Thursday, 13 October 2016

Klasifikasi Dan Morfologi Kentang

Klasifikasi Dan Morfologi Tanaman Kentang

Di Indonesia, kentang p ertama kali ditemukan p ada tahun 1794 di daerah Cisarua, Cimahi (Bandung). Jenis kentang y ang di tanam di Cisarua di duga berasal dari Amerika Serikat, y ang dibawa oleh orang–orang Erop a. Varietas kentang y ang p ertama kali didatangkan ke Indonesia adalah Eigenhiemer. Pada tahun 1811 kentang sudah ditanam secara luas di berbagai daerah, terutama di p egunungan (dataran tinggi)Pacet, Lembang, Pengalengan(Jawa Barat), Wonosobo,Tawangmangu (Jawa Tengah), Batu, Tengger (Jawa Timur), Aceh, Tanah Karo, Padang, Bengkulu, Sumatera Selatan, M inahasa, Bali dan Flores (Rukmana, 1997).

Klasifikasi Dan Morfologi Kentang

Kentang (Solanum tuberosum L) merup akan tanaman sayuran semusim, berumur pendek kurang lebih hany a 90–180 hari dan berbentuk perdu atau semak. Bervariasi sesuai varietasnya (Samadi, 1997).

Klasifikasi Tanaman Kentang

Klasifikasi Kentang
Kingdom Plantae
DivisioSpermatophyta
SubdivisioAngiospermae
ClasisDicotyledonae
Ordo Solanales
Familia Solanaceae
GenusSolanum tuberosum Linn
Spesies Solanum tuberosum Linn

Morfologi Tanaman Kentang

Daun

Tanaman kentang umumnya berdaun rimbun. Helaian daun berbentuk p oling atau bulat lonjong, dengan ujung meruncing, memiliki anak daun p rimer dan sekunder, tersusun dalam tangkai daun secara berhadap-hadap an (daun mejemuk) yang menyirip ganjil. Warna daun hijau keputih–putihan. Posisi tangkai utama terhadap batang tanaman membentuk sudut kurang dari 45 derajat atau lebih besar 45 derajat. Pada dasar tangkai daun terdap at tunas ketiak y ang dap at berkembang menjadi cabang sekunder (Rukmana, 1997).

Batang

Batang tanaman berbentuk segi emp at atau segi lima, tergantung pada varietasnya. Batang tanaman berbuku–buku, berongga, dan tidak berkay u, namun agak keras bila dipijat. Diameter batang kecil dengan tinggi dap at mencap ai 50–120 cm, tumbuh menjalar. Warna batang hijau kemerah-merahan atau hijau keungu–unguan (Rukmana, 1997).

Akar

Tanaman kentang memiliki sistem p erakaran tunggang dan serabut. Akar tunggang dap at menembus tanah samp ai kedalaman 45 cm, sedangkan akar serabut umumny a tumbuh meny ebar (menjalar) ke samping dan menembus tanah dangkal. Akar tanaman berwarna kep utih–p utihan dan halus berukuran sangat kecil. Diantara akar–akar tersebut ada yang akan berubah bentuk dan fungsiny a menjadi umbi (stolon) yang selanjutny a akan menjadi umbi kentang. Akartanaman berfungsi menyerap zat–zat y ang dip erlukan tanaman dan untuk memp erkokoh berdirinya tanaman (Samadi, 1997).

Bunga

Bunga kentang berkelamin dua (hermap hroditus) yang tersusun dalam rangkaian bunga atau karangan bunga y ang tumbuh p ada ujung batang dengan tiap karangan bunga memiliki 7–15 kuntum bunga. WArna bunga bervariasi: putih, merah, biru. Struktur bunga terdiri dari daun kelopak(caly x), daun mahkota (corolla), benang sari (stamen), yang masing–masing berjumlah 5 buah serta p utih 1 buah. Bunga bersifat protogami, takni p utik lebih cep at masak darip ada tep ung sari. Sistem penyerbukannya dapat menyerbuk sendiri ataupun silang (Rukmana, 1997).

Bunga kentang yang telah mengalami penyerbukanakan menghasilkan buah dan biji–biji (Samadi, 1997). Buah kentang berbentuk bulat, bergaris tengah kurang lebih 2,5cm, berwarna hijautua sampai keungu–unguan dan tiap buah berisi 500 bakal biji. Bakal biji yang dapat menjadi biji hanya berkisar 10 butir sampai dengan 300 butir. Biji kentang berukuran kecil, bergaris tengah kurang lebih 0,5 mm, berwarna krem, dan memiliki masa istirahat (dormansi) sekitar 6bulan(Rukmana, 1997).

Umbi

Umbi terbentuk dari cabang samp ing diantara akar–akar. Proses pembentukan umbi ditandai dengan terhentinya pertumbuhan memanjang dari rhizome atau stolon y ang diikuti pembesaran sehingga rhizome membengkak. Umbi berfungsi menyimpan bahan makanan seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air (Samadi, 1997).

Selain mengandung zat gizi, umbi kentang mengandung zat solanin yang beracun dan berbahaya bagi yang memakannya. Racun solanin akan berkurang atau hilang apabila umbi telah tua sehingga aman untuk dimakan. Tetapi racun solanin tidak dapat hilang apabila umbi tersebut keluar dari tanah dan terkena sinar matahari. Umbi kentang yang masih mengandung racun solanin berwarna hijau walaupun telah tua (Samadi, 1997).

Daftar Pustaka 

Rukmana,  R. 1997. Kentang  budidaya dan pasca panen. Kanisius, Yogyakarta.
Samadi,  B. 1997. Usahatani Kentang.  Kanisius. Yogyakarta.



 

No comments:

Post a comment