Sunday, 12 June 2016

Latar Belakang Daya Perkecambahan Kedelai

B. Latar Belakang

Kedelai merupakan salah satu bahan pokok yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia krena nilai gizinya yang tinggi. Untuk memenuhi konsumsi dalam negri, maka produksinya perlu ditingkatkan dengan cara penggunaan benih bermutu dalam budidaya (Adisarwanto, 2008). Mutu benih yang mencakup mutu fisik, mutu fisiologis, dan genetik dipengaruhi oleh proses penanganannya dari produksi sampai akhir periode simpan (Sadjad, 1980).

Latar Belakang Daya Perkecambahan Kedelai
Dalam beberapa tahun terakhir penggunaan benih varietas unggul pada komoditas tanaman kedelai melalui subsidi benih semakin meningkat, hal ini seiring dengan semakin disadarinya manfaat penggunaan benih bermutu oleh petani dan penggunaan benih. Menurut data statistik dari Dinas Pertanian Kalimantan Timur menunjukan bahwa luas bantuan langsung benih unggul (BLBU) tanaman kedelai untuk 14 Kabupaten/Kota pada tahun 2011 sebanyak 851 ha, dengan kebutuhan benih 34.040 Mg (Laporan Tahunan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Timur, 2011).

Besarnya permintaan kebutuhan benih kedelai, tidak sebanding dengan ketersediaan benih yang dimiliki, faktor yang menyebabkan rendahnya ketersediaan benih kedelai, salah satunya adalah adanya kemunduran benih, hal ini disebabkan oleh menurunya mutu benih (deteriorasi) pada 3-4 bulan setelah panen akibat proses penyimpanan, pengankutan, dan penyaluran antar daerah yang tidak tepat sehingga benih yang ditanam akhirnya mengalami penurunan daya berkecambah. Menurut Sadjad (1994), dalam kurun waktu 3 (tiga) bulan pada suhu kamar 30 derajat celcius, benih kedelai tidak dapat mempertahankan viabilitasnya pada kadar air 14% dalam penyimpanan benih setelah panen.

Menurut Toole dan Hendricks (1956), kemunduran benih dapat ditunjukan oleh gejala fisiologis, gejala kinerja benih, dan pemunduran warna akibat penuaan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh autoxidasi lipid, degradasi struktur fungsional, ribosom tidak mampu berdisosiasi, degradasi dan inaktifitas enzim, pengaktifan/pembentukan enzim hidrolitik, degradasi genetik, dan akumulasi senyawa beracun.

Benih tanaman kedelai tidak mengalami masa dormansi, sehingga benih yang dipanen akan langsung mengalami perkecambahan, kemudian pada fase berikutnya benih akan mengalami masa kemunduran, dimana benih pada fase ini akan mengalami penurunan viabilitas atau daya perkecambahan benih secara perlahan-lahan. Untuk mengatasi permasalahan terjadinya kemunduran benih, baik yang disebabkan oleh faktor penyimpanan maupun yang diakibatkan oleh faktor kesalahan dalam penanganan benih, dapat dilakukan dengan teknik invigorasi (perlakuan fisik dan kimia untuk meningkatkan atau memperbaiki vigor benih). Perlakuan ini sudah banyak dilakukan pada beberapa tanaman seperti tanaman padi dan jagung. Pada tanaman jambu mente misalnya perlakuan invigorasi dapat meningkatkan daya perkecambahan dan kecepatan tumbuh benih (Basu dan Rudrapal, 1982).

Selain dengan perlakuan invigorasi, benih yang akan mengalami penurunan mutu, diduga akan bisa dicegah dengan pemberian salah satu hormon tumbuh yang bersifat merangsang kembali proses pembelahan sel di dalam benih, sehingga masa kemunduran dari benih kedelai tersebut dapat dicegah. Hal ini dapat diwujutkan dengan pemberian perlakuan hormon/sitokinin pada benih. Hormon sitokinin mampu meningkatkan persentase perkecambahan normal.

Pemberian hormon untuk perlakuan invigorasi benih sulit diterapkan pada tingkat petani, mengingat harga hormon tumbuh sintetis yang ada di pasaran relatif mahal dan sulit untuk didapatkan, oleh karena itu usaha untuk mencari hormon tumbuh alami yang banyak tersedia dan murah serta mudah didapatkan perlu dilakukan upaya untuk memecahkan masalah ini.

Sumber rujukan/daftar pustaka:

Adisarwanto, T. 2008. Budidaya kedelai tropika. Penebar Swadaya, Jakarta.

Basu, R.N. and A.B. Rudrapal. 1982. Post harvest seed physiologi and seed invigoration treatments. Procceding of the Indian Statistical Institute Golden Jubilee Interna-tional Conference on Frontiers of Research in Agriculture. Calcuta. India.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Timur. 2011. Laporan Akhir Tahun Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Timur. Samarinda.

Sadjad, S. 1980. Panduan mutu benih tanaman kehutanan di Indonesia. IPB, Bogor.

Sadjad, S. 1994. Kuantifikasi metabolisme benih. P.T Widia Sarana Indonesia.

Toole, E.H. dan Hendricks, S. 1956. Annu. Rev. Plant Physiol. 7: 229-324.


Artikel Terkait:

Taksonomi dan Morfologi Kedelai



No comments:

Post a comment