Wednesday, 5 October 2016

Cara Untuk Sukses Menjadi Mahasiswa Teladan

A. Cara Sukses Menjadi Mahasiswa Teladan

Setiap Mahasiswa yang ingin sukses secara akademis harus mau dan mampu menjalani kehidupannya dalam dunia akademik dengan menyadari hakikat jatidirinya sebagai Mahasiswa, mengakrabpi setiap aspek jati diri almamaternya; tricivitas academicanya (mahasiswa, dosen, dan karyawan kampus), serta tridharmanya (pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat). Kesadaran dan pemahaman ini mutlak diperlukan sebagai bekal awal dalam menjalani berbagai aspek dan tahapan kegiatan akademis dengan penuh semangat, produktif dan menyenangkan.

Cara Untuk Sukses Menjadi Mahasiswa Teladan
Setiap mahasiswa yang ingin sukses secara akademis harus mau dan mampu memahami posisi setiap anggota tricivitas academica almamaternya tersebut (termasuk dirinya) dengan baik, agar mampu membangun silahturrahmi dengan mereka berdasarkan rasa saling mempercayai dan saling menghargai (trust and respect) yang kuat. Silaturrahmi ini penting ditimbulkan sebagai landasan yang kuat untuk membangun sinergi yang kuat dan produktif dalam kehidupan akademis dan profesi.

Setiap mahasisiwa yang ingin sukses secara akademis harus mau dan mampu memahami dan menjalani berbagai aspek tridharma almamaternya dengan perspektif yang benar serta utuh. Kedua hal ini mutlak diperlukan untuk membangun berbagai kopetensi akademis, teknik dan sosial. Perspektif pemahaman yang benar dan utuh ini diperlukan guna membangun kesadaran bahwa betapapun beratnya, penyelenggaraan tiga aspek tridharma itu diperlukan untuk membangun berbagai kompetensi akademis, teknis/praktis dan sosial sebagai basis profesionalisme mahasiswa.

Setiap mahasiswa yang ingin sukses secara akademis harus mau dan mampu memahami berbagai keterkaitan diantara berbagai mata kuliah (MK) yang disajikan almamaternya. Secara formal, MK yang disajikan di Indonesia dibagi dalam lima kelompok MK (KMK); KMK MPK (MK pengembang kepribadian), MKK (MK keilmuan dan keterampilan), MKB (MK keahlian berkarya), MBB (MK berkehidupan bermasyarakat), serta KMK MPB (MK prilaku berkarya). Kelima KMK itu disajikan di ruang kuliah, laboratorium, serta ajang PKL dan KKN untuk membekali mahasiswa sebelum lulus program diploma (D3) atau sarjana (S1) yang siap untuk disapih menjadi calon penyelia (alumni D3) dan calon manajer (alumni S1) yang handal; berintegritas dan profesional.

Setiap mahasiswa yang ingin sukses secara profesional menjadi calon penyelia (alumni D3) dan calon manjer (alumni S1) yang handal; berintegritas dan profesional tersebut harus mau dan mampu menumbuhkembangkan berbagai kopetensi dasar yang diperlukan; kompetensi teknis, kopetensi manajerial dan kopetensi leadership. Untuk mewujudkan ketiga kompetensi dasar itu setiap mahasiswa harus mau dan mampu mengembangkan empat pola pikir seorang akademis, yaitu; pola pikir kritis, pola pikir sistematis, pola pikir analitis, pola pikir sintesis, dan pola pikir sinergis.

Mahasiswa Baru, Temukan dan Kenali Jati Dirimu

1. Mahasiswa baru, siapakah dirimu?

Pemaknaan secara proporsional tersebut hanya bisa diwujudkan melalui pengenalan jati diri baru anda secara tepat sebagai seorang mahasiswa baru. Dengan pendekatan "kearifan lokal" sebagai lokus almamater, maka pengenalan jati diri anda perlu diawali dengan pemahaman bahwa hari ini anda telah bertranformasi dari "siswamaha" menjadi "mahasiswa".

Secara fisik dan psikologis, anda bertransformasi dari seorang anak kecil dan remaja menjadi pemuda yang beranjak dewasa. Sebagian besar mahasiswa baru berada dalam kisaran usia akhir belasan tahun sampai awal dua puluhan tahun. Dalam kisaran usia tersebut mahasiswa baru merupakan pribadi yang dinamis dan enerjik, serta penuh gairah dan semangat mencari jati dirinya.

2. Mahasiswa baru, perubahan apakah yang akan kau hadapi?

Transformasi dari "siswamaha" menjadi "mahasiswa" ini bukan perubahan setatus semata, namun memiliki beberapa konsekuensi yang harus disikapi secara arif, karena adanya beberapa perubahan dan perbedaan yang anda hadapi dalam kehidupan anda selama 12 tahun sebelumnya (siswamaha) dengan kehidupan anda dalam tiga atau empat tahun mendatang sebagai seorang mahasiswa. Beberapa perubahan tersebut antara lain meliputi; dalam masa kuliah anda tiap hari tidak lagi perlu mengenakan seragam, tidak lagi perlu apel, dengan jadwal belajar yang lebih luwes.

