Wednesday, 14 September 2016

Pengertian Sistem Budidaya Tradisional/Organik

Pengertian Sistem Budidaya Tradisional/Organik

A. Sistem Budidaya Tradisional

Pertanian tradisional (tradisional agriculture) sistem pertanian yang didasarkan pada pengetahuan dan praktek-praktek asli masyarakat setempat dan telah berkembang dari generasi kegenerasi (Reijntjes et al, 1992). Sistem pertanian tradisional adalah sistem pertanian yang masih bersifat ekstensif dan tidak memaksimalkan input yang ada. Sistem pertanian tradisional salah satu contohnya adalah sistem ladang berpindah (Sutanto, 2002).

Perladangan berpindah merupakan sebuah sistem bercocok tanam yang dilakukan oleh petani secara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cara membuka lahan hutan primer maupun sekunder. Hutan memiliki tanah yang subur saat dibuka sehingga hasil ladang yang dicapai akan lebih tinggi. Setelah beberapa kali ditanam maka kesuburannya menurun dan terjadi penurunan produktivitas tanaman (Matinahoru, 2013).

Beberapa kearifan lokal suku wemale yang terkait dengan aktivitas perladangan yaitu dalam hal penentuan lokasi untuk berladang dan cara pengolahan tanah untuk penanaman tanaman (Matinahoru, 2013). 1. penentuan lokasi berladang yang terpilih adalah lokasi yang harus memiliki tanah yang subur dengan indikator tanaman bawah (cover crop) yang dominan tumbuh seperti spesies Clotolaria, dan atau sejenis pakis daun halus, dan atau terdapat aktivitas cacing tanah yang dominan. 2. Pengolahan tanah secara umum para peladang dari suku Wamale mengolah tanah dengan menggunakan kayu berujung runcing diameter 5-10 cm, sehingga dapat digunakan sebagai penganti pacul atau linggis dalam proses pengolahan tanah untuk penanaman. Praktek pengolahan tanah seperti demikian, jika dipandang dari aspek konservasi sangat baik karena tidak menyebabkan erosi yang berat disaat musim hujan.

Santoso (2002) mengemukakan bahwa prinsip pertanian alami/tradisional adalah :

1. Tanpa olah tanah : tanah tanpa diolah atau dibalik. Pada prinsipnya tanah mengolah sendiri, baik menyangkut masuknya perakaran tanaman maupun kegiatan mikroba tanah, mikro fauna, dan cacing tanah.

2. Tidak menggunakan sama sekali pupuk kimia kompos dengan kata lain tanah dibiarkan begitu saja, dan tanah dengan sendirinya akan memelihara kesuburannya.

3. Sama sekali tidak bergantung pada bahan kimia. Sinar matahari, hujan dan tanah merupakan kekuatan alam yang secara langsung akan mengatur keseimbangan kehidupan alami.

Menurut Susanto (2002) Prinsip ekologi dalam penerepan pertanian tradisional/organik adalah sebagai berikut :

1. Pelestarian alam yang masih terjamin dan terus berkembang. Yang mana pelestarian alam terus berjalan karena proses ini berjalan dan akan bisa memproduksi dengan rata-rata konstan untuk musim-musim kedepannya.
2. Tidak adanya kerusakan ataupun pencermaran yang terjadi.
3. Proses pertanian tradisional terjadi tanpa adanya perusakan ekosistem yang ada disekitar serta tanpa pencemaran yang bisa mengakibatkan penurunan hasil produktivitas pengolahan pertanian.

Pertanian tradisional jika dilihat dari aspek ekonomi antara lain. (Sutanto, 2002) :

1. Penggunaan teknologi yang belum berkembang

Dalam hal ini biasanya pada pertanian tradisional menggunakan alat atau teknologi yang masih rendah atau belum berkembang. Yang mana hal ini dapat memperlambat hasil yang diproduksi dan akan membuang waktu dalam proses bercocok tanam. Misalnya pada sistem tradisional masyarakat untuk membajak sawah masih menggunakan kerbau hal ini masih kurang efisiensi dalam pemanfaatan waktu dan tenaga. Akan tetapi dari sektor ekonominya lebih rendah dan minim pengeluaran untuk mengelolah lahan untuk menghasilkan produk.

2. Tenaga kerja yang masih banyak digunakan

Untuk pertanian tradisional biasanya digunakan lebih banyak dalam mengelolah lahan pertanain untuk menghasilkan produksi. Hal ini dikarenakan masih minimnya teknology yang ada sehingga pelaksanaan menggunakan SDM (Sumber Daya Manusia) yang ada. Sebagai contoh dalam hal panen tanaman tebu yang mana digunakan tenaga kerja manusia dalam proses penebangan., kemudian contoh lain proses perontokan helai padi yang masih menggunakan tenaga manusia untuk melakukan walaupun saat ini mulai ada teknologi yang membantu merontokan helai padi. Hal ini mencerminkan bahwa pertanian tradisional masih tergantung dengan sumber tenaga manusia yang ada, akan tetapi dari sektor ekonominya lebih murah.

3. Modal yang dipakai masih sedikit

Dalam hal ini modal dalam pengolahan produksi pertanian masih sedikit karena kebutuhan yang dibuat tidak terlalu membutuhkan modal lebih. Biasanya juga hanya butuh modal untuk pembayaran tenaga kerja dan lain-lain yang rata-rata minim.

4. Hasil produksi yang masih kurang terjangkau

Pertanian tradisional tidak jarang hasil yang di produksi hanya sebatas untuk di konsumsi keluarga maupun masyarakat golongan. Hal ini dikarenakan masih minimnya cara budidaya tanaman sehingga produk yang dihasilkan masih rendah.

Baca juga : Pengertian sistem budidaya intensif/modern

Sumber referensi/Daftar pustaka :

Matinahoru. J.M., 2013. Studi perladangan berpindah dari suku Wemale di Kecamatn Inamosol Kabupaten Seram bagian Barat. Fakultas Pertanian Universitas Pattimura. Jurnal Ilmu Budidaya Pertanian Vol.2 No.2. Hal 86-94.

Reijntjes, C., Haverkort, B., Waters-Bayer, A. 1999. Farming for the future an intoduction to low external input and sustainable agriculture, The Macmillan Press Ltd, 1992. Diterjemahkan oleh Y. Sukoco, SS. Kanisius Yogyakarta.

Sutanto, R. 2002. Pertanian organik menuju pertanian alternatif dan berkelanjutan. Kanisius. Yogyakarta

No comments:

Post a comment