fasa gas dengan fasa cair (Lynm dan Kliduff, 1995).

Berdasarkan besarnya interaksi antara adsorben dan adsorbat, adsorpsi dibedakan menjadi dua macam yaitu adsorpsi fisika dan adsorpsi kimia. Salah satu perbedaanya dapat dilihat dari panas adsorpsinya. Dimana, nilai yang lebih kecil dari 20 kj/mol dianggap menunjukan adsorpsi fisika sedangkan nilai yang lebih besar dari 40 kj/mol dianggap menunjukan adsorpsi kimia (Atkins, 1994).

Menurut Meilita dan Tuti (2003) beberapa faktor yang mempengaruhi adsorpsi, yaitu:

a. Sifat adsorben

Sifat adsorben antara lain komposisi dan polaritas, struktur pori juga merupakan faktor yang penting diperhatikan. Struktur pori berhubungan dengan luas permukaan, semakin kecil pori-pori, mengakibatkan luas permukaan semakin besar, sehingga daya adsorpsi dapat bertambah. Untuk meningkatkan kecpatan adsorpsi, dapat dilakukan dengan menggunakan adsorben yang telah dihaluskan, dengan memperhatikan dosis yang digunakan.

b. Sifat adsorpsi

Ada banyak senyawa yang bisa diadsorpsi, tetapi kemampuannya untuk mengadsorpsi berbeda untuk masing-masing senyawa. Adsorpsi akan bertambah besar sesuai dengan bertambahnya ukuran molekul serapan dari struktur yang sama, seperti pada deret homolog. Adsorpsi juga dipengaruhi oleh gugus fungsi, posisi gugus fungsi, ikatan rangkap, struktur rantai dari senyawa adsorpsi.

c. Temperatur

Dalam rangkaian adsorpsi dianjurkan untuk menyelidiki temperatur pada saat berlangsungnya proses. Karena tidak ada ketentuan umum yang biasa digunakan mengenai temperatur yang akan digunakan dalam adsorpsi. Faktor yang mempengaruhi temperatur proses adsorpsi adalah viskositas dan stabilitas termal senyawa adsorpsi. Untuk senyawa volatil, adsorpsi dilakukan pada temperatur kamar atau bila memungkinkan pada temperatur yang lebih kecil.

d. Derajat keasaman (pH)

Unutk asam-asam argonik adsorpsi akan mengikat bila pH diturunkan, yaitu dengan penambahan asam-asam mineral. Ini disebabkan karena kemampuan asam mineral yang dapat mengurangi ionisasi asam organik tersebut. Sebaiknya bila pH asam organik dinaikan yaitu dengan menambah alkali, adsorpsi akan berkurang sebagai akibat terbentuknya garam.

e. Waktu kontak

Bila ditambahkan dengan suatu cairan, dibutuhkan waktu untuk mencapai kesetimbangan. Waktu yang dibutuhkan berbanding terbalik dengan jumlah yang digunakan. Selain ditentukan oleh dosis adsorben, pengadukan juga mempengaruhi waktu kontak. Pengadukan dimaksudkan untuk memberi kesempatan pada partikel untuk bersinggungan dengan senyawa serapan. Untuk larutan yang mempunyai viskositas tinggi, dibutuhkan waktu kontak yang lebih lama.

Perbedaan lainnya pada adsorpsi fisika disebabkan dengan adanya gaya Van der Walls yang terdapat pada permukaan pengikat. Interaksi ini bersifat reversible berlangsung pada temperatur rendah dan tidak perlu energy aktivasi. Banyaknya zat yang terikat akan makin kecil pada suhu yang tinggi. Penerapannya antara lain pada penentuan luas permukaan, analisis kromatografi, pemurinian gas dan penukaran ion.

Pada inetraksi kimia terjadi reaksi antara zat yang diserap dan material pengikat dan bersifat reversible, berlangsung pada suhu yang tinggi dan bergantung pada energy aktivitas. Banyaknya zat yang teradsorpsi sebagian besar tergantung pada sifat khas zat padatnya, jenis molekul teradsorpsi dan merupakan fungsi konsentrasi, tekanan dan suhu. Penerapannya antara lain untuk proses (Oscik, 1982).


No comments:

Post a comment