Tuesday, 28 June 2016

Landasan Teori Kulit Telur Dalam Studi Kimia

Landasan Teori Kulit Telur Dalam Studi Kimia

A. Pengertian Kulit Telur

Kulit telur merupakan lapisan terluar dari telur yang berfungsi untuk melindungi semua bagian telur dari luka dan gangguan mikroba yang dapat merusak telur.

Kulit telur membutuhkan waktu yang sangat lama untuk proses pembentukannya pada uterus di oviduct. Kandungan kalsium selama empat jam pertama berkisar 2,2% yang meningkat menjadi 5,6% per jam selama 16 jam berikutnya. Kulit telur ayam betina terbentuk dari pemberian pakan ternak dan rangka kalsium yang tersedia. Sekitar 47% rangka kalsium dialihkan untuk pembentukan kulit telur terluar. Untuk budidaya ayam petelur, kandungan kalsium harus lebih tinggi selama ayam tersebut masih memproduksi telur, karena kalsium sangat diperlukan untuk membentuk kulit terluarnya (Darmono, 1995).

Terdapat 4 (empat) lapisan kulit telur bila dilihat dengan menggunakan mikroskop :

1. Lapisan kutikula

Lapisan kutikula merupakan protein transparan yang melapisi permukaan kulit telur. Lapisan ini melapisi pori-pori pada kulit telur, tetapi sifatnya masih dapat dilalui gas sehingga keluarnya uap air dan gas CO2 masih dapat terjadi.

2. Lapisan busa

Lapisan busa merupakan bagian terbesar dari lapisan kulit telur. lapisan ini terdiri dari protein dan dan lapisan kapur yang terdapat unsur dari kalsium karbonat, kalsium fosfat, magnesium karbonat dan magnesium fosfat.

3. Lapisan mamilary

Lapisan mamilary merupakan lapisan ketiga dari kulit telur yang terdiri dari lapisan yang berbentuk kerucut dengan penampang bulat atau lonjong. Lapisan ini sangat tipis dan terdiri dari anyaman protein dan mineral.


4. Lapisan membran 

Lapisan membran merupakan bagian lapisan kulit telur yang terdalam. Terdiri dari dua lapisan selaput yang menyelubungi seluruh isi telur. Tebalnya lebih kurang 65 mikron (Nasution, 1997).

Komposisi kimia dari kulit telur terdiri dari protein 1,71%, lemak 0,36%, air 0,93%, serat kasar 16,21%, dan abu 71,34% (Nasution, 1997). Berdasarkan hasil penelitian, serbuk kulit telur ayam mengandung kalsium sebesar 401±7,2 gram atau sekitar 39% kalsium, dalam bentuk kalsium karbonat. Terdapat pula strontium sebesar 372±161 ʮg, zat-zat beracun seperti Pb, Al, Cd dan Hg terdapat dalam jumlah kecil, begitu pula dengan V, B, Fe, Zn, P, Mg, N, F, Se, Cu dan Cr (Schaafsma, 2000).

Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Darmono, 1995. Logam dalam sistem Biologi Makhluk Hidup. Jakarta : UI Press

Nasution., 1997. Pengaturan penguasaan penggunaan tanah dalam upaya pengendalian tanah pertanian sawab beririgasi dan mempertahankan swasembada beras. Yogyakarta : Seminar Nasional Studi Kebijakan Tata Ruang dab Pertanahan

Schaafsma, 2000. The protein digestibility corrected amino acid score. J Nutr.: 130:1865s-1867s

