Friday, 22 July 2016

Pengertian DNA Barcoding Untuk Tanaman

Pengertian DNA Barcoding Untuk Tanaman

A. DNA Barcoding pada Tanaman 

Hebert et al (2003) menjelaskan bahwa DNA barcoding merupakan teknik untuk membedakan spesies dan mengindentifikasi  suatu spesimen dengan menggunakan sekuen pendek dari sebuah gen yang posisinya di dalam genom yang telah terstandarisasi (disepakati bersama) yang disebut sebagai " DNA Barcode".

Menuru Krees dan Erickson (2009) DNA barcoding adalah proses dimana satu atau lebih sekuen gen pendek yang diambil dari bagian genom standar suatu spesies yang kemudian digunakan untuk mengidentifikasi spesies tersebut.

Keunggulam DNA barcoding menurut Hebert et al (2005) adalah DNA barcoding akan mempercepat proses penemuan suatu spesies dengan memungkinkan para ahli taksonomi dapat dengan cepat menyortir spesimen dan menandai taksa yang berbeda yang mungkin mewakili spesies baru.

Pendapat lain dari kegunaan DNA barcoding menurut Krees et al (2005) adalah DNA barcoding merupakan salah satu teknik yang sangat penting untuk dikuasai oleh ahli taksonomi dalam pekerjaannya pada masa sekarang untuk memudahkan mengidentifikasi suatu spesies, akan tetapi perlu diingat bahwa DNA barcoding bukan digunakan untuk menyusun informasi filogenetik suatu spesies akan tetapi untuk meningkatkan kecepatan dan keakuratan dalam hal mengidentifikasi spesies yang belum diketahui.

DNA barcoding sangat sesuai untuk mengidentifikasi secara molekular spesies yang sudah terdeskripsikan maupun untuk spesies yang belum terdeskripsikan (Basith, 2015). Sehingga DNA barcoding dapat memberikan kontribusi kuat untuk penelitian keragaman dan taksonomi untuk setiap tanaman/tumbuh-tumbuhan liar lainnya.

Kriteria minimal sekuen DNA yang dapat dijadikan sebagai DNA barcoding adalah: (i) memiliki perbedaan dan variabilitas genetik yang tinggi pada tingkat spesies, (ii) memiliki ukuran sekuen DNA pendek sehingga mudah untuk isolasi DNA dan amplifikasi, (iii) menggunakan primer universal untuk amplifikasi PCR (Krees dan Erickson, 2008). Sedangkan berdasarkan Pecnikar dan Buzan et al (2013) DNA barcoding yang baik seharusnya memiliki kriteria sebagai berikut (i) Fragmen DNA harus hampir serupa dengan spesimen dari spesies yang sama akan tetapi berbeda antar individu dalam spesies yang lain, (ii) harus distandarkan, dengan daerah DNA yang sama seharusnya dapat membedakan golongan taksonomi spesies, (iii) harus cukup kuat, dengan lokasi primer yang terkonservasi, agar siap untuk dilakukan amplifikasi dan sequencing DNA.


Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Basith A, 2015. Peluang DNA Barcode Berbasis DNA Kloroplas untuk Mengungkap Keanekaragaman. Seminar Nasional XII Pendidikan Biologi FKIP UNS. Hal: 938-941. http://www.jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/prosbio/article/view/7232. 2 Mei.

Hebert PDN, Cywinska A, Ball SL, and deWaard JR, 2003. Biologocal Identification Through DNA Barcodes. The Royal Society. 270: 313-321. DOI: 10.1098/rspb.2002.2218.

Hebert PDN, and Gregory TR, 2005. The Promise of DNA Barcoding for Taxonomy. Sistematic Biology. Vol 54(5): 852-859. http://sybio.oxfordjournals.org/content/54/5/852/short. 2 Mei 2016. DOI: 10.1080/10635150500354886.

Krees WJ, Wurdack KJ, Zimmer EA, Weight LA, and Janzel DH, 2005. Use of DNA Barcodes to Identify Flowering Plants. PNAS . Vol 102 (23): 8369-8374. www.pnas.org.

Krees WJ, and Erickson DL, 2009. DNA Barcordes: Genes, Genomic, and Bioinformatics. PNAS. Vol 105(8): 2761-2762. www.pnas.org/cgi. 2 Mei 2016 DOI: 10.17073/pnas.0800476105.

Pecnikar ZF, and Buzan EV, 2013. 20 Years Since the Introduction of DNA Barcoding: from Theory to Aplication. Journal of Applied Genetics. Vol 55(1): 43-52. http://www.researchgate.net/profile/Elena.Buzan/publication/258351863.Barcoding/link/0deec52809182a6902000000.pdf. 2 Mei 2016. DOI: 10.1007/s13353-013-0180-y.

No comments:

Post a comment