Monday, 3 October 2016

Macam-macam Pembiayaan dalam Bank Islam/Syari'ah

A. Pembiayaan Murabahah

 Dalam PSAK No. 59, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan murabahah adalah :

"Akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan  (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli.

Macam-macam Pembiayaan dalam Bank Islam/Syari'ah
Menurut Muhamad, murabahah adalah :

"Perjanjian antara bank dan nasabah dimana bank syari'ah membeli barang yang diperlukan oleh nasabah dan menjualnya kepada nasabah yang bersangkutan sebesar harga perolehan ditambah dengan margin atau keuntungan yang disepakati oleh bank dengan nasabah".

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan murabahah adalah akad jual beli dimana harga dan keuntungan disepakati antara bank dengan nasabah.

Akad murabahah direalisasikan dalam bentuk pembiayaan berupa piutang murabahah dimana bank akan mengupayakan kebutuhan nsabah dalam bentuk pengadaan barang yang akan dijual kembali kepada nasabah secara angsuran dengan harga yang telah ditambah dengan keuntungan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Dasar hukum dan rukunnya berpedoman pada dasar hukum dan rukun jual beli.

1. Syarat Khusus
  • Penjual hendaknya menyatakan modal yang sebenarnya dari barang yang hendak dijual.
  • Kedua belah pihak (penjual dan pembeli) menyetujui besarnya keuntungan yang ditetapkan sebagai tambahan terhadap modal, sehingga modal ditambah dengan untung merupakan harga barang yang dijual dalam jual beli murabahah.
  • Barang yang dijual secara murabahah dan harga barang itu bukan dari jenis yang sama dengan bahan ribawi, yang dicegah diperjualbelikan, kecuali dengan timbangan atau sepakatan yang sama.
2. Aplikasi Murabahah

Murabahah dalam praktek perbankan syari'ah digunakan sebagai fasilitas pembiayaan untuk modal kerja. Dalam hal ini, fasilitas pembiayaan Al-Murabahah dapat dipergunakan secara berulang (revolving) sesuai dengan siklus usaha. Untuk mengetahui besarnya kebutuhan modal kerja dapat diketahui dari siklus konversi aktiva sesuai dengan jenis usahanya.

3. Karakteristik Pembiayaan Murabahah

Tujuan pembiayaan murabahah ini adalah pembelian barang dagangan, pembelian bahan baku untuk diproses, dan pembelian barang by order. Harga jual merupakan harga beli tambah margin dan ditetapakan pada saat realisasi. Media penarikan berupa surat sanggup dan surat permohonan pembiayaan. Jaminan bisa berupa perjanjian dibawah tangan yang dilegalisasi oleh notaris, perjanjian notaris, bukti penawaran harga, dan kwitansi jual beli.

4. Persamaan Pembiayaan Murabahah dengan Kredit Modal Kerja pada Bank Konvensional
  • Tujuan pembiayaan/pinjaman untuk pengadaan barang baik bahan baku, barang dagangan, barang by order.
  • Jangka waktu pembiayaan, revolving selama 1 tahun.
  • Proses analisa pembiayaan/kredit dan administrasi pembiayaan/kredit.
  • Persyaratan pengajuan pembiayaan/kredit.
5. Perbedaan pembiayaan murabahah dengan kredit modal kerja pada bank konvensional.

Al-Murabahah : 
  • Jual beli, sehingga dikenal adanya harga jual dan harga beli.
  • Pengadaan barang.
  • Semua proyek yang dibiayai tidak boleh bertentangan.
  • Seandainya terjadi keterlambatan pembayaran, tidak dibenarkan adanya denda
  • Tidak diperkenankan adanya kenaikan harga jual apabila telah disepakati bersama (bank dan nasabah).
Konvensional : 
  • Meminjamkan uang, sehingga dikenal adanya bunga
  • Pengadaan barang, dapat pula pembiayaan oprasional
  • Ada denda/penalty
  • Dimungkinkan adanya kenaikan suku bunag tanpa harus ada persetujuan nasabah
Konsep jual beli murabahah merupakan landasan yang penting dalam penyelenggaraan produk bank Islam selain produk yang berdasarkan prinsip bagi hasil. Konsep murabahah dapat diterapkan dalam pembiayaan pengadaan barang, pembiayaan penerbitan Letter of Credit (L/C). Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan kedua belah pihak harus memenuhi ketentuan-ketentuan yanf telah disepakati bersama, yaitu : pihak penyedia dana (penjual) harus menyediakan barang yang memenuhi spesifikasi pesanan pembeli baik jenis, kualitas, kuantitas ataupun sifat yang lainnya. Sedangkan pihak pemesan (pembeli) jika penjual telah memenuhi pesanan, pembeli harus menebusnya, tetapi jika pembeli menolak maka berhak dituntut secara hukum. Hal ini merupakan consensus para ulama muslim karena pesanan dianalogikan dengan dhimmah (hutang) yang harus ditunaikan.

a. Bai'Bithaman Ajil

"Bai'Bithaman Ajil adalah menjual barang dengan harga beli tambah margin keuntungan yang telah disepakati dan dibayar secara cicilan/kredit."