Monday, 27 June 2016

Pengertian Dimensi Pelayanan Publik dalam Ilmu Administrasi

 
Pengertian Dimensi Pelayanan Publik dalam Ilmu Administrasi

A. Pengertian Dimensi Pelayanan Publik

Keputusan Mentri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 58 Tahun 2002 tentang Pedomam Pelaksanaan Penelitian dan Penghargaan citra Pelayanan Prima sebagai unit pelayanan percontohan memuat tujuh dimensi yang dapat dijadikan dasar untuk mengukur kinerja pelayanan publik instansi pemerintah serta BUMN/BUMD. Ketujuh dimensi tersebut masing-masing dikembangkan menjadi dua pertanyaan, sehingga terdapat 14 pertanyaan yang ada dalam kuesioner dalam Keputusan Mentri Pendayagunaan Aparatur Negara tersebut, ketujuh dimensi pelayanan publik tersebut adalah sebagai berikut (Pasolong 2007:137).
  1. Kesederhanaan prosedur pelayanan : Ada atau tidak tersediannya prosedur tetap/Standar Operasional Pelayanan (SOP), apakah prosedur pelayanan tersebut tersedia secara terbuka, bagaimana dalam pelaksanaannya, apakah telah konsisten dalam pelayanannya dan bagaimana tingkat kemudahan dalam mendukung kelancaran pelayanan.
  2. Keterbukaan informasi pelayanan :  Mencakup apakah ada keterbukaan informasi mengenai prosedur, persyaratan dan biaya pelayanan, apakah dengan jelas dapat di ketahui oleh masyarakat, apakah terdapat media informasi termasuk petugas yang menanganin untuk menunjang kelanvaran pelayanan.
  3. Kepastian pelaksanaan pelayanan : Mencakup apakah variabel waktu pelaksanaan dan biayanya, apakah waktu yang digunakan dalam proses pemberian pelayanan sesuai dengan jadwal yang ada, dan apakah biaya yang dipungut atau dibayar oleh masyarakat sesuai dengan tarif /biaya yang ditentukan.
  4. Mutu produk pelayanan : Kualitas pelayanan meliputi aspek cara kerja pelayanan, apakah cepat/tepat, apakah hasil kerjanya baik/rapi/benar/layak.
  5. Tingkat profesional petugas : Bagaimana tingkat kemampuan keterampilan kerja petugas mengenai, sikap, prilaku, dan kedisiplinan dalam memberikan pelayanan, apakah ada kebijakan untuk memotivasi semangat kerja para petugas.
  6. Tertib pengelolaan administrasi dan manajemen : Bagaimana kegiatan pencatatan administrasi pelayanan, pengelolaan berkas, apakah dilakukan dengan tertib, apakah terdapat moto kerja, dan apakah pembagian tugas dilaksanakan dengan baik serta kebijakan setempat yang mendorong motivasi dan semangat kerja para petugas.
  7. Sarana dan prasarana pelayanan : Mencakup keberadaan dan fungsinya, bukan hanya penampilannya tetapi sejauh mana fungsi dan daya guna dari sarana /fasilitas tersebut dalam menunjang kemudahaan kelancaran proses pelayanan dan memberikan kenyamanan pada pengguna pelayanan. 

B. Definisi Konsepsual Pelayanan Publik dari Kinerja Lurah

Konsepsual dari kinerja lurah dalam pelayanan publik merupakan suatu kegiatan dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan masyarakat oleh penyelenggaraan negara dengan pengawasan dari pimpinan penyelenggara sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan. Maka di dalam kegiatan yang dilakukan sesuai dengan tanggungjawabnya dan hasil pekerjaan seperti yang diharapkan.

Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Pasolong, Harbani. 2007. Teori Administrasi Publik. CV. Alfabeta. Bandung.


Sunday, 26 June 2016

Prinsip Good Governance Dalam Ilmu Sosial Politik

A. Prinsip-prinsip Good Governance

Prinsip Good Governance Dalam Ilmu Sosial Politik

Kunci utama untuk memahami good governance adalah dengan pemahaman terhadap kaidah-kaidah yang ada di dalamnya. Pengertian kaidah sendiri adalah rumusan asas yang menjadi hukum, aturan yang sudah pasti. Dengan demikian, prinsip bearti asas (kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir, bertindak, dan sebagainya). Berdasarkan dari prinsip-prinsip ini akan didapatkan tolak ukur kinerja suatu pemerintahan.

