Friday, 17 June 2016

Pengertian Tanah Ultisol

 
Tanah ultisol

A. Pengertian Tinjauan Umum Tanah Ultisol

Tanah ultisol, umumnya berkembang dari bahan induk tua. Di Indonesia banyaak ditemukan di daerah, dengan bahan induk batuan liat. Tanah ultisol merupakan bagian terluas dari lahan kering di Indonesia yang belum dipergunakan untuk pertanian, tersebar di daerah sumatra, Kaliamntan, Sulawesi dan Irian jaya. Daerah-daerah ini direncanakan sebagai daerah perluasan arel pertanian dan pembinaan transmigrasi. Sebagian besar merupakan hutan tropika dan padang alang-alang. Problema tanah ini adalah reaksi masam, kadar Al tingggi sehingga menjadi racun tanaman dan menyebabkan fiksasi P, unsur hara rendah, diperlukan tindakan pengapuran dan pemupukan (Hardjowigeno, 2003).

Kata ultisol sendiri berasal dari kata "ultimus" yang artinya terakhir dan "sola" artinya tanah. Dengan demikian ultisol merupakan tanah yang mengalami pelapukan lanjut dan hal tersebut memperlihatkan pencucian intensif dan paling akhir serta mempunyai lapisan yang mengandung akumulasi liat (Buckman, 1982) ditambahkan Hardjowigeno (2003) ultisol hanaya ditemukan di daerah-daerah dengan suhu rata-rata lebih dari 8 derajat celcius. Ultisol adalah tanah dengan horizon argilik atau kandik bersifat masam dengan kejenuhan basa rendah. Kejenuhan basa (jumlah kation) pada kedalaman 1,8 m dari permukaan tanah <35% sedang kejenuhan basa pada kedalaman kurang dari 1,8 m dapat lebih rendah atau tinggi dari 35%. Horison Argilik merupakan horison liat (BT) (1) Bila horison eluvasi mengandung liat kurang dari 15 persen, maka horison argilik harus mengandung liat lebih 3% dari horison eluviasi. (2) Bila mengandung liat 15-40 persen, maka harus mengandung liat 1,2 kali lebih banyak dari horison eluviasi. (3) Bila mengandung liat lebih dari 40 % maka harus mengandung liat lebih 8% dari horison eluviasi. Ultisol merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai sebaran luas, mencapai 45.794.000 ha atau sekitar 25% dari total luas daratan Indonesia (Subagyo, 2004). Sebaran terluas terdapat di Kalimantan (21.938.000 ha), diikuti di Sumatera (9.469.000 ha), Maluku dan Papua (8.859.000 ha), Sulawesi (4.303.000 ha), Jawa (1.172.000 ha), dan Nusa Tenggara (53.000 ha). Tanah ini dapat di jumpai pada berbagai relief, mulai dari datar hingga bergunungan. Ultisol dapat berkembang dari berbagai bahan induk, dari yang bersifat masam hingga basa, namun sebagian besar bahan induk tanah ini adalah batuan sedimen masam.


Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Buckman, H. D dan N. C Brady. 1982. The nature and properties of soil. Terjemahan Soegiman. Ilmu tanah. Bharata Karya Aksara, Jakarta.

Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah. Akademik Presindo, Jakarta.

No comments:

Post a comment