Tuesday, 14 June 2016

Klasifikasi dan Morfologi Padi Secara Umum

Padi

A. Pengertian Tanaman Padi

Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman dari bangsa rumput-rumputan yang dimanfaatkan sebagai bahan makanan pokok di dunia. Padi tergolong ke dalam genus Oryza yang termasuk dalam rumpun Oryzeae dalam familia Gramineae (rumput-rumputan), dimana sekitar 20 spesies tersebar di dunia terutama di daerah tropis basah Afrika, Asia Selatan dan Asia Tenggara, Cina Selatan, Amerika Selatan dan Tengah, dan Australia. Padi yang dibudidayakan saat ini termasuk dalam genus Oryza dengan spesies utama yaitu Oryza sative L. spesies lain yaitu Oryza glaberima yang tumbuh secara preodik di beberapa wilayah negara-negara Afrika Barat, secara bertahap mulai tergantikan oleh Oryza sativa (De Datta, 1981). Berikut adalah klasifikasi lengkap tanaman padi secara umum.

B. Klasifikasi Tanaman Padi Secara Umum

Menurut Tjitrosoepomo (2005) tanaman padi dalam sistemetika tumbuh dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

B.1. Klasifikasi padi:


  • Kingdom : Plantae (tumbuhan)
  • Sub Kingdom : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
  • Super Divisi : Spermatophyta (menghasilkan biji)
  • Divisi : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
  • Kelas : Liliopsida (berkeping satu/monokotil)
  • Sub Kelas : Commelidinidae
  • Ordo : Poales
  • Famili : Poaceae/Gramineae (suku rumput-rumputan)
  • Genus : Oryza
  • Spesies : Oryza sativa L.

C. Morfologi Padi Secara Umum

Morfologi tanaman padi menyangkut bentuk dan struktur organisme tersebut yang merupakan dasar utama dalam klasifikasi tanaman dan digunakan sebagai alat untuk mengenal adaptasi tanaman terhadap lingkungannya (Manurung dan Ismunadji, 1988).

Morfologi tanaman padi merupakan susunan tubuh tanaman yang dibagi menjadi dua bagian yaitu vegetatif yang terdiri dari akar, batang, dan daun. Sedangkan bagian generatif yang terdiri dari malai, bunga, dan buah.

C.1. Morfologi bagian vegetatif tanaman padi

c.1.1. Akar

Akar tanaman padi termasuk golongan akar serabut. Akar padi berfungsi untuk menyerap zat makanan dan air, proses respirasi dan menopang tegaknya batang. Akar padi dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu akar primer dan akar adventif. Akar primer yaitu akar yang tumbuh dari kecambah biji, sedangkan akar adventif berupa akar yang tumbuh di dekat buku-buku. Kedua akar ini tidak banyak mengalami perubahan setelah tumbuh karena akar padi tidak mengalami pertumbuhan sekunder (Supriadiputra dan Setiawan, 2000).

c.1.2. Batang

Batang padi terutama berfungsi untuk menopang tanaman secara keseluruhan dan mendistribusikan zat makanan ke seluruh bagian tanaman (Simanjuntak, 2005). Menurut Herawati (2012), padi termasuk golongan tumbuhan Graminae dengan batang yang tersusun dari ruas. Ruas-ruas itu merupakan bubung kosong. Pada kedua ujung bubung kosong itu, bubungnya ditutupi oleh buku. Panjang ruas tidak sama, ruas yang terpendek terdapat pada pangkal batang. Ruas yang kedua , ruas yang ketiga dan seterusnya lebih panjang dari pada ruas yang didahuluinya. Ditambahkan Supriadiputra dan Setawan (2000), ruas-ruas ini pada masa awal pertumbuhan bentuknya pendek dan bertumpuk. Setelah masa reproduktif, ruas-ruas tumbuh memanjang dan berongga. Pertunasan (tumbuhnya tunas) dimulai pada buku paling bawah, berupa tumbuhnya tunas sekunder. Kemudian dari tunas sekunder ini tumbuh tunas lainnya sehingga terbentuk tunas yang banyak.