UNDP dalam Sedarmayanti (2004:5) Mengemukakan bahwa karakteristik atau prinsip yang harus dianut dan dikembangkan dalam praktek penyelenggaraan kepemerintahan yang baik, meliputi :
  1. Partisipasi (Participation) : Setiap masyarakat yang bernergara, baik pria maupun wanita memiliki hak suara yang sama dalam pengambilan suatu keputusan, baik secara langsung, maupun melalui lembaga perwakilan, sesuai dengan kepentingan dan aspirasinya masing-masing.
  2. Aturan Hukum (Rule of Law) : Kerangka aturan hukum dan perundang-undangan harus berkeadilan, ditegakan dan dipatuhi secara utuh, terutama aturan hukum hak azasi manusia.
  3. Transparansi (Transparency) : Transparansi harus dibangun dalam rangka kebebasan aliran informasi.
  4. Daya Tanggap (Responsiveness) : Setiap institusi dan prosesnya harus diarahkan pada upaya untuk melayani berbagai pihak yang berkepentingan (stakelholders).
  5. Berorientasi Konsensus (Consensus Orientation) : Pemerintahan yang baik akan bertindak sebagai penengah bagi berbagai kepentingan yang berbeda untuk mencapai konsensus atau kesempatan yang terbaik bagi kepentingan masing-masing pihak, dan juga dimungkinkan juga dapat diberlakukan terhadap berbagai kebijakan dan prosedur yang akan ditetapkan pemerintah.
  6. Berkeadilan (Equity) : Pemerintahan yang baik akan memberi kesempatan yang baik terhadap pria maupun wanita dalam upaya meningkatkan dari memelihara kualitas hidupnya.
  7. Efektivitas dan Efisiensi (Effectiveness and Efiiciency) : Setiap proses kegiatan dan kelembagaan diarahkan untuk menghasilkan sesuatu yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan melalui pemanfaatan yang sebaik-baiknya berbagai sumber yang tersedia.
  8. Akuntabilitas (Accountability) : Para pengambil keputusan dalam organisasi sektor publik, swasta dan masyarakat madani memiliki pertanggungjawaban (akuntabilitas) kepada publik (masyarakat umum), sebagaimana halnya kepada para pemilik (stakeholders).
  9. Visi Strategis (Strategic Vision) : Pemimpin dan masyarakat memiliki perspektif yang luas dan jangka panjang tentang penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan pembangunan manusia, bersama dengan dirasakannya kebutuhan untuk penggunaan tersebut.
Keseluruhan prinsip good governance tersebut tidak dapat berdiri sendiri, melainkan  saling memperkuat dan saling terkait.

Terdapat empat unsur prinsip utama yang dapat memberi gambaran administrasi publik yang berciri kepemerintahan yang baik yaitu sebagai berikut:
  1. Akuntabilitas : Adanya kewajiban bagi aparatur pemerintah untuk bertindak selaku penanggungjawab dan penanggung gugat atas segala tindakan dan kebijakan yang ditetapkannya.
  2. Transparansi : Pemerintah wajib bersifat transparan terhadap warga negaranya, baik ditingkat pusat maupun daerah.
  3. Keterbukaan : Menghendaki terbukanya kesempatan bagi rakyat untuk mengajukan tanggapan dan kritik terhadap pemerintah yang dinilainya tidak transparan.
  4. Aturan Hukum : Kepemerintahan yang baik mempunyai karakteristik berupa jaminan kepastian hukum dan rasa keadilan masyarakat terhadap setiap kebijakan publik yang ditempuh.

Sumber rujukan/Daftar pustaka :

Sedarmayanti, 2004. Good governance (kepemerintahan yang baik) membangun sistem kinerja guna meningkatkan produktivitas menuju good governance. Mandar Maju. Bandung.

Penjelasan Arti Good Governance

A. Pengertian Good Governance (Pemerintahan Yang Baik)

Penjelasan Arti Good Governance

Istilah "governance" tidak hanya bearti kepemerintahan sebagai suatu kegiatan, tetapi juga mengandung arti pengurusan, pengelolaan, pengarahan, pembinaan penyelenggaraan dan juga bisa diartikan pemerintahan. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila terdapat istilah public governance, private governance, corporate governance dan banking governance. Governance sebagai terjemahan dan pemerintahan kemudian berkembang dan menjadi populer dengan sebutan kepemerintahan, sedangkan good governance adalah arti dari praktek terbaiknya yang dilakukan oleh kepemerintahan.

