Monday, 10 October 2016

Klasifikasi Dan Morfologi Semut Api

Semut Api

Semut api tertuju kepada semut yang bewarna merah adalah jenis hewan yang paling sosial dan hidup berkoloni, yang terorganisasi sangat baik. Setiap koloninya, jumlah semut ada ribuan yang tersusun dengan beberapa kedudukannya, yakni: semut pekerja, semut pejantan dan ratu semut. Hewan ini sangat kuat lebih kuat dari pada manusia, sebab hewan ini mampu mengangkat beban yang lebih berat dari pada berat tubuhnya. Gigitan semut api sangat terasa sakit dan perih serta menyebabkan bentol-bentol pada permukaan kulit yang tergigit.

  1. Jantan. Semut api dewasa bersayap. Tugas utamanya adalah untuk kawin dengan yang betina. Proses kawin terjadi di dalam sarang (tanah).
  2. Betina (Ratu). Kasta ini mempunyai tubuh yang paling besar. Betina memulai hidupnya sebagai serangga bersayap, tetapi sayap segera dijatuhkan setelah kawin. Secara normal betina kawin hanya sekali, dan dia akan memulai merawat keturunannya.
  3. Pekerja. Kasta ini terdiri atas betina steril tanpa sayap. Kelompok ini mempunyai anggota terbanyak. Tugasnya merawat dan membuat sarang, memberi makan larva dan kasta lain, merawat telur, mempertahankan koloni dari musuh dan lain-lain. Semut api mempunyai bentuk pekerja yang berbeda-beda. Pekerja besar dengan kepala yang berkembang baik seringkali disebut prajurit. Pekerja kebanyakan hidup tidak lebih dari satu tahun.
Klasifikasi dan Morfologi Semut Api

Klasifikasi 
KerajaanAnimalia
FilumArtropoda
KelasInsekta
OrdoHymenoptera
Sub ordoApokrita
FamiliFormicidae
Sub familiVespoidea
GenusSolenopsis
SpesiesSolenopsis invicta

Morfologi Semut Api

Terdapat tiga bagian pada tubuh semut api, yaitu: kepala, mesosoma (dada), dan metasoma (perut). Morfologi semut api cukup jelas dibandingkan dengan serangga lain yang juga memiliki antena, kelenjar metapleural, dan bagian perut yang berhubungan ke tangkai semut membentuk pinggang sempit (pedunkel) di antara mesosoma (bagian rongga dada dan daerah perut) dan metasoma (perut yang kurang abdominal segmen dalam petiole). Petiole yang dapat dibentuk oleh satu atau dua node (hanya yang kedua, atau yang kedua dan ketiga abdominal segmen ini bisa terwujud).

Tubuh semut api memiliki eksoskeleton atau kerangka luar yang memberikan perlindungan dan juga sebagai tempat menempelnya otot. Menurut Tarumingkeng (2001) bahwa, semut api memiliki lubang-lubang pernapasan di bagian dada bernama spirakel untuk sirkulasi udara dalam sistem respirasi mereka. Pada kepala semut api terdapat banyak organ sensor. Semut api memiliki mata majemuk yang terdiri dari kumpulan lensa mata yang lebih kecil dan tergabung untuk mendeteksi gerakan dengan sangat baik. Mereka juga punya tiga oselus di bagian puncak kepalanya untuk mendeteksi perubahan cahaya dan polarisasi. Semut api umumnya memiliki penglihatan yang buruk, bahkan ada yang buta. Pada kepalanya juga terdapat sepasang antena yang membantu semut api mendeteksi rangsangan kimiawi. Antena ini juga digunakan untuk berkomunikasi satu sama lain dan mendeteksi feromon yang dikeluarkan. Selain itu, antena semut api juga berguna sebagai alat peraba untuk mendeteksi segala sesuatu yang berada di depannya. Pada bagian depan kepala juga terdapat sepasang rahang atau mandibula yang digunakan untuk membawa makanan, memanipulasi objek, membangun sarang, dan untuk pertahanan.

Di bagian dada semut api terdapat tiga pasang kaki dan di ujung setiap kakinya terdapat semacam cakar kecil yang membantunya memanjat dan berpijak pada permukaan. Sebagian besar semut jantan dan betina calon ratu memiliki sayap. Namun, setelah kawin betina akan menanggalkan sayapnya dan menjadi ratu semut yang tidak bersayap. Semut pekerja dan prajurit tidak memiliki sayap.

Di bagian metasoma (perut) semut api terdapat banyak organ dalam yang penting, termasuk organ reproduksi. Semut juga memiliki sengat yang terhubung dengan semacam kelenjar beracun untuk melumpuhkan mangsa dan melindungi sarangnya.

Semut api dalam perkembangannya mengalami metamorfosis sempurna (holometabolism). Telurnya sangat kecil dan berwarna putih seperti susu. Larva menetas dalam 8 hingga 16 hari, dan tahapan kepompong akan berakhir dalam 9 sampai 16 hari. Larva yang baru menetas berwarna putih seperti ulat dengan kepala menyempit ke arah depan. Larva pertama kali ini diberi makan oleh yang dewasa, larva generasi berikutnya diberi makan oleh pekerja. Setelah cukup makan dan beberapa kali molting (menyilih) akan berubah menjadi pupa. Pupa bentuknya seperti semut dewasa tetapi lebih lunak, berwarna putih krem, dan tidak aktif. Dewasa akan muncul dalam beberapa hari dan akan mengalami proses pengerasan dan penggelapan kutikula. Perkembangan dari stadium telur sampai menjadi dewasa berkisar 6 minggu lebih, tergantung ketersedian makanan, suhu, musim dan faktor lain (Wahyudin, 2007).

Daftar Pustaka

Wahyudin. 2007. SETS Dunia Hewan dan Tumbuhan. Jakarta: Armandelta Selaras Yahya, Harun. Tanpa Tahun. Menjelajah Dunia Semut dalam PDF.
http://ejurnal.ung.ac.id/index.php/ST/article/view/1148/934


No comments:

Post a comment