c.1.3. Daun

Daun padi memiliki crikhas, yaitu adanya lidah daun dan telinga daun. Hal ini menyebabkan daun padi dapat dibedakan dari jenis rumput yang lain. Bagian-bagian daun padi, adalah:
  • helaian daun : terletak pada batang padi dan selalu ada, bentuknya memanjang seperti pita, panjang dan lebar helaian daun tergantung varietas padi yang bersangkutan.
  • pelepah daun (upih) : merupakan bagian daun yang menyelubungi batang, pelepah daun ini berfungsi memberi dukungan pada bagian ruas yang jaringannya lunak, dan hal ini selalu terjadi.
  • lidah daun : lidah daun terletak pada perbatasan antara helai daun dan upih. Panjang lidah daun berbeda-beda, tergantung pada varietas padi. Lidah daun duduknya melekat pada batang. Fungsi lidah daun adalah mencegah masuknya air hujan di antara batang dan pelepah daun. Disamping itu, lidah daun juga mencegah infeksi penyakit, sebab media air memudahkan penyebaran penyakit (Herawati, 2012).

C.2. Bagian generatif

c.2.1. Malai

Menurut Herawati (2012), malai adalah sekumpulan bunga padi (spikelet) yang keluar dari buku paling atas. Ruas buku terakhir dari batang merupakan sumbu utama dari malai, sedangkan bulir-bulir terletak pada cabang pertama dan cabang kedua. Panjang malai dapat dibedakan menjadi 3 ukuran, yaitu malai pendek (kurang dari 20 cm), malai sedang (antara 20-30 cm) dan malai panjang (lebih dari 30 cm). Jumlah cabang pada setiap malai berkisar antara 7-30 buah cabang. AAK (1992), menambahkan bahwa panjang malai, banyaknya cabang-cabang tiap malai dan bulir padi tiap cabang, tergantung pada varietas padi yang ditanam dan cara bercocok tanam.

c.2.2. Bunga

Bunga padi tergolong dari jenis bunga berkelamin dua. Setiap bunga mempunyai enam benang sari yang bertangkai pendek dengan dua tangkai putik dan dua buah kepala putik. Penyerbukan dan pembuahan dimulai dengan penempelan serbuk sari pada kepala putik. Proses tersebut akan menghasilkan buah padi (gabah) (Supriadiputra dan Setiawan, 2000).

c.2.3. Biji/buah padi

Menurut Herawati (2012), buah padi yang sehari-hari kita sebut biji padi atau butir/gabah, sebenarnya bukan biji melainkan buah padi yang tertutup oleh lemma dan palea. Buah ini merupakan hasil penyerbukan dan pembuahan yang mempunyai bagian-bagian sebagai berikut: embrio (lembaga), endosperm dan bekatul. Proses penyerbukan biasanya berlangsung antara jam 09.00-11.00 pagi. Pemasakan buah memerlukan waktu sekitar 30 hari untuk daerah tropis dan mencapai 65 hari untuk daerah sub tropis.


Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Aksi Agraris Kanisius. 1992. Budidaya tanaman padi. Kanisius, Yogyakarta.

De Datta, S.K. 1981. Principles and practice of rice production. A Wiley-Interscience Publication. John Wiley & Sons. New York.

Herawati, W.D. 2012. Budidaya padi. Javalitera, Jogjakarta.

Manurung, S.O. dan M. Ismunadji. 1988. Morfologi dan fisiologi padi dalam M. Ismunadji, S. Partohardjono, M. Syam, dan A. Widjono (ed). Padi buku 1. Balai penelitian dan pengembangan tanaman pangan. Bogor. Hal 55-102.

Simanjuntak, L. 2005. Usaha tani PATI (Padi, Azolla, Tiktok, dan Ikan). Agro Media Pustaka, Jakarta.

Supriadiputra, S. dan A.I, Setiawan. 2000. Mina padi: Budidaya ikan bersama padi. Penebar Swadaya, Jakarta.






No comments:

Post a comment