Secara konseptual pengertian dari istilah pemerintahan yang baik mengandung dua pemahaman :
  1. Nilai yang menjujung tinggi keinginan/kehendak rakyat, dan nilai-nilai yang dapat meningkatkan kemampuan rakyat dalam pencepatan tujuan (nasional) kemandirian, pembangunan berkelanjutan dan keadilan sosial.
  2. Aspek fungsional dari pemerintah yang efektif dan efisien dalam pelaksanaan tugasnya untuk mencapai tujuan tersebut (Sedarmayanti 2004:3).
Menurut Dwipayana (2003:45) good governance merupakan sesuatu yang sulit didefinisikan karena di dalamnya terkandung makna etis. Dengan artian sesuatu yang dipandang baik dalam suatu masyarakat, akan tetapi belum tentu masyarakat yang lainnya memiliki penilaian terhadap pandangan yang sama.

Menurut Sedarmayanti (2003:76) good governance adalah suatu bentuk manajemen pembangunan, yang juga disebut administrasi pembangunan. Dengan demikian ia berpendapat bahwa pemerintahan berada pada posisi sentral (agent of chance) dari suatu masyarakat dalam suatu masyarakat berkembang. Dalam good governance tidak hanya pemerintahan, tetapi juga citizen, masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat yang terorganisir, seperti LSM, asosiasi-asosiasi kerja, bahkan paguyuban.

Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 Tentang pendidikan, pelatihan jabatan Pegawai Negri Sipil merumuskan arti good governance kepemerintahan yang mengemban akan dan menerapkan prinsip-prinsip profesionalitas, akuntabilitas, transparansi, pelayanan prima demokrasi, efisiensi, efektivitas, supermasi hukum dan dapat diterima oleh seluruh masyarakat.

Menurut Sudarhono (2001:115), ada beberapa aspek yang biasa menunjukan dijalankannya good governance yaitu pertama , pengakuan atas pluralitas polotik; kedua, keadilan sosial; ketiga, akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan; dan keempat, kebebasan.

Kesimpulan dalam arti goog governance adalah pengelolaan pemerintahan yang baik dalam mengikuti kaidah-kaidah tertentu sesuai dengan prinsip-prinsip dasar kepemerintahan yang baik.

Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Dwipayana. 2003. Membangun good governance. Raja Grafindo Pustaka. Jakarta. 

Sedarmayanti, 2003. Good governance (kepemerintahan yang baik) dalam rangka otonomi daerah. Mandar Maju Bandung.

Sedarmayanti, 2004. Good governance (kepemerintahan yang baik) membangun sistem kinerja guna meningkatkan produktivitas menuju good governance. Mandar Maju. Bandung.

Sudarhono, Edi. 2001. Good governance untuk daulat siapa?. Forum LSM DIY. Yogyakarta.



Saturday, 25 June 2016

Hama Penganggu Tanaman Kedelai Dan Pengendaliannya

A. Jenis dan Pengertian Hama Pengganggu Tanaman Kedelai

Hama Penganggu Tanaman Kedelai Dan Pengendaliannya

Kendala biotik pada daerah tropis terhadap tanaman kedelai adalah banyaknya jenis hama potensial yang merusak dan menurunkan produktifitas kedelai sampai 80%, sementara untuk daerah subtropik hanya terdapat 1-2 jenis hama yang merusak tanaman kedelai. Sudah ada 100 jenis hama potensial perusak tanaman kedelai yang berhasil diidentifikasi oleh para ahli di Indonesia. Sembilan jenis diantaranya merupakan hama utama yang menyerang tanaman mulai dari awal pembibitan, tanaman muda, bagian daun, polong muda, dan polong tua (Adisarwanto, 2006).

Ada banyak jenis seranga yang diketahui berasosiasi dengan tanaman kedelai, 28 jenis diantara diketahui sebagai hama perusak tanaman. Percobaan lapangan menunjukan bahwa kerusakan yang disebabkan oleh kompleks hama bila tidak dikendalikan, dapat mencapai 80% (Sukarna dan Hartono,1985).

