Wednesday, 14 September 2016

Pengertian Sistem Budidaya Intensif/Modern

Pengertian Sistem Budidaya Intensif/Modern

A. Sistem Budidaya Intensif/Modern

Pertanian intensif dapat disebut juga sebagai pertanian modern. Budidaya intensif merupakan cara bertani yang memanfaatkan inovasi teknologi dengan penggunaan input yang banyak dengan tujuan memperoleh output yang lebih tinggi dalam kurun waktu yang relatif singkat. Ciri pertanian intensif adalah penggunaan bibit unggul, aplikasi pupuk buatan, pestisida, penerapan mekanisme pertanian dan pemanfaatan air irigasi (Mardikanto, 2009).

Menurut Napitulu (2000) usaha tani modern adalah merupakan usaha tani yang sifatnya komersial yang selalu dinamis dan luwes (flexibel) yang produktivitasnya selalu meningkat dan dikelola secara profesional. Pertanian modern seperti itu memiliki ciri-ciri:

  1. Usahanya merupakan industri pertanian, memenuhi sekala ekonomi, menerapkan teknologi maju dan spesifik lokasi, termasuk mekanisasi pertanian, menghasilkan produk segar dan olahan yang dapat bersaing dipasar global, dikelola secara profesional dan mampu berproduksi diluar musim.
  2. Petaninya mampu mengambil keputusan-keputusan yang rasional dan inovatif, memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi, mempunyai kemampuan modern.
Menurut Mardikanto (2009) Pertanian intensif terdapat 3 fungsi utama yaitu :

a. Pertanian intensif berdasarkan fungsi dasar ekonomi

Dalam pertanian modern (spesialisasi), pengadaan pangan untuk kebutuhan sendiri dan jumlah surplus yang bisa dijual, bukan lagi merupakan tujuan pokok. Keuntungan (profit) komersial murni merupakan ukuran keberhasilan dan hasil maksimum perhektar dari hasil upaya manusia (irigasi, pupuk, pestisida, bibit unggul, dan lain-lain) dan sumber daya alam merupakan tujuan kegiatan pertanian.


Pada sistem pertanian intensif beberapa evaluasi terhadap aspek ekonomi antara lain : 

1. Penurunan lapangan kerja dan peningkatan pengangguran

Dalam pertanain intensif digunakan teknologi dan bahan-bahan yang berkualitas tinggi. Dengan digunakannya teknologi, kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan oleh petani digantikan oleh mesin yang berteknologi tinggi.

2. Peningkatan kemiskinan dan malnutrisi di pedesaan

Petani yang pekerjaanya telah digantikan oleh mesin akan menjadi pengangguran dan tidak memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Karena itu, kemiskinan semakin meningkat dan banyak anak-anak mengalami malnutrisi karena kekurangan makan. Hal tersebut terjadi kebanyakan di daerah pedesaan, karena kebanyakan petani pedesaan adalah petani dengan modal kecil.

Dengan penggunaan teknologi, sudah pasti biaya produksi akan lebih tinggi karena mesin-mesin harus dibeli dengan biaya yang tinggi. Selain itu pengadaan benih berkualitas tinggi juga sangat mahal. Pemberian pupuk dan pemberantasan hama menggunakan zat kimia juga akan menambah biaya produksi.

3. Mendapatkan penghasilan lebih banyak atau untung

Hasil produksi dari sistem pertanian intensif lebih banyak dari pada pertanian trasisional. Dengan hasil yang banyak tersebut petani intensif akan mendapat untung yang banyak dari hasil penjualan produk pertaniannya.

4. Hanya bisa dilakukan petani dengan modal besar

Sebagian besar yang melakukan sistem pertanian intensif adalah petani dengan modal besar karena biaya produksi yang digunakan untuk membeli mesin, bahan tanaman yang berkualitas tinggi, serta pestisida maupun pupuk kimia memerlukan biaya yang cukup besar.

5. Berorientasi pada pasar eksport dan lokal

Pada sistem pertanian intensif, produk hasil diorientasikan pada pasar lokal dan eksport. Hasil yang banyak selain dapat memenuhi kebutuhan lokal juga dapat dijual di pasaran ekspor. Para petani banyak yang menjual hasil pertaniaannya di pasar ekspor karena harga jualnya tinggi.

6. Mempunyai resiko produksi yang tinggi

Sistem pertanian intensif mempunyai resiko produksi yang tinggi karena biaya yang dikeluarkan untuk produksi sangat besar. Apabila pada proses produksi terjadi kegagalan misalnya seperti kerusakan mesin ataupun gagal panen tentunya resiko biaya produksi tidak kembali sangat besar dan petani akan mengalami kerugian.

b. Pertanian itensif berdasarkan fungsi dasar ekologi

Penerapan pertanian intensif pada tahap-tahap permulaan mampu maningkatkan produktifitas pertanian dan pangan secara nyata, namun kemudian efisiensi produksi semakin menurun karena pengaruh umpan balik berbagai dampak samping yang merugikan.

