Saturday, 25 June 2016

Hama Penganggu Tanaman Kedelai Dan Pengendaliannya

A. Jenis dan Pengertian Hama Pengganggu Tanaman Kedelai

Hama Penganggu Tanaman Kedelai Dan Pengendaliannya

Kendala biotik pada daerah tropis terhadap tanaman kedelai adalah banyaknya jenis hama potensial yang merusak dan menurunkan produktifitas kedelai sampai 80%, sementara untuk daerah subtropik hanya terdapat 1-2 jenis hama yang merusak tanaman kedelai. Sudah ada 100 jenis hama potensial perusak tanaman kedelai yang berhasil diidentifikasi oleh para ahli di Indonesia. Sembilan jenis diantaranya merupakan hama utama yang menyerang tanaman mulai dari awal pembibitan, tanaman muda, bagian daun, polong muda, dan polong tua (Adisarwanto, 2006).

Ada banyak jenis seranga yang diketahui berasosiasi dengan tanaman kedelai, 28 jenis diantara diketahui sebagai hama perusak tanaman. Percobaan lapangan menunjukan bahwa kerusakan yang disebabkan oleh kompleks hama bila tidak dikendalikan, dapat mencapai 80% (Sukarna dan Hartono,1985).

Menurut Lamina (1989), dan Suprapto (1996), hama yang menyerang kedelai antara lain:

1. Kumbang daun kedelai (Phaedonia inclusa Stall.).

Kumbang daun kedelai akan memakan hampir semua bagian tanaman, diantaranya daun kedelai yang masih muda, pucuk, tunas, polong muda, dan bunga. Kumbang ini akan menyerang tanaman pada sore dan pagi hari. Biasanya larva dari kumbang ini juga ikut memakan bagian tanaman kedelai. Kumbang kedelai memiliki ciri-ciri dengan kepala berwarna kemerah-merahan dan sayap hitam kebiru-biruan mengkilap. Menghasilkan telur rata-rata 200-250 butir untuk tiap induk siklus hidupnya antara 20-21 hari yang bearti dalam 1 kali musim pertanaman kedelai dapat diserang oleh 2 atau 3 generasi.

2. Lalat bibit/lalat kacang (Agromyza phaseoli Cog)

Lalat bibit merupakan jenis hama yang menyerang bibit kedelai selain itu juga, dapat merusak daun pertama dan kedua pada tanaman yang masih muda yaitu umur 1-4 hst. Ciri-ciri lalat bibit adalah bewarna hitam mengkilap dan berukuran 1,9-2,1 mm. Gejala serangannya terdapat bercak-bercak pada keping biji pada tanaman yang masih muda. Pada saat keping biji terlepas dari pangkal batang, di dalam pangkal batang terdapat larva. Apabila larva sudah mencapai pangkal akar, daun mulai melayu dan kuning kemudian tanaman mati. Serangan yang paling barat ketika umur tanaman mencapai 11 hst (hari setelah tanam) yang akan menyebabkan tanaman kerdil sedangkan proses kematian tanaman akan tampak setelah umur tanaman 14-30 hst. Siklus hidup lalat bibit adalah 21-28 hari dan sangat tergantung faktor lingkungan.

3. Kepik polong (Riptortus linearis F.)

Kepik polong dewasa bentuk tubuhnya mirip dengan walang sangit, bewarna kuning coklat dan terdapat garis putih kekuningan disepanjang sisi tubuhnya. Kepik betina memiliki ciri-ciri perutnya membesar dan gembung di bagian tengahnya dan ukuran tubuhnya berkisar 13-14 mm. Sedangkan kepik jantan memiliki ciri-ciri perutnya ramping dan lurus dan ukuran tubuhnya berkisar 11-13 mm. Telur kepik di letakan secara berkelompok pada permukaan bawah dan atas daun serta pada polong, meletakannya secara berderet 3-5 butir. Bentuk telur kepik bulat dan agak cekung bagian tengahnya berdiameter 1,2 mm. Telur yang baru dikeluarkan oleh kepik betina bewarna biru keabu-abuan setelah beberapa saat warna telur akan berubah coklat suram. Telur akan menetas menjadi kepik muda (nimfa) setelah 6-7 hari. Bentuk nimfa agak mirip dengan semut hitam.

Nimfa menghisap menghisap cairan biji dalam polong kedelai muda. Cara merusaknya, nimfa menusukan stilet pada polong yang masih muda menembus hingga biji muda dan menghisap cairan dalam biji tersebut. Polong dan biji yang diserang nimfa, akan mengkerut dan kempis menjadi kering dan gugur.

