Wednesday, 19 October 2016

Pendahuluan Kultur Anther Padi

A. Latar Belakang Kultur Anther Padi

Bahan makanan pokok di Indonesia adalah beras. Persentase kebutuhan beras sebagai bahan makanan utama bagi masyarakat Indonesia sangat tinggi dan meningkat disetiap tahunnya seiring dengan lajunya pertumbuhan penduduk. Oleh sebab itu perlu adanya upaya untuk meningkatkan produksi beras selain padi sawah yaitu dengan mengoptimalkan pengembangan budidaya padi gogo.
Kalimantan Timur merupakan salah satu provinsi yang mempunyai kekayaan berupa keanekaragaman plasma nutfah padi gogo yang banyak, tetapi potensi tersebut belum dikembangkan dengan optimal. Pengembangan potensi plasma nutfah sangat diperlukan guna membangkitkan pembangunan dalam berbagai bidang khususnya bidang pertanian. Salah satu upaya realistis yang dapat dilakukan adalah dengan cara menekan biaya input misalnya dengan menghasilkan benih padi lokal unggul dengan harga relatif murah, sehingga keuntungan yang diperoleh petani menjadi lebih besar. Pengembangan plasma nutfah juga bertujuan untuk melestarikan varietas padi lokal sebagai gen bank untuk kepentingan pemuliaan tanaman.

Pemuliaan tanaman padi bertujuan untuk menghasilkan varietas baru yang lebih baik dari varietas yang telah ada. Tujuan utama dari program pemuliaan saat ini adalah merakit suatu varietas unggul yang memiliki produktivitas dan kualitas hasil lebih baik serta memiliki ketahanan baik terhadap cekaman biotik maupun abiotik (Sasmita, 2007).

Dalam proses pemuliaan secara konvensional, inbridisasi untuk memperoleh galur homozigot dari persilangan antara tetua padi (Oryza sativa L.) memerlukan enam sampai delapan generasi tanaman (Lestari dan Nugraha, 2007). Proses tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama hingga bertahun-tahun. Oleh sebab itu, di dalam pemulian secara konvensional perlu adanya pendekatan teknik kultur antera. Karena kultur antera dapat memberikan peluang dan mempercepat perolehan galur-galur murni dalam satu generasi saja. 

Masalah utama dalam kultur antera serealia ialah sedikitnya tanaman hijau dan banyaknya tanaman albino yang diregenerasikan. Peningkatan regenarasi tanaman hijau pada kultur antera serelia merupakan target utama karena jumlah tanaman hijau yang banyak akan mempercepat atau memperbesar peluang untuk memperoleh galur murni yang diinginkan (Dewi dkk. 1996).

 Tumbuhnya tanaman albino disebabkan oleh berbagai faktor yaitu faktor genetik dan faktor teknis. Faktor genetik merupakan kemampuan gen yang ada di dalam sumber  eksplan untuk bergenerasi menjadi tanaman hijau di media kultur . Sedangkan faktor teknis merupakan komposisi media dan kondisi ruang kultur. Kemunculan tanaman albino merupakan faktor penghambat tingkat keberhasilan dalam memperoleh galur-galur murni. 

Pemberian senyawa kolkisin pada media kultur dapat meningkatkan jumlah regenerasi tanaman hijau pada kultur anter tanaman padi. Chen et al (2001), membuktikan bahwa pemberian kolkisin dengan konsentrasi 10-50 mg/l pada kultur anter tanaman padi kultivar japonica rice dapat meningkatkan regenerasi tanaman hijau hingga 8 kali lipat. Pengaruh kolkisin terhadap mutasi jumlah kromosom dan pengaruhnya pada pertumbuhan tanaman sangat bergantung pada dosis yang digunakan. 

Menurut Suryo (1995), konsentrasi kolkisin yang efektif yaitu 0,01%-1,00%. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui pengaruh berbagai konsentrasi kolkisin terhadap kultur anter tanaman padi gogo lokal asal Kalimantan Timur.

B. Perumusan Masalah

1. Bagaimana respon beberapa kultivar padi gogo lokal asal Kalimantan Timur   terhadap aplikasi kolkisin di dalam media kultur antera?
2. Bagaimana pengaruh aplikasi kolkisin terhadap pertumbuhan kalus dan   regenerasi beberapa kultivar padi gogo lokal asal Kalimantan Timur?

C. Tujuan Penelitian

1. Menentukan kultivar padi gogo asal lokal Kalimantan Timur yang memberikan respon terbaik terhadap aplikasi kolkisin di dalam kultur antera.
2. Menentukan konsentrasi kolkisin yang memberikan pengaruh terbaik terhadap keberhasilan kultur antera pada beberapa kultivar padi lokal asal Kalimantan Timur.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat membantu proses pemulian tanaman secara konvensional dalam perakitan padi hibrida sebagai pendukung percepata penyiapan galur-galur murni.

Sumber referensi/Daftar pustaka:

Chen, Q.F., R. Afza, M. van Duren & H. Brunner, 1997. Effects of gamma irradiation and other factors on the induction of calli and regeneration of green plants in rice anther culture. Acta Agri Nucl Sinica 11(1): 59–64.

Dewi, I.S., A.D. Ambarwati, M.F. Masyhudi, T. Soewito, dan Suwarno. 1994. Induksi kalus dan regenerasi kultur antera padi (Oryza sativa L.). Risalah Hasil Penelitian Tanaman Pangan 2: 136-143.

Lestari, A.P. dan Y. Nugraha. 2007. Keragaman Genetik Hasil dan Komponen Hasil Galur-galur Padi Hasil Kultur Antera. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Jawa Barat.

Sasmita, P. 2007. Aplikasi Teknik Kultur Antera Pada Pemuliaan Tanaman Padi. Apresiasi Hasil Penelitian Padi 2007.
Suryo, H. 2007. Sitogenetika. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. 446 hal.

No comments:

Post a comment