Penelitian pertanian secara intensif dengan biasanya pada lahan-lahan yang berpotensi tinggi, tanaman ekspor dan petani yang lebih mampu, telah memberikan hasil yang tidak terjangkau oleh sebagian besar petani. Hal ini antara lain disebabkan oleh beberapah hal, yaitu :

1. Peningkatan erosi permukaan, banjir dan tanah longsor serta penurunan kesuburan tanah dan kehilangan bahan organik tanah.

Pada sistem pertanian inetensif, lahan yang digunakan dapat mengalami penurunan kesuburan tanah dan kehilangan bahan organik. Hal tersebut terjadi karena seringgnya penggunaan pupuk ataupun menggunakan bahn-bahan kimia lain seperti pestisida yang lama kelamaan akan merusak kesuburan tanah dan mematikan organisme-organisme yang hidup dalam tanah.

2. Salinasi air tanah dan irigasi serta sedimentasi tanah

Peningkatan pencemaran air dan tanah akibat pupuk kimia, pestisida, limbah domestik pertanian intensif adalah pertanian dengan menggunakan bahan-bahan kimia maupun alat-alat modern. Karena hal tersebut jika pertanian intensif dilakukan secara terus menerus akan menyebabkan peningkatan pencemaran air dan tanah akibat pupuk kimia, pestisida, dan limbah domestik.

Residu pestisida dan bahan-bahan berbahaya lain dilingkungan dan makanan yang mengancam kesehatan masyarakat dan penolakan pasar. Penggunaan bahan-bahan kimia pada pupuk maupun pestisida pada sistem pertanian intensif  menyebabkan pencemaran lingkungan. Produk-produk yang dihasilkan kurang terjamin kebersihannya dan kelayakannya untuk dikonsumsi karena sudah terkena zat kimia.

3. Pemerosotan keanekaragaman hayati pertanian

Kontribusi dalam proses pemanasan global sebagian besar pertanian intensif selalu menggunkan teknologi tinggi yang tidak ramah lingkungan. Akibatnya banyak terjadi pencemaran air dan pencemaran udara.

4. Eksploitasi unsur hara

Integrasi usaha tani ke dalam pasar nasional maupun internasional menimbulkan suatu penghabisan unsur hara netto jika unsur hara yang diambil tidak dapat dikembalikan lagi. Sangat sedikit teknologi yang dikembangkan untuk mengembalikan unsur hara dari daerah/lokasi konsumen ke daerah produsen.

c. Pertanian intensif berdasarkan fungdi dasar sosial

Hilangnya kearifan tradisional dan budaya tanaman lokal masyarakat Indonesia umumnya bertani dengan memperhatikan keadaan sosial disekitarnya. Apabila menggunakan sistem pertanian intensif, tidak ada lagi kearifan tradisional dan kebanyakan tanaman yang ditanam adalah tanaman yang sedang naik daun atau tanaman yang dibutuhkan sangat banyak dan berdaya jual tinggi. Sehingga tanaman-tanaman lokal tidak dapat bersaing karena sedikit sekali petani yang menanamnya.

Peningkatan kesenjangan sosial dan jumlah petani gurem di pedesaan jika di suatu desa digunakan sistem pertanian intensif dapat terjadi. Hal itu dapat disebabkan karena hanya petani yang bermodal besar yang dapat menjalankan sistem ini, sedangkan petani dengan modal kecil tidak akan mampu membeli mesin dan bahan tanam seperti petani intensif.

Ketergantungan petani pada pemerintah dan perusahaan/industri agrokimia karena dibutuhkan modal besar, para petani intensif membutuhkkan bantuan dari pemerintah dalam hal modal informasi-informasi terbaru tentang pertanian. Petani juga akan mengalami ketergantungan dengan perusahaan/industri agrokimia, karena kebanyakan mereka menggunakan bahan-bahan kimia.

Baca juga : Pengertian sitem budidaya tradisional/organik

Sumber referensi/Daftar pustaka:

Mardikanto, T. 2009. Membangun pertanian modern. Lembaga pengembangan pendidikan (LPP) UNS dan (UNS press). Surakarta.

Muhtar. M. 2016. Pengaruh teknik budidaya yang berbeda terhadap karakter agromorfologi 15 varietas padi lokal Kalimantan Timur. Tesis Magister Pertanian. Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman. Samarinda




No comments:

Post a comment