4. Kepik hijau (Nezara virida L.)

Imago dan nimfa menyerang polong muda dan polong tua dengan cara menusuk lalu menghisap cairan pada biji dalam polong. Polong yang terserang akan kempis atau bijinya berkeriput. Bedanya dengan kepik polong, kepik hijau dewasa tubuhnya bewarna hijau kadang juga ditemukan bewarna kuning pada bagian kepala dan porotrak. Nimfa terdiri dari lima instar dengan warna kemerah-merahan dan akan berubah menjadi coklat muda, hitam berbintik putih, hijau berbintik kuning, sampai hijau berbintik hitam dan putih (sesuai dengan perkembangan instarnya). Lama stadia nimfa 21-28 hari. Telur diletakan pada permukaan daun bagian bawah dan diletakan secara berkelompok sebanyak 10-50 butir.

Gejala yang terlihat akibat hisapan kepik hijau dewasa dan nimfanya terhadap polong muda akan terlihat keriput dan kempis, polong menjadi hampa karena tidak terbentuk biji dan akan gugur. Sedangkan gejala serangan pada polong tua, biji yang dihasilkan akan keriput dan terdapat bercak warna hitam bekas hisapan. Akibat serangan hama ini dapat menurunkan kualitas biji kedelai dan hasil produksinya juga menurun sehingga petani akan mengalami kerugian.

5. Penggerek polong kedelai (Eteilla zinckenela Treit.)

Penggerek polong kedelai tersebar diseluruh Indonesia dan salah satu hama utama yang menyerang pada daerah sentra produksi kedelai. Pepulasinya terus meningkat seiring dengan meningkatnya tanaman inang yang menyebar luas diseluruh Indonesia. Diperlukan perhatian kusus tarhadap hama tersebut karena efek yang merugikan bagi produsen kedelai karena produksinya menurun.

Ciri-ciri penggerek polong kedelai dengan warna tubuh keabu-abuan dan mempunyai garis putih pada sayap depan. Hama tersebut meletakkan telur secara berkelompok dibagian bawah daun, kelopak bunga  dan polong. Jumlah telur dalam kelompok berkisar 4-15 butir. Bentuk telurnya lonjong dengan diameter 0,6 mm. Warna telur pada saat baru dikeluarkan bewarna putih mengkilap, lalu berubah manjadi kemerahan, pada saat telur akan menetas warna berubah menjadi jingga. Telur akan menetas pada hari ke 3-4 dan keluar larva yang bewarna putih kekuningan kemudian berubah menjadi hijau dengan garis merah memanjang. Larva pada instar 1-2 menggerek kulit polong kemudian masuk kedalam biji dan hidup didalamnya. Instar ke 2 larva hidup di luar biji. Larva instar akhir berukuran panjang 13-15 mm dan lebar 2-3 mm. Setelah mencapai instar akhir, larva akan berubah menjadi kepompong yang terbentuk di dalam tanah yang terlebih dulu membuat sel dari tanah. Kepompong bewarna coklat dengan panjang 8-10 mm dan lebar 2 mm. Kepompong akan berubah menjadi ngengat setelah umur 9-15 hari.

Larva menggerek kulit polong dan memakan biji, larva tersebut lebih menyukai memakan biji yang masih muda. Larva akan tinggal di dalam polong. Serangan larva tersebut terhadap polong kedelai yang masih muda akan menyebabkan terjadinya kerontokan polong. Sedangkan serangan pada polong yang sudah tua akan menyebabkan penurunan kuantitas biji.

6. Ulat grayak (spodoptera litura F.)

Hama ini menyerang daun dan polong muda umumnya ketika kedelai mulai berbunga. Hama ini aktif menyerang tanaman pada malam hari, sedang waktu siang bersembunyi dibalik daun dalam tanah. Telur ulat grayak di letakan pada permukaan daun bagian bawah secara berkelompok antara 30-700 butir. Lama stadia telur, membentuk larva dan memakan daun bagian bawah. Larva bewarna abu-abu gelap dan coklat dengan larva masih kecil memakan jaringan epidermis tanaman, kemudian setelah cukup besar mulai memakan helai daun. Stadia larva 15-30 hari, stadia pupa 9-10 hari. Imago berbentuk ngengat yang bewarna agak gelap dengan garis putih pada sayap depannya. Ngengat ini memiliki panjang tubuh antara 14-17 mm dan rentang sayapnya antara 34-42 mm. Stadia imago berlangsung 2-6 hari. Tanda serangan yang ditinggalkan adalah tulang-tulang daun. Epidermis daun bagian atas terdapat larva muda pada bagian bawah permukaan daun. Larva ini juga dapat merusak polong muda.