Menurut Lamina (1989), dan Suprapto (1996), hama yang menyerang kedelai antara lain:

1. Kumbang daun kedelai (Phaedonia inclusa Stall.).

Kumbang daun kedelai akan memakan hampir semua bagian tanaman, diantaranya daun kedelai yang masih muda, pucuk, tunas, polong muda, dan bunga. Kumbang ini akan menyerang tanaman pada sore dan pagi hari. Biasanya larva dari kumbang ini juga ikut memakan bagian tanaman kedelai. Kumbang kedelai memiliki ciri-ciri dengan kepala berwarna kemerah-merahan dan sayap hitam kebiru-biruan mengkilap. Menghasilkan telur rata-rata 200-250 butir untuk tiap induk siklus hidupnya antara 20-21 hari yang bearti dalam 1 kali musim pertanaman kedelai dapat diserang oleh 2 atau 3 generasi.

2. Lalat bibit/lalat kacang (Agromyza phaseoli Cog)

Lalat bibit merupakan jenis hama yang menyerang bibit kedelai selain itu juga, dapat merusak daun pertama dan kedua pada tanaman yang masih muda yaitu umur 1-4 hst. Ciri-ciri lalat bibit adalah bewarna hitam mengkilap dan berukuran 1,9-2,1 mm. Gejala serangannya terdapat bercak-bercak pada keping biji pada tanaman yang masih muda. Pada saat keping biji terlepas dari pangkal batang, di dalam pangkal batang terdapat larva. Apabila larva sudah mencapai pangkal akar, daun mulai melayu dan kuning kemudian tanaman mati. Serangan yang paling barat ketika umur tanaman mencapai 11 hst (hari setelah tanam) yang akan menyebabkan tanaman kerdil sedangkan proses kematian tanaman akan tampak setelah umur tanaman 14-30 hst. Siklus hidup lalat bibit adalah 21-28 hari dan sangat tergantung faktor lingkungan.

3. Kepik polong (Riptortus linearis F.)

Kepik polong dewasa bentuk tubuhnya mirip dengan walang sangit, bewarna kuning coklat dan terdapat garis putih kekuningan disepanjang sisi tubuhnya. Kepik betina memiliki ciri-ciri perutnya membesar dan gembung di bagian tengahnya dan ukuran tubuhnya berkisar 13-14 mm. Sedangkan kepik jantan memiliki ciri-ciri perutnya ramping dan lurus dan ukuran tubuhnya berkisar 11-13 mm. Telur kepik di letakan secara berkelompok pada permukaan bawah dan atas daun serta pada polong, meletakannya secara berderet 3-5 butir. Bentuk telur kepik bulat dan agak cekung bagian tengahnya berdiameter 1,2 mm. Telur yang baru dikeluarkan oleh kepik betina bewarna biru keabu-abuan setelah beberapa saat warna telur akan berubah coklat suram. Telur akan menetas menjadi kepik muda (nimfa) setelah 6-7 hari. Bentuk nimfa agak mirip dengan semut hitam.

Nimfa menghisap menghisap cairan biji dalam polong kedelai muda. Cara merusaknya, nimfa menusukan stilet pada polong yang masih muda menembus hingga biji muda dan menghisap cairan dalam biji tersebut. Polong dan biji yang diserang nimfa, akan mengkerut dan kempis menjadi kering dan gugur.

4. Kepik hijau (Nezara virida L.)

Imago dan nimfa menyerang polong muda dan polong tua dengan cara menusuk lalu menghisap cairan pada biji dalam polong. Polong yang terserang akan kempis atau bijinya berkeriput. Bedanya dengan kepik polong, kepik hijau dewasa tubuhnya bewarna hijau kadang juga ditemukan bewarna kuning pada bagian kepala dan porotrak. Nimfa terdiri dari lima instar dengan warna kemerah-merahan dan akan berubah menjadi coklat muda, hitam berbintik putih, hijau berbintik kuning, sampai hijau berbintik hitam dan putih (sesuai dengan perkembangan instarnya). Lama stadia nimfa 21-28 hari. Telur diletakan pada permukaan daun bagian bawah dan diletakan secara berkelompok sebanyak 10-50 butir.

