Monday, 13 June 2016

Tinjauan Pustaka Peran Kultur Embrio Somatik Dalam Pemuliaan Tanaman

A. Peran Kultur Embrio Somatik Dalam Pemuliaan Tanaman

Perbanyakan melalui teknik kultur jaringan berpeluang untuk mendukung upaya pengadaan benih sumber bebas pathogen dalam jumlah banyak. Hal ini akan menunjang program perbaikan potensi genetik untuk menghasilkan varietas baru selain menunjang penyediaan benih sehat dalam jumlah banyak. Terutama dalam pembentukan benih somatik (embrio somatik) lebih diminati karena dapat menghasilkan bibit yang lebih banyak, seragam, sehat dan cepat. Embrio genesis somatik merupakan suatu proses dimana sel-sel somatik (baik haploid maupun diploid) berkembang membentuk tumbuhan baru melalui tahapan perkembangan embrio yang spesifik tanpa melalui fusi gamet (Yowono, 2006).

Kemampuan regenerasi embrio somatik pada kultur sel, memungkinkan untuk digenerasikannya tanaman lengkap, sedangkan bila regenerasi melalui organogenesis tidak memmungkinkan. Suatu keuntungan yang nyata dari embriogenesis somatik adalah embrio-embrio somatik yang dihasilkan bersifat bipolar yakni memiliki ujung-ujung akar dan pucuk yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman lengkap. Teknik perbanyakan benih melalui induksi kalus dan perbanyakan embrio merupakan kegiatan yang erat kaitannya dengan pemuliaan dan penyediaan plasma nutfah dengan karakteristik genetik yang cukup bervariasi (Zulkarnain, 2009).

Aplikasi embrio somatik selain untuk mikropropagasi dan untuk pelestarian plasma nutfah dapat juga digunakan untuk mendukung program pemuliaan tanaman dalam perbaikan varietas atau menghasilkan varietas unggul. Saat ini embrio somatik mendapat perhatian yang besar dibidang bioteknologi tanaman, yaitu dalam produksi biji sintetik (artificial seed). Benih sintetik bertujuan untuk memperpanjang masa simpan, mempermudah distribusi, menghemat biaya dan tempat, meningkatkan kualitas embrio dan planlet, serta melindungi embrio. Embrio somatik juga merupakan sumber eksplan yang paling baik dalam perakitan tanaman transgenik, demikian juga untuk regenerasi atau perbanyakan (purnamaningsih, 2002).

Pembentukan embrio somatik sekunder dalam suatu induksi variasi somaklonal, dapat menyediakan sumber eksplan yang cukup serta mampu meningkatkan frekuensi variasi yang didapatkan. Variasi somaklonal merupakan metode mutasi melalui teknik kultur jaringan yang dapat digunakan untuk mendapatkan karakter baru pada tanaman, selanjutnya mutasi ini dapat diarahkan pada sifat-sifat tertentu yang diinginkan melalui seleksi in vitro (Bano, 2005).

Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Bano S, Jabeen M, Rahim F, Ilahi I (2005). Callus induction and regeneration in seed explants of rice (Oryza sativa cv. Swat-II). Pak.J. Bot. 37:829-836.

Purnamaningsih, Ragapadmi. 2002. Regenerasi tanaman melalui embriogenesis somatik dan beberapa gen yang mengendalikannya. Buletin AgroBio 5 (2): 51-58.

Yowono, Tribowo. 2006. Bioteknologi pertanian. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Zulkarnain. 2009. Kultur jaringan tanaman. Bumi aksara, Jambi.

Artikel terkait:



No comments:

Post a comment