Saturday, 10 September 2016

Dasar Teori Peranan Air Kelapa Muda Terhadap Perkecambahan Benih

Dasar Teori Peranan Air Kelapa Muda Terhadap Perkecambahan Benih

A. Peranan Air Kelapa Muda Terhadap Perkecambahan Benih

Definisi perkecambahan menurut Copeland (1976) adalah aktivitas pertumbuhan yang sangat singkat suatu embrio dalam perkembangan dari biji menjadi tanaman muda. Secara teknis perkecambahan adalah permulaan munculnya semai (Amen, 1963). Sedangkan menurut Toole dan Hendricks, (1956) perkecambahan meliputi peristiwa-peristiwa fisiologis dan morfologis yaitu, imbibisi dan absorpsi air, hidrasi jaringan, absorpsi oksigen, pengaktifan enzim dan pencernaan, transport molekul yang terhidrolisis ke sumbu embrio, peningkatan respirasi dan asimilasi, dan inisiasi pembelahan dan pembesaran sel, serta munculnya embrio.

Perkecambahan biji bergantung pada imbibisi, yaitu penyerapan air oleh biji. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses imbibisi adalah temperatur, kelembapan lingkungan, permeabilitas kulit biji, susunan kimia di dalam biji dan lamanya biji di dalam kondisi lembab.

Perkecambahan juga merupakan sebuah proses perubahan bentuk dari embrio benih menjadi tanaman yang dapat melakukan fotosintesis sendiri, sebelum hal tersebut terjadi benih harus hidup, tersedia air, suhu dan oksigen yang cukup. Air sangat diperlukan dalam proses perkecambahan benih, dimana air diserap melalui kulit benih, dan didifusikan melalui jaringan-jaringan benih. Air melunakan kulit benih sehingga lebih mudah ditembus untuk pernapasan gas, dan benih secara keseluruhan dalam kondisi baik, juga sel-sel kembali turgit. Pada periode initial ini pertambahan berat basah adalah satu dari hydration, dan imbibisi merupakan suatu proses mekanik murni dimana air diserap, peristiwa tersebut terjadi pada benih hidup maupun benih mati.

Fitohormon memulai dan mempengaruhi proses perkecambahan yang penting pada benih. Menurut Gardner dkk (1985) terdapat beberapa aktivitas hormon pertumbuhan yang dikenal diantaranya yaitu Sitokinin yang mampu merangsang pembelahan sel, menghasilkan munculnya akar lembaga dan pucuk lemabaga, serta perluasan awal pada koleoriza (munculnya ujung akar) diakibatkan oleh pembesaran sel.

Sebutir kelapa muda, mempunyai persentase air kelapa muda berat 25% dari buah kelapa, volume air kelapa ini berbeda menurut tingkat kematangannya demikian juga dengan komposisi kimianya (Rumokoi, 1994). Dari komposisi kimia air kelapa tersebut terlihat bahwa air kelapa juga mengandung unsur-unsur hara (mineral-mineral) yang sangat diperlukan bagi tanaman yang berpengaruh sangat baik bagi pertumbuhan tanaman.

Air kelapa selain mengandung bahan mineral seperti asam amino, asam organik, gula dan vitamin, juga terkandung sejumlah hormon tumbuh yang dapat memacu proses perkecambahan biji. Menurut Gardner dkk (1985), air kelapa merupakan endosperm dalam bentuk cair yang mengandung unsur hara dan zat pengatur tumbuh sehingga dapat menstimulasi perkecambahan dan pertumbuhan. Selanjutnya Sutarmi (1974) menyatakan bahwa air kelapa adalah zat yang mengandung sitokinin sebagai zat/hormon tumbuh yang mempunyai peranan dalam pembelahan sel. Pengaruh fisiologis dari sitokinin yng ditambahkan secara eksogen akan meningkatkan sintesis protein, meningkatkan aktivitas enzim, menghambat menurunnya tingkat auksin dan meningkatkan pengangkutan hara (Prawiranata dkk, 1981).

Sumber referensi/Daftar pustaka :

Amen, R. 1963. Am. Sci. 51:408-24.

Gardner, F.P., Pearce, R.B, dan Mitchell, R.L.,1985. Physiology of Croop Plant. The Lowa State University Press.

Copeland, L.O. 1975. Principles of seed science and technology. Minneapolis, Burgess Publishing Company. New York.

Prawiranata, W., Said Harran dan Pin Tjondronegoro. 1981. Dasar-dasar fisiologi tumbuhan. Departemen Botani Fakultas Pertanian IPB. Bogor.

Rumokoi, MMM. 1994. Prospek pemanfaatan air kelapa di Indonesia. Jurnal Penelitian dan pengembangan Pertanian Bogor. Vol XII (4):87-94.

Sutarmi. 1974. Merawat anggrek. Yayasan Kanisius. Yogyakarta.

Toole, E.H dan Hendricks, S. 1956. Annu. Rev. Plant Physiol. 7:229-324.

No comments:

Post a comment