Perubahan lebih mendasar yang dihadapi para mahasiswa baru adalah sistem perkuliahan. Sistem pembelajaran di SLTA merupakan sistem paket yang wajib diterima peserta didik tanpa pilihan. Kelas yang diikuti, mata pelajaran yang disajikan, materi setiap mata pelajaran, semuanya telah ditentukan oleh sekolah. Tanggung jawab penyelengaraan sistem pembelajaran di SLTA sepenuhnya berada ditangan para guru yang berperan lebih dominan dalam sistem pembelajaran.

Sistem perkuliahan membagi tanggung jawab penyelenggaraannya secara seimbang antara ketiga tricivitas academica perguruan tinggi, yaitu; para mahasiswa, pengelola Fakultas, dan dosen. Mahasiswa diberi amanah kebebasan untuk memilih kelas, materi dan bobot SKS mata kuliah yang akan diikutinya pada setiap hari semester, melalui pengisian Kartu Rencana Studi (KRS). Mahasiswa mengisi dan menandatangani KRS secara mandiri, tanpa tanda tangan orang tua. Setiap akhir semester siswamaha dievaluasi kemampuan akademiknya melalui ulangan, sedang mahasiswa dievaluasi kemampuan akademiknya melalui ujian; ujian tengah dan ujian akhir semester.

Setiap akhir semester, mahasiswa menerima Kartu Hasil Studi (KHS) sebagai bukti tertulis pencapaian akademik anda dalam semester yang lalu, untuk acuan pengisian KRS semester baru. Pada dasarnya KHS mirip rapor yang biasa anda terima semasa masih menjadi siswamaha. Perbedaan antara KHS dan rapor adalah; rapor wajib disampaikan siswamaha kepada orang tuanya untuk ditandatangani sebelum dikembalikan ke sekolah, sedang KHS tidak perlu diketahui dan ditandatangani orang tua.

Dalam sistem paket yang diterima siswamaha di SLTA, berapapun hasil evaluasi akademik pada semeter lalu dalam rapor tidak mempengaruhi mata pelajaran yang boleh diikuti pada semester ini. Dalam sistem SKS (Satuan Kredit Semester) di perguruan tinggi, hasil evaluasi akademik dalam KHS semester yang lalu dalam KHS dalam bentuk Indeks Prestasi Komulatif (IPK) menentukan batas maksumum mata kuliah yang boleh diikuti oleh seorang mahsiswa pada semester ini. 

Sebagai konsekuensinya, mahasiswa yang berprestasi lebih baik dengan IPK yang lebih tinggi lebih berpeluang untuk menyelesaikan masa kuliahnya secara tepat waktu atau malah lebih cepat. IPK ini berkisar antara 1,00 sampai dengan 4,00 diperhitungkan setiap akhir semester. Pada akhir masa pendidikan, IPK menetukan dapat tidaknya seorang mahasiswa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi (pasca sarjana), baik S2 (master) atau S3 (doktor).

Siswamaha tidak mengenal istilah Drop Out (DO), sebaliknya mahasiswa yang tidak mampu menyelesaikan masa studinya dalam batas waktu yang ditetapkan terancam DO (diberhentikan).

3. Mahasiswa baru, bagaimana menyikapi perubahan yang kau hadapi?

Berbagai perubahan mendasar yang dihadapi mahasiswa baru tersebut perlu disikapi secara dewasa, bertanggung jawab dan mandiri. Berbagai perubahan yang dihadapai mahasiswa baru tersebut amat besar dan mendasar, sehingga setiap mahasiswa baru wajib mau dan mampu menyikapi dan menyesuaikan diri secara tepat. Keterlambatan menyikapi dan menyesuaikan diri dengan sistem perkuliahan dapat membebani mahasiswa baru dengan beban fisik dan mental serta finansial yang demikian berat, sehingga berpotensi gagal kuliah (DO).

Potensi mahsiswa gagal kuliah terutama terjadi dalam dua titik kritis: pada semester awal dan pada semester akhir. Kegagalan kuliah pada semester awal disebabkan kegagalan orientasi dan adaptasi terhadap perubahan sistem pendidikan yang dihadapi, sedangkan kegagalan kuliah pada semester akhir terutama disebabkan kegagalan menyelesaikan tiga tugas akhir perkuliahan: penelitian, serta penyusunan dan ujian skripsi.

Berbagai potensi kegagalan kuliah tersebut perlu diantisipasi sejak dini melalui pengenalan, pemahaman dan penghayatan mahasiswa secara utuh terhadap berbagai aspek yang dihadapi dalam sistem pendidikan yang telah dipilih oleh setiap mahasiswa. Beberapa aspek tersebut antaralain, meliputi pengenalan secara utuh terhadap almamater, tricivitas academica, tridharma perguruan tinggi, serta materi dan tugas perkuliahan.


No comments:

Post a comment