7. Ulat polong (Helicoverpa armigera Hbn.)

Ngengat bewarna sawo matang kekuning-kuningan. Telur berukuran kecil bewarna kuning dan diletakan secara tunggal pada pucuk tanaman atau disekitar bunga. Larva bewarna merah tua sampai hitam pada stadium dewasa. Pupa dibentuk di atas permukaan tanah. Daur hidup dari telur sampai imago sekitar 62 hari. Larva melubangi polong kedelai hingga rusak dan kadang-kadang membusuk.

8. Ulat penjalin daun (Lamprosema indicata F.)

Imago serangga ini berbentuk ngengat berukuran kecil dan bewarna kuning jerami dengan garis-garis coklat tidak beraturan pada sayap depannya, panjang tubuh antara 9-11 mm dengan sayap kira-kira 20 mm. Telur diletakan berkelompok pada permukaan bawah daun-daun muda. Setiap berkelompok terlurnya terdiri dari 2-5 butir. Telur berbentuk bulat pipih dan bewarna putih kekuningan dengan diameter 1 mm. Stadium telur berlangsung 5-7 hari. Pupa terbentuk didalam gulungan daun. Tubuh pupa bewarna coklat dengan panjang sekitar 12 mm. Stadium pupa berlangsung antara 6-7 hari.

9. Ulat jengkal (Chrysodexis chalcites Esp.)

Imago betina meletakkan telur pada permukaan bawah daun. Seekor imago betina mampu bertelur sampai 1.250 butir. Ciri khas larva adalah bergerak seperti menjengkal. Larva membentuk kepompong dalam anyaman daun, kemudian berubah menjadi pupa. Siklus hidup hama berlangsung selama kurang lebih 30 hari. Hama ini bersifat memakan segala jenis tanaman (polifag) dan satdium yang membehayakan adalah larva. Larva menyerang suluruh bagian tanaman terutama daun menhadi rusak tidak beraturan.

B. Pengendalian Hama Pada tanaman kedelai

Pengendalian hama penggerek polong kedelai direkomendasikan dengan pedoman Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Prinsip pengendalian hama terpadu adalah sebagai berikut :
  • Budidaya tanaman sehat : Tanaman yang sehat akan memiliki ketehanan tubuh terhadap serangan hama. Pelaku praktek-praktek agronomis atau pembudidaya kedelai dituntun untuk menuju terciptanya tanaman yang sehat dalam paket-paket teknologi produkasi.
  • Pelestarian musuh alami : Musuh alami (parasit, predator, dan patogen serangga) perlu dilestarikan, dikelola dan dikembanggan guna mengatur tingkat populasi hama pengganggu secara maksimal.
  • Memantau dan mengevaluasi ekosistem secara terpadu : Melakukan pemantauan dan mengevaluasi ekosistem pertanaman merupakan dasar analisi ekosistem oleh petani yang berperan sebagai ahli PHT dalam mengambil suatu keputusan tepat untuk mengendalikan hama.

Teknik pengendalian hama penggerek polong yang didasari oleh PHT :

  • Menanam secara serempak dengan perbedaan wakto 10 hari.
  • Pergiliran tanaman dengan tanaman jenis lain/bukan inang
  • Pelepasan parasetoid trichogramma spp
  • Penggunaan perangkap serangga 
  • Penyemprotan dengan pestisida bila dalam keadaan darurat yang dimana populasi hama melewati batas ambang kendali. Insektisida yang digunakan (klorfluazuron, betasiflutrin, sipermetrin, alfametrin, carbosulfan, dan sihalotrin). 

 

Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Adisarwanto, T. 2006. Tanaman kedelai. Kanisius. Bogor

Lamina, 1989. Kedelai dan perkembangannya. Simplex Jakarta. 135 hlm.

Sukarna dan Hartono. 1985. Pengendalian hama kedelai. Balai Penelitian Tanaman Pangan. Bogor. 

Suprapto, H.S. 1989. Bertanam kedelai. Penebar Swadaya. Jakarta.


No comments:

Post a comment