Wednesday, 24 August 2016

Penjelasan Analisis Keragaman Genetik Tanaman Secara Umum

A. Analisis Keragaman Genetik

Berdasarkan Sofro (1992) secara genetik tidak ada dua individu dalam satu spesies yang persis sama. Hal ini menyebabkan terjadinya Keragaman genetik. Menurut Zulfahmi (2013) informasi mengenai keragaman genetik tanaman pada tingkat, individu, spesies maupun populasi perlu diketahui karena dibutuhkan sebagai dasar pertimbangan untuk menyusun strategi konservasi, pemuliaan, pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya genetik tanaman secara berkelanjutan.

Analisis keragaman genetik dapat dilakukan dengan dua cara yaitu melakukan analisis dengan berdasarkan karakter morfologi, dan dengan menggunakan penanda molekular (Zulfahmi, 2013). Kedua cara tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, akan tetapi apabila kedua teknik tersebut dikombinasikan maka akan mengoptimalkan hasil yang diperoleh dan memudahkan para ahli taksonomi dalam melakukan identifikasi suatu spesies dalam waktu yang relatif singkat.

Analisis keragaman genetik dengan metode konvensional atau analisis menggunakan morfologi adalah analisis yang dilakukan dengan fokus utama pengujian adalah ciri kualitatif dan kuantitatif yang bernilai ekonomi serta ciri yang secara biologi yang meliputi kemampuan hidup pada lingkungan, sifat produksi dan resistensi terhadap hama dan penyakit (Zulfahmi, 2013).

Analisis keragaman tanaman menggunakan karakter morfologi adalah cara yang paling mudah dan cepat, akan tetapi faktor lingkungan mungkin akan mempengaruhi karakter fenotip yang dihasilkan, selain itu identifikasi secara morfologi juga sulit dilakukan karena adanya perbedaan umur tanaman serta perbedaan pada jaringan tanaman.

Keterbatasan lainya yaitu dikarenakan penanda morfologi dilakukan dengan melakukan pengamatan pada seluruh bagian tanaman maka penanda ini tidak dapat mengakses langsung kebagian inti yang mengendalikan karakter dari individu. Sehingga diperlukan pengembangan penanda lain yang lebih akurat serta lebih efektif dan efesien. Zulfahmi (2013) mendefinisikan penanda molekular merupakan segmen DNA tertentu yang mewakili perbedaan antara individu satu dengan yang lain pada tingkat genom.

Penggunaan penanda molekular dapat menjadi alternatif dalam memenuhi kekurangan dalam penanda morfologi karena penanda molekular mampu menghasilkan keragaman yang tinggi, konsisten, serta tidak dipengaruhi oleh faktor lingkungan maupun tahap perkembangan tanaman. Selain daripada itu penanda molekular melakukan analisis pada tingkat gen yang merupakan bagian dari inti yang mengendalikan ekspresi suatu karakter.

DNA adalah polimer asam nukleat yang tersusun cara sistematis dan merupakan pembawa informasi genetik yang diturunkan kepada jasad keturunannya (Yuwono, 2005) hal tersebut menjadikan DNA menjadi sumber genetik yang paling akurat. Menurut Zulfahmi (2013) DNA ditemukan dalam hampir semua sel organisme, baik pada jaringan hidup maupun yang mati, ditambah lagi jaringan tersebut dapat secara mudah disimpan dibawah kondisi lapangan karena berada di dalam sel tanaman, maka penanda molekular ini memiliki keuntungan dibandingkan dengan penanda morfologi, yaitu stabil dan dapat dideteksi dalam semua jaringan tanaman, serta tidak dipengaruhi oleh lingkungan.

Penanda molekular DNA yang ideal memiliki kriteria sebagai berikut: (i). memberikan resolusi perbedaan genetik yang cukup, (ii). memiliki tingkat polimorfisme yang sedang hingga tinggi, (iii). terdistribusi secara merata diseluruh genom, (iv) dapat membedakan kondisi homozigot dan hiterozigot dalam organisme diploid atau bersifat kodominan, (v). berprilaku netral, (vi). memiliki teknik yang efektif dan efisien, (vii). memerlukan sedikit jaringan dan DNA sempel, (viii). berkaitan erat dengan fenotip, (ix). tidak memerlukan informasi tentang genom organisme, dan (x) data mudah dipertukarkan antara laboratorium (Mondini et al, 2009; Agarwal et al., 2008).


Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Agarwal M, Shrivastava N, and Padh N, 2008. Advence In Molecular Marker Techniques And Their Aplication In Plant Science. Hal. 617-631. Plant Cell Reporter.27. DOI 10.1007/s00299-008-0507-z.

Mondini L, Noorani A, and Pagnotta MA, 2009. Assessing plant genetic diversity by molecular Tool. Diversity. l:19-35. DOI: 10.3390/d1010019.

Sofro, 1994. Keanekaragaman genetik. Hal: 9-11. Andi Offest. Yogyakarta.

Yuwono T, 2015. Biologi molekular. Hal: 49-15. Penerbit erlangga. Jakarta.

Zulfahmi, 2013. Penanda DNA untuk analisis genetik tanaman. Jurnal Agroekoteknologi. Vol 3(2): 41-52.



No comments:

Post a comment