Tuesday, 18 October 2016

Khasiat Biji Pepaya Dan Kandungan Bahan Aktifnya

Kandungan Bahan Aktif Biji Pepaya

Biji pepaya dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional karena mengandung sejumlah bahan aktif. Bahan aktif yang terkandung dalam biji pepaya mampu bekerja untuk memperbaiki kondisi tubuh yang sakit. Menurut Sukadana (2008) secara tradisional biji pepaya dapat dimanfaatkan sebagai obat cacing gelang, gangguan pencernaan, diare, penyakitkulit, bahan baku obat masuk angin dan kontrasepsi pria.

Biji pepaya mengandung senyawa metabolit primer dan metabolit sekunder. Senyawa metabolit merupakan senyawa yang dihasilkan dari proses metabolisme yang terjadi di dalam biji. Yuniwati (2008) menjelaskan, biji pepaya mengandung senyawa metabolit primer seperti: lemak 9,5%, protein 8,5%, abu 1,47%, karbohidrat 9,44%, dan cairan 71,89%. Karbohidrat yang terdapat pada biji pepaya dipakai sebagai sumber energi yang dibu tuhkan untuk pertumbuhan, perkecambahan, pembelahan dan pemanjangan sel dan sebagai bahan pembentukan dinding sel baru. Lemak lebih banyak terdapat pada biji sebagai makanan cadangan, sumber energi bagi pertumbuhan tanaman. Fungsi utama air dan protein adalah sebagai pembentuk protoplasma pada permulaan pertumbuhan (Kamil, 1986).

Menurut Sukadana (2008) dan Udoh (2009) biji pepaya diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder golongan glikosida alkaloid, triterpenoid, flavonoid, saponin, dan tanin. Kandungan senyawa metabolit sekunder golongan triterpenoid merupakan komponen utama biji pepaya. Di samping mengandung senyawa metabolit sekunder, biji pepaya juga mengandung enzim proteolitik seperti papain dan chymopapain (Yunardi, 2002).

Triterpenoid yang terdapat pada biji pepaya merupakan senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari 6 satuan isoprene dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C(30) asiklik, yaitu skualena (Harborne, 1987). Menurut Robinson (1995), triterpenoid jenis tetrasi klik memiliki keserupaan dan kemungkinan adanya kaitan biogenesis dengan steroid. Senyawa ini dianggap sebagai senyawa antara biosintesis steroid, senyawa ini harus dibuat sekurang-kurangnya dalam jumlah kecil, oleh semua makhluk yang mensintesis steroid.

Harborne (1987) menjelaskan, bahwa sterol merupakan triterpena yang kerangka dasarnya sistem cincin siklopentana perhidrofenantrena, kerangka dasar tersebut menyerupai kerangka steroid yaitu kolesterol. Kolesterol dipakai untuk biosintesis hormon steroid yang mencakup hormon seks, di antaranya androgen, estrogen dan progesteron. Sterol yang terdapat pada tumbuhan dikenal sebagai fitosterol, salah satu contohnya ialah estrogen hewan.

Senyawa alkaloid merupakan senyawa yang mengandung nitrogen dan dikenal sebagai golongan zat metabolit sekunder terbesar yang terdapat pada tumbuhan. Alkaloid seringkali beracun pada manusia dan banyak yang mempunyai kegiatan fisiologis dan digunakan dalam bidang pengobatan. Alkaloid steroid yang dimodifikasi biasanya terdapat sebagai glikosida C-3 atau ester, struktur ini mirip dengan struktur saponin. Sejumlah besar alkaloid bersifat terpenoid dan beberapa (misalnya solanina alkaloid-steroid pada kentang) sebagai terpenoid termodifikasi (Harborne, 1987 dan Robinson, 1995).

Salah satu senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada biji pepaya adalah flavonoid. Menurut Robinson (1995) flavonoid mencakup pigmen yang terdapat pada tumbuhan tinggi, zat aktif ini terdapat pada bagian vegetatif dan generatif tumbuhan. Tumbuhan yang mengandung flavonoid dapat dipakai sebagai obat tradisional. Flavonoid bekerja sebagai inhibitor kuat pernapasan dan merupakan senyawa pereduksi, menghambat reaksi oksidasi baik secara enzim maupun nonenzim.

Senyawa saponin yang terdapat pada biji pepaya dapat bekerja sebagai antimikroba dan digunakan sebagai bahan baku untuk sintesis hormon steroid yang digunakan dalam bidang kesehatan. Inti steroid spiroketal pada saponin mempunyai kerangka karbon dasar yang sama dengan kerangka steroid hewan (Robinson, 1995). Saponin dimanfaatkan sebagai sumber sapogenin dan dapat diubah menjadi sterol hewan yang berkhasiat penting, misalnya kortison dan estrogen kontraseptif (Harborne, 1987). Saponin bersifat spermisida, yaitu zat yang mampu membunuh spermatozoa (Elyal, 2002).

Senyawa tanin yang terdapat pada biji pepaya juga tersebar luas dalam tumbuhan berpembuluh, dalam angiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu. Tanin dapat bereaksi dengan protein membentuk kopolimer mantap yang tidak larut dalam air. Letak tanin di dalam tumbuhan terpisah dari protein dan enzim sitoplasma, tetapi bila jaringan rusak, misalnya bila hewan memakannya, maka reaksi penyamakan dapat terjadi. Reaksi ini menyebabkan protein lebih sukar dicapai oleh cairan pencernaan hewan (Rustaman, 2005).

Ekstrak biji pepaya muda mengandung bahan aktif steroid, triterpenoid, alkaloid dan hormon estradiol (E2) maupun hormon progesteron (P4) yang dapat menyebabkan terganggunya sekresi FSH dan LH. Estradiol menyebabkan penekanan hipotalamus dan hipofisis anterior sehingga menyebabkan GnRH dan hormon gonadotropin (FSH dan LH) terhambat. Hormon progesteron akan menghambat sekresi FSH yang mengakibatkan gangguan proses spermatogenesis, FSH juga berperan penting dalam menunjang tahap pematangan maupun reduksi meiosis dari spermatosit menjadi spermatid (Satriyasa, 2005).

No comments:

Post a comment