Saturday, 18 June 2016

Pengertian Pengapuran Tanah Pertanian

 
Pengapuran

A. Pengertian Pengapuran Tanah dalam Bidang Pertanian

Secara umum semua jenis kapur bagi pertanian untuk mengurangi keasaman tanah dan menambah Ca sebagai unsur hara bagi tanaman. Pilihan akan sesuatu jenis bahan kapur berdasarkan pertimbangan harga, daya mengurangi keasaman tanah, kandungan hara tanaman akan Ca dan zat lain (Kuswandi, 1988).

Bahan kapur akan mengurangi keasaman tanah dan menambah Ca cepat atau lambat tergantung terutama pada kehalusan bahan dan lain-lain kapur dolomit biasanya agak lebih lambat reaksinya dibandingkan kapur-kapur berkadar Ca tinggi, walaupun bahannya sama-sama halus. Namun bila pemberiannya sebelum tanam dan pemberiannya secara hati-hati, tidak banyak berbeda. Bantuan dolomit menyediakan unsur Mg : inilah unsur utama untuk diberikan pada tanah yang Mg. Kalau yang diperlukan hanya Mg, tentu saja dapat diganti bentuk lain seperti MgSO4 atau garam KMg (Kuswandi, 1988).

Ada dua jenis kapur yang berbeda yaitu kapur hidup dan kapur mati. Kedua jenis kapur ini mengandung bahan kimia yang sangat aktif, tidak enak dipegang dan sukar disimpan. Pengapuran setelah tanam dengan bahan-bahan ini, terutama kapur hidup, dapat merusak pucuk tanaman. Oleh karena itu pengapuran hendaknya dilakukan sebelum tanam. Dan kelebiha  kapur dalam tanah lebih sering terjadi akibat pemberian jenis kapur ini dibandingkan kapur giling atau kapurbara. Bersifat reaktif kapur hidup dan kapur mati ini dimanfaatkan untuk mempercepat pengendalian keasaman tanah. Kapur hidup dan kapur mati  yang dibuat dari bahan kapur dolomit merupakan sumber Mg yang baik bagi tanaman.

Marl yang tidak berbentuk bongkahan biasanya mudah ditumbuk dan reaksinya sedikit lebih cepat dalam tanah dibandingkan bahan yang lain yang sama ukuran partikelnya. Sayangnya kandungan Mgnya sedikit sekali. Kandungan Ca-nya tidak setinggi pada bahan lain, karena mudah mencemari bahan-bahan mineral, bahan organik, atau kombinasinya. Cara mendapatkannya dengan menggali dalam keadaan basah. Mengingat hal-hal tersebut di atas, Marl yang bermutu tinggi harganya mahal, lebih-lebih bila diangkut dari jarak jauh (Kuswandi, 1988).


Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Kuswandi, 1988. Pengapuran tanah pertanian. Yogyakarta.

No comments:

Post a comment