Wednesday, 19 October 2016

Klasifikasi Dan Morfologi Aedes aegypti

Klasifikasi Dan Morfologi Aedes aegypti

Di Indonesia, Aedes sp. tersebar luas di seluruh wilayah di hampir semua provinsi, umumnya di temukan di pemukiman yang padat penduduk (1). Aedes sp. adalah genus nyamuk yang awalnya ditemukan di daerah tropis, namun kini telah mnyebar hingga ke semua benua kecuali Antartika. Genus ini pertama kali diberi nama oleh Johann Wilhelm Meigen pada tahun 1818. Aedes berasal dari bahasa Yunani yang berarti “tidak menyenangkan” atau “najis”. Disebut demikian dikarenakan banyak penyakit yang disebarkan oleh nyamuk jenis ini, diantaranya adalah demam dengue, DBD dan yellow fever (2,3).


Aedes sp. bersifat diurnal atau aktif pada pagi hingga siang hari. Nyamuk dewasa betina mengisap darah vertebrata baik yang berdarah dingin maupun panas. Darah yang dihisap nyamuk diperlukan tidak hanya sebagai makanan melainkan sebagai sumber protein untuk mematangkan telurnya. Sedangkan dewasa jantan tidak menghisap darah dan memperoleh energi dari nektar bunga ataupun tumbuhan (4).

Klasifikasi Aedes aegypti
Klasifikasi Aedes Aegypti
Kingdom Animalia 
Filum  Artropoda 
Klas Insekta 
Ordo Diptera 
Famili Culicidae 
Subfamili Culicinae 
Genus Aedes 
Spesies aegypti 
Morfologi Aedes aegypti

Nyamuk Aedes sp. berukuran kecil dan halus (4-13 mm). Bagian-bagian tubuhnya terdiri dari caput atau kepala, torak dan abdomen. Tubuh nyamuk dewasa ini ramping dan disekujur badannya berwarna hitam dengan bercak-bercak putih, nyamuk ini lebih kecil dari nyamuk rumah Culex quinquefasciatus.

Di bagian caputnya terdapat probosis halus yang panjangnya melebihi panjang kepala. Probosis ini berguna untuk menangkap makanan yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup nyamuk. Pada nyamuk betina, probosis ini digunakan untuk alat tusuk dan penghisap darah. Sedangkan, pada nyamuk jantan, probosis ini digunakan sebagai penghisap cairan tumbuh-tumbuhan, buah dan keringat. Di kiri dan di kanan probosis terdapat sepasang antena yang terdiri dari 15 segmen. Antena pada nyamuk jantan berambut lebih lebat dari pada nyamuk betina, rambut pada antena nyamuk jantan disebut pulmose sedangkan pada nyamuk betina disebut pilose (5).

Pada bagian torak terdapat mesonotum yang berbentuk lyra (“Lyreform” atau lyre-shaped). Dibagian mesonotum ini terdapat scutellum yang memiliki 3 lobus. Perbedaan antara A. aegypti dan A. albopcitus teletak pada perbedaan mesonatumnya. Pada A. Albopictus mesono tumnya terdapat gambaran garis putih yang memanjang dan hanya memiliki satu garis yang luas di tengah-tengah toraknya, sedangkan A. Aegypti memiliki dua garis pada toranya. Sayap nyamuk ini panjang dan langsing, mempunyai vena yang permukaanya ditutupi sisik sayap. Sisik sayap nyamuk ini sempit dan panjang.

Bagian abdomen dari tubuh nyamuk terdiri dari 10 segmen, 2 segmen terakhir berubah menjadi alat kelamin. Ujung abdomen Aedes sp. lancip disebut pointed (5).

Daftar Pustaka:
  1. Mulyaningsih, Budi. Deteksi Dini Status Resistensi Nyamuk Vektor Penyakit Demam Berdarah Dangue terhadap Insektisida Organofosfat di Daerah Endemis di Yogyakarta dengan Uji Biokemis. [Artikel Ilmiah]. Lembaga Penelitian UGM: Yogyakarta. 2001.
  2. Van den berg, Henk, dkk. Regional Framework for Surveillance and Control of Invasive Mosquito vVctors and Re-emerging Vector-Borne Disease 2014-2020. WHO press. 2013: 9. 
  3. Azani, Surya. Pemanfaatan Ekstrak Biji Bengkoang (Pachyrrhizas erosus) sebagai Larvasida terhadap Larva nyamuk Aedes sp. [Skripsi]. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. 2006: 1. 
  4. Supartha, Wayan I. Pengendalian Terpadu Vektor Virus Demam Berdarah Dengue, Aedes aegypti (Linn.) dan Aedes albopictus (Skuse) (Diptera : Culicidae). [Artikel Karya Ilmiah]. Denpasar: Dies Natalis Universitas Udayana. 2008. 
  5. Rosdiana-safar. Entomologi Kedokteran Bagian Parasitologi. Surabaya: Fakultas Kedokteran Universitas Airlaiga. 1996 

No comments:

Post a comment