Saturday, 2 July 2016

Pengertian Umum Beberapa Sifat Kima Tanah

A. Tinjauan Umum Beberapa Sifat Kimia Tanah


1. pH Tanah (Reaksi Tanah)

Menurut Subroto dan Yusrani (2005), adanya ion H+ atau H3O+ (ion hidronium) di dalam tanah (dalam larutan tanah), menentukan tingkat kemasaman dan sifat reaksi tanah, yang dinyatakan dalam pH. Berdasarkan jumlah konsentrasi ion H+ tersebut di dalam tanah maka dapat dibedakan menjadi tanah masam, tanah netral, dan tanah alkali. Ditambah oleh Novizan (2005), kemasaman atau pH adalah nilai (pada sekala 0-14) yang menggambarkan jumlah relatif ion H+ terhadap ion OH- di dalam larutan tanah. Larutan tanah disebut bereaksi asam jika nilai pH berada pada kisaran 0-6. Sebaliknya bila larutan tanah disebut basa (alkali) memiliki pH 8-14. Jika jumlah ion H+ di dalam larutan tanah sama dengan jumlah ion OH-, larutan tanah disebut bereaksi netral dengan nilai pH 7. Semakin banyak kandungan ion H+ di dalam tanah maka reaksi tanah tersebut akan semakin asam.

Tanah dengan pH rendah (tanah masam) didominasi oleh Al, Mn, dan Fe. Tanah yang mengandung banyak unsur hara tetapi pH tanah rendah (< 5,5), unsur-unsur hara terutama P, K, S, Mg dan Mo tidak dapat diserap tanaman karena diikat oleh Al, Mn, dan Fe. Pada pH netral kandungan unsur hara dalam tanah mudah larut dalam air sehingga mudah diserap oleh tanaman. Pada tanah basa unsur P akan terikat oleh Ca (Prajnata, 1986).

2. Nitrogen (N)

Sumber Nitrogen dalam tanah adalah organik dari sisa tanaman dan hewan hasil fiksasi secara biologi dan penambahan melalui pemupukan tanaman akan menyerap N dalam bentuk NH4+ dan NO3- yang berasal dari dekomposisi bahan organik (Nurhayanti, 1986).

Fungsi utama nitrogen bagi tanaman adalah merengsang pertumbuhan secara keseluruhan  khususnya: batang, cabang, dan daun, Nitrogen diperlukan tanaman dalam jumlah besar, karena unsur ini merupakan penyusunan klorofil yang berguna sekali dalam fotosintesis.

Tanaman yang kekurangan unsur Nitrogen akan menyebabkan daun tanaman menjadi pengeringan mulai bagian bawah menjalar kebagian atas, jaringan-jaringan tanaman mati selanjutnya mengering dan mati.

3. Fosfor (P)

Fosfor di dalam tanah terdapat dalam bentuk senyawa-senyawa organik, hanya sebagian saja dalam bentuk senyawa organik sebagai ion-ion fosfat (Sutedjo dan Kartasapoetra, 2002).

Tanaman menyerap unsur fosfor dalam bentuk H2PO4-. Bagi tanaman fosfor berguna untuk merangsang pertumbuhan akar, khususnya akar benih dan tanaman muda, dan juga sebagai bahan mentah untuk pembentukan sejumlah protein tertentu. Selain itu fosfor juga membantu proses asimilasi dan pernapasan sekaligus mempercepat pembungaan, pemakaian biji dan buah (Lingga, 1991).

Menurut Suprapto (1995), bahwa kekurangan fosfor pada kebanyakan tanaman terjadi sewaktu tanaman masih muda, oleh karena itu belum adanya kemampuan yang seimbang antara penyebaran fosfor oleh akar dengan fosfor yang dibutuhkan, sedangkan kelebihan fosfor akan menyebabkan tanaman cepat mengalami kekeringan karena panjang kara berlebihan.

4. Kalium (K)

Unsur kalium yang terkandung dalam tanah berperan untuk membantuk pertumbuhan pembentukan protein dan karbohidrat serta juga berperan penting untuk memperkuat tumbuh tanaman agar daun, bunga, dan buah tidak mudah berguguran, dan yang terpenting adalah kalium juga sebagai sumber kekuatan bagi tanaman menghadapi kekeringan dan penyakit (Lingga, 1991).

Kalium merupakan kation (K+) yang diserap oleh akar tanaman yang lebih besar jumlahnya dari pada kation-kation lainnya. Peranan kalium bagi tanaman adalah memperlancar proses fotosintesis, membantu pembentukan protein dan karbohidrat, menyebabkan daun, bunga, dan buah tidak mudah lepas dari tangkainya dan menghasilkan resistensi tanaman terhadap gangguan hama dan penyakit (Setyamidjaja, 1986).

Gejala-gejala pada tanaman yang kekurangan kalium terlihat pada daun-daun tanaman yang mengkerut atau keriting terutama pada daun tua, tetapitidak merata kemudian timbul bercak-bercak bewarna coklat, mengering lalu mati, buahnya akan tumbuh tidak sempurna, kecil dan hasilnya rendah. Sedangkan tanaman yang kelebihan kalium akan menyebabkan meningkatnya produksi hidrat arang dan mengurangi kepekaan terhadap kekeringan.


Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Lingga, P. 1991. Petunjuk penggunaan pupuk. Penebar Swadaya, Jakarta.

Prajnata. 1986. Agribisnis kedelai (Glycine max L. Merril). Peenbar Swadaya, Jakrta.

Setyamidjaja, 1986. Kesuburan dan pemupukan simplex, Jakarta.

Subroto dan A. Yusrani, 2005. Kesuburan dan pemanfaatan tanah. Bayumedia Publishing, Malang.

Suprapto. 1995. Bertani Kedelai. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sutejo, M.M dan A.G. Kartasapoetra, 2002. Pengantar ilmu tanah. Rineka Cipta. Jakarta.


No comments:

Post a comment