Gejala yang terlihat akibat hisapan kepik hijau dewasa dan nimfanya terhadap polong muda akan terlihat keriput dan kempis, polong menjadi hampa karena tidak terbentuk biji dan akan gugur. Sedangkan gejala serangan pada polong tua, biji yang dihasilkan akan keriput dan terdapat bercak warna hitam bekas hisapan. Akibat serangan hama ini dapat menurunkan kualitas biji kedelai dan hasil produksinya juga menurun sehingga petani akan mengalami kerugian.

5. Penggerek polong kedelai (Eteilla zinckenela Treit.)

Penggerek polong kedelai tersebar diseluruh Indonesia dan salah satu hama utama yang menyerang pada daerah sentra produksi kedelai. Pepulasinya terus meningkat seiring dengan meningkatnya tanaman inang yang menyebar luas diseluruh Indonesia. Diperlukan perhatian kusus tarhadap hama tersebut karena efek yang merugikan bagi produsen kedelai karena produksinya menurun.

Ciri-ciri penggerek polong kedelai dengan warna tubuh keabu-abuan dan mempunyai garis putih pada sayap depan. Hama tersebut meletakkan telur secara berkelompok dibagian bawah daun, kelopak bunga  dan polong. Jumlah telur dalam kelompok berkisar 4-15 butir. Bentuk telurnya lonjong dengan diameter 0,6 mm. Warna telur pada saat baru dikeluarkan bewarna putih mengkilap, lalu berubah manjadi kemerahan, pada saat telur akan menetas warna berubah menjadi jingga. Telur akan menetas pada hari ke 3-4 dan keluar larva yang bewarna putih kekuningan kemudian berubah menjadi hijau dengan garis merah memanjang. Larva pada instar 1-2 menggerek kulit polong kemudian masuk kedalam biji dan hidup didalamnya. Instar ke 2 larva hidup di luar biji. Larva instar akhir berukuran panjang 13-15 mm dan lebar 2-3 mm. Setelah mencapai instar akhir, larva akan berubah menjadi kepompong yang terbentuk di dalam tanah yang terlebih dulu membuat sel dari tanah. Kepompong bewarna coklat dengan panjang 8-10 mm dan lebar 2 mm. Kepompong akan berubah menjadi ngengat setelah umur 9-15 hari.

Larva menggerek kulit polong dan memakan biji, larva tersebut lebih menyukai memakan biji yang masih muda. Larva akan tinggal di dalam polong. Serangan larva tersebut terhadap polong kedelai yang masih muda akan menyebabkan terjadinya kerontokan polong. Sedangkan serangan pada polong yang sudah tua akan menyebabkan penurunan kuantitas biji.

6. Ulat grayak (spodoptera litura F.)

Hama ini menyerang daun dan polong muda umumnya ketika kedelai mulai berbunga. Hama ini aktif menyerang tanaman pada malam hari, sedang waktu siang bersembunyi dibalik daun dalam tanah. Telur ulat grayak di letakan pada permukaan daun bagian bawah secara berkelompok antara 30-700 butir. Lama stadia telur, membentuk larva dan memakan daun bagian bawah. Larva bewarna abu-abu gelap dan coklat dengan larva masih kecil memakan jaringan epidermis tanaman, kemudian setelah cukup besar mulai memakan helai daun. Stadia larva 15-30 hari, stadia pupa 9-10 hari. Imago berbentuk ngengat yang bewarna agak gelap dengan garis putih pada sayap depannya. Ngengat ini memiliki panjang tubuh antara 14-17 mm dan rentang sayapnya antara 34-42 mm. Stadia imago berlangsung 2-6 hari. Tanda serangan yang ditinggalkan adalah tulang-tulang daun. Epidermis daun bagian atas terdapat larva muda pada bagian bawah permukaan daun. Larva ini juga dapat merusak polong muda.

7. Ulat polong (Helicoverpa armigera Hbn.)

Ngengat bewarna sawo matang kekuning-kuningan. Telur berukuran kecil bewarna kuning dan diletakan secara tunggal pada pucuk tanaman atau disekitar bunga. Larva bewarna merah tua sampai hitam pada stadium dewasa. Pupa dibentuk di atas permukaan tanah. Daur hidup dari telur sampai imago sekitar 62 hari. Larva melubangi polong kedelai hingga rusak dan kadang-kadang membusuk.

