Tuesday, 14 June 2016

Taksonomi dan Morfologi Kedelai

A. Pengertian Tanaman Kedelai

Kedelai merupakan tanaman pangan yang dimanfaatkan polongnya sebagai salah satu bahan makanan pokok yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat khususnya Indonesia karena nilai gizinya yang tinggi. Ada beberapa nama spesies kedelai di dunia namun yang paling dikenal dan banyak dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia adalah spesies Glycine max (L).Merr.

Taksonomi dan Morfologi Kedelai

B. Taksonomi Tanaman Kedelai

Menurut Adisarwanto (2008), tanaman kedelai termasuk ke dalam famili leguminosae, taksonomi lengkapnya adalah sebagai berikut:


  • Divisi : Spermatopyta
  • Sub Divisi : Angiospermae
  • Klas : Dicotyledoneae
  • Ordo : Polypetales
  • Famili : Leguminoseae
  • Sub Famili : Papilionoidaea
  • Genus : Glycine
  • Spesies : Glycine max (L.). Merr.

C. Morfologi Tanaman Kedelai

Tubuh kedelai tersusun atas dua alat (organ) utama, yaitu organ vegetatif dan organ generatif. Organ vegetatif (organ nutritivum) merupakan organ hara yang berfungsi sebagai alat pengembil, pengankut, pengolah, penyalur, dan penyimpan cadangan makanan pada suatu tanaman seperti akar, batang, dan daun. Sedangkan organ generatif merupakan organ sebagai alat berkembangbiakan tanaman meliputi buah, bunga, polong, dan biji.

C.1. Organ vegetatif

c.1.1. Akar tanaman kedelai

Akar kedelai mulai muncul dari belahan kulit biji yang muncul di sekitar misofil. Calon akar tersebut kemudian tumbuh dengan cepat ke dalam tanah, sedangkan kotiledon yang terdiri dari dua keping akan terangkat kepermukaan tanah akibat pertumbuhan yang cepat dari hipokotil. Sistem perakaran kedelai terdiri dari dua macam, yaitu akar tunggang dan akar sekunder (serabut) yang tumbuh dari akar tunggang (Adisarwanto, 2005).

Selain itu kedelai juga seringkali membentuk akar adventif yang tumbuh dari bagian bawah hipokotil.
Pada umumnya, akar adventif terjadi karena cekaman tertentu, misalnya kadar air tanah yang terlalu tinggi. Perkembangan akar kedelai sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik dan kimia tanah, jenis tanah, cara pengolahan lahan, kecukupan unsur hara, serta ketersediaan air di dalam tanah.

c.1.2. Batang dan cabang tanaman kedelai

Hipokotil pada proses perkecambahan merupakan bagian batang, mulai dari pangkal akar sampai kotiledon. Hipokotil dan dua keping kotiledon yang masih melekat pada hipokotil akan menerobos ke permukaan tanah. Bagian batang kecambah yang berada di atas kotiledon tersebut dinamakan epikotil. Pertumbuhan batang kedelai dibedakan menjadi dua tipe, yaitu tipe determinate dan indeterminate (Adisarwanto, 2005).

Pertumbuhan batang tipe determinate ditunjukan dengan batang yang tidak tumbuh lagi pada saat tanaman mulai berbunga. Sedangkan pertumbuhan batang tipe indeterminate ditunjukan dengan pucuk batang tanaman masih bisa tumbuh daun, walaupun tanaman sudah mulai berbunga.

c.1.3. Daun tanaman kedelai

Tanaman kedelai mempunyai dua bentuk daun yang dominan, yaitu stadia kotiledon yang tumbuh saat tanaman masih berbentuk kecambah dengan dua helai daun tunggal dan daun bertangkai tiga (trifoliate leaves) yang tumbuh selepas masa pertumbuhan. Umumnya, bentuk daun kedelai ada dua, yaitu bulat (oval) dan lancip (lanceolate). Kedua bentuk daun tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik (Suprapto, 1997).

Bentuk daun diperkirakan memiliki kolerasi yang sangat erat dengan potensi produksi biji. Daun kedelai mempunyai stomata, berjumlah antara 190-320 buah per m2. Umumnya daun mempunyai bulu dengan warna cerah dan jumlahnya bervariasi. Panjang bulu bisa mencapai 1 mm dan lebar 0,0025 mm. Kepadatan bulu bervariasi, tergantung varietas, tetapi pada umumnya diantara 3-20 buah per mm2.

C.2. Organ generatif

c.2.1. Bunga kedelai

Tanaman kedelai di Indonesia mempunyai panjang hari rata-rata sekitar 12 jam dan suhu udara yang tinggi (>30 derajat celcius), sebagian besar mulai berbunga pada umur antara 5-7 minggu. Bunga kedelai menyerupai kupu-kupu. Tangkai bunga umumnya tumbuh dari ketiak daun yang diberi nama rasim. Jumlah bunga pada setiap ketiak tangkai daun sangat beragam, antara 2-25 bunga, tergantung kondisi lingkungan tumbuh dan varietas kedelai.

c.2.2. Polong tanaman kedelai

Polong kedelai pertama kali terbentuk sekitar 7-10 hari setelah munculnya bunga pertama. Panjang polong muda sekitar 1 cm. Jumlah plong yang terbentuk pada setiap ketiak tangkai daun sangat beragam, antara 1-10 buah dalam setiap kelompok. Pada setiap tanaman, jumlah polong dapat mencapai lebih dari 50 buah, bahkan ratusan. Kecepatan pembentukan polong dan pembesaran biji akan semakin cepat setelah proses pembentukan bunga berhenti. Ukuran dan bentuk polong menjadi maksimal pada saat awal periode pemasakan biji. Hal ini kemudian diikuti oleh perubahan warna polong, dari hijau menjadi kuning kecoklatan pada saat masak (Adisarwanto, 2005).

c.2.3. Biji kedelai

Biji tanaman kedelai berkeping dua yang terbungkus oleh kulit embrio yang terletak diantara keping biji. Warna kulit biji bermacam-macam, ada yang kuning, hitam, hijau, dan coklat. Pusar biji adalah jaringan bekas biji kedelai yang menempel pada dinding buah. Bentuk biji kedelai pada umumnya bulat lonjong, ada yang bundar atau bulat agak pipih. Besar biji bervariatif tergantung varietas (Suprapto, 1997). Biji kedelai tidak mengalami masa dormansi sehingga setelah proses pemanenan selesai, biji kedelai dapat langsung ditanam, namun demikian biji kedelai tersebut harus mempunyai kadar air berkisar 12-13%.

Sumber rujuka/Daftar pustaka:

Adisarwanto, T. 2005. Budidaya kedelai dengan pemupukan yang efektif dan pengoptimalan peran bintil akar. Penebar Swadaya, Jakarta.

Adisarwanto, T. 2008. Budidaya kedelai tropika. Penebar Swadaya, Jakarta.

Suprapto. 1997. Bertanam kedelai. Penebar Swadaya. Jakarta.





No comments:

Post a comment