  1. Media penariakan didasarkan atas kebutuhan riil atas harga beli barang.
  2. Pelunasan sesuai jadwal angsuran yang telah ditetapkan dan disepakati bersama.
  3. Jaminan berupa fidusia atas barang yang dibiayai. Asset lainnya bisa berupa fixed asset (tanah, gedung), gadai deposito, fidusia atas barang bergerak (mobil, mesin, dll), cessie atas tagihan kontrak, dan jaminan perusahaan atau pribadi.
  4. Dokumentasi berupa perjanjian Bai'Bithaman Ajil, perjanjian jaminan, invoice/tanda jual beli barang, surat persetujuan prinsip pembiayaan, dan jadwal angsuran yang telah disepakati.
b. Rukun Mudharabah
  1. Malik (yang punya modal) atau disebut Shahibul Maal.
  2. Amil (yang akan menjalankan modal) atau disebut juga Mudharib.
  3. Amal (usaha)
  4. Mal (harta pokok/modal)
  5. Hasil
  6. Shighat
Dalam menentukan nisbah bagi hasil pembiayaan mudharabah, besarnya nisbah tidak harus sama tiap bulannya selama masa pembiayaan, dapat dilakukan akad multi-nisbah selama hal ini ditetapkan dengan jelas diawal. Dalam konsep ini yang dibagi hasilkan adalah pendapatan, dan pendapatan yang terkecil adalah nol. Oleh karena itu, maka apabila terjadi kerugian maka kerugian tersebut harus ditanggung oleh bank kecuali kerugian tersebut dibitur melanggar syarat yang disepakati atau dibitur lalai dalam menjalankan usahanya.

c. Pembiayaan Musyarakah

"Musyarakah berasal dari kata syirkah yang bearti ikhtilath (percampuran). Para fuqaha mendefinisikannya sebagai akad antara orang-orang yang berserikat dalam hal modal dan keuntungan. Hasil keuntungan/pendapatan dibagikan sesuai dengan kesepakatan bersama diawal, sedangkan kerugian ditanggung secara profesional sampai batas modal masing-masing."

"Sedangkan pembiayaan musyarakah adalah suatu teknik pembiayaan di bank syari'ah dimana dua atau lebih pemilik dana (shahibul maal) secara bersama-sama membiayai suatu usaha yang akan dijalankan oleh pelaksana. Pelaksana dapat berasal dari salah satu pemilik dana, dapat juga orang lain yang bukan salah satu pemilik dana."

Didalam akad harus disepakati apakah yang akan dibagi hasilkan adalah pendapatan (sebelum dikurangi biaya) atau keuntungan. Untuk mengurangi timbulnya perselisihan terutama atas biaya-biaya, sangat disarankan pendapatan yang dibagi hasilkan.

d. Pembiayaan Al-Qardhul Hasan

Pembiayaan Al-Qadhul Hasan adalah suatu fasilitas pembiayaan lunak yang diberikan atas dasar kewajiban sosial semata dimana peminjam tidak dituntut untuk mengembalikan apapun kecuali modal pokok pembiayaan. Namun demikian peminjam atas kehendeknya sendiri dapat menambah secara sukarela sebagai tambahan tertentu pada waktu melunasi pembiayaan diatas pembayaran yang seharusnya, sebagai tanda terima kasih. Kelebihan pembayaran yang diterima oleh bank akan memperkuat dana yang akan dipergunakan untuk disalurkan dalam bentuk fasilitas Al-Qardhul Hasan.

Fasilitas ini dipergunakan untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah/pengusaha kecil ekonomi lemah yang dalam upaya meningkatkan taraf hidupnya memerlukan dana untuk mengembangkan usaha kecil yang mempunyai prospek bisnis yang sangat baik dan dinilai layak. Ekspansi membiayai dilaksanakan apabila didukung oleh dana yang diambil dari dana zakat, infaq dan shadaqoh serta tenaga staf bank yang cukup guna pelaksanaan pelayanan, pembinaan dan pengawasannya.


No comments:

Post a comment