8. Ulat penjalin daun (Lamprosema indicata F.)

Imago serangga ini berbentuk ngengat berukuran kecil dan bewarna kuning jerami dengan garis-garis coklat tidak beraturan pada sayap depannya, panjang tubuh antara 9-11 mm dengan sayap kira-kira 20 mm. Telur diletakan berkelompok pada permukaan bawah daun-daun muda. Setiap berkelompok terlurnya terdiri dari 2-5 butir. Telur berbentuk bulat pipih dan bewarna putih kekuningan dengan diameter 1 mm. Stadium telur berlangsung 5-7 hari. Pupa terbentuk didalam gulungan daun. Tubuh pupa bewarna coklat dengan panjang sekitar 12 mm. Stadium pupa berlangsung antara 6-7 hari.

9. Ulat jengkal (Chrysodexis chalcites Esp.)

Imago betina meletakkan telur pada permukaan bawah daun. Seekor imago betina mampu bertelur sampai 1.250 butir. Ciri khas larva adalah bergerak seperti menjengkal. Larva membentuk kepompong dalam anyaman daun, kemudian berubah menjadi pupa. Siklus hidup hama berlangsung selama kurang lebih 30 hari. Hama ini bersifat memakan segala jenis tanaman (polifag) dan satdium yang membehayakan adalah larva. Larva menyerang suluruh bagian tanaman terutama daun menhadi rusak tidak beraturan.

B. Pengendalian Hama Pada tanaman kedelai

Pengendalian hama penggerek polong kedelai direkomendasikan dengan pedoman Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Prinsip pengendalian hama terpadu adalah sebagai berikut :
  • Budidaya tanaman sehat : Tanaman yang sehat akan memiliki ketehanan tubuh terhadap serangan hama. Pelaku praktek-praktek agronomis atau pembudidaya kedelai dituntun untuk menuju terciptanya tanaman yang sehat dalam paket-paket teknologi produkasi.
  • Pelestarian musuh alami : Musuh alami (parasit, predator, dan patogen serangga) perlu dilestarikan, dikelola dan dikembanggan guna mengatur tingkat populasi hama pengganggu secara maksimal.
  • Memantau dan mengevaluasi ekosistem secara terpadu : Melakukan pemantauan dan mengevaluasi ekosistem pertanaman merupakan dasar analisi ekosistem oleh petani yang berperan sebagai ahli PHT dalam mengambil suatu keputusan tepat untuk mengendalikan hama.

Teknik pengendalian hama penggerek polong yang didasari oleh PHT :

  • Menanam secara serempak dengan perbedaan wakto 10 hari.
  • Pergiliran tanaman dengan tanaman jenis lain/bukan inang
  • Pelepasan parasetoid trichogramma spp
  • Penggunaan perangkap serangga 
  • Penyemprotan dengan pestisida bila dalam keadaan darurat yang dimana populasi hama melewati batas ambang kendali. Insektisida yang digunakan (klorfluazuron, betasiflutrin, sipermetrin, alfametrin, carbosulfan, dan sihalotrin). 

 

Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Adisarwanto, T. 2006. Tanaman kedelai. Kanisius. Bogor

Lamina, 1989. Kedelai dan perkembangannya. Simplex Jakarta. 135 hlm.

Sukarna dan Hartono. 1985. Pengendalian hama kedelai. Balai Penelitian Tanaman Pangan. Bogor. 

Suprapto, H.S. 1989. Bertanam kedelai. Penebar Swadaya. Jakarta.


Thursday, 23 June 2016

Pengertian Pupuk Organik Cair

Pengertian Pupuk Organik Cair

A. Pengertian Secara Umum Pupuk Organik Cair

Pupuk organik cair dengan sebutan nama lain yaitu (pupuk hijau) merupakan pupuk organik nabati yang berasal dari tanaman umbi-umbian (batang dan daun), buah-buahan, tanaman kacang-kacangan, tanaman jarak dan sisa panen tanaman lainnya yang kemudian diproses dengan fermentasi dan enzimitasi secara modern di pabrik (Karen, 2004). Pupuk organik cair diproduksi untuk memenuhi kebutuhan unsur hara mikro oleh tanaman karena unsur hara mikro dalam tanah sangat terbatas.

Kