Wednesday, 31 August 2016

Penjelasan Lengkap Metabolit Sekunder Golongan Terpenoid

A. Metabolit Sekunder Golongan Terpenoid

Senyawa terpenoid terdapat bebas dalam jaringan tanaman, tidak terikat dengan senyawa-senyawa lain, tetapi banyak diantara mereka yang terdapat sebagai glikosida, ester dari asam organik dan dalam beberapa hal terikad dengan protein. Senyawa terpenoid dikaitkan terhadap bentuk strukturnya. Komposisi senyawa terpenoid (C10, C15, C20, C30 dan sebagainya) dapat dipandang merupakan kelipatan satuan lima atom karbon atau satuan tersebut mempunyai kerangka karbon isopentil. Berdasarkan penelitian pada tahun-tahun yang silam isoprena hidrokarbon terpena dipandang sebagai hasil dekomposisi pirolitik maka terpen dianggap tersusun dari "satuan isopren" (Sastrohamidjojo, 1996).

Keturunan struktur terpenoid didasarkan pada kaidah isopren yang menyatakan bahwa struktur molekul terpenoid dibangun oleh dua atau lebih unit isopren yang saling berkaitan secara kepala-ke-ekor. Kaidah ini merupakan ciri khas dari sebagian besar terpenoid sehingga dapat digunakan sebagai hipotesis dalam menetapkan struktur terpenoid (Achmad, 1986).

Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik, yaitu skualena. senyawa ini berstruktur siklik yang nibsi rumit, kebanyakan berupa alkohol, aldehida, atau asam karboksilat. Mereka berupa senyawa tanpa warna, berbentuk kristal, seringsekali bertitik leleh tinggi dan aktif optik, yang umumnya sukar dicirikan karena tak ada kereaktifan kimianya. Triterpenoid dapat dipilih menjadi sekurang-kurangnya empat golongan senyawa yaitu triterpena sebenarnya, steroid, saponin dan glikosida jantung (Harborne, 1987).

Fungsi ekologi triterpenoid bagi tumbuhan yang mengandungnya yaitu sabagai antifungus, insektisida, antipemangsa, antibakteri dan antivirus. Triterpenoid telah digunakan sebagai komponen aktif dalam obat diabetes, gangguan menstruasi, patukan ular, gangguan kulit, kerusakan hati dan malaria (Robinson, 1995).


Sumber rujikan/Daftar pustaka:

Achmad, S. A. 1986. Kimia Organik Bahan Alam. Jakarta: Karunika.

Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia. Bandung: Penerbit ITB.

Robinson, T. 1995. Kandungan Kimia Organik Tumbuhan Tingi. Bandung: Penerbit ITB.

Sastrohamidjojo, H. 1996. Sintesis Bahan Alam. Yogyakarta: Penerbit Gadjah Mada Universitas Press.

No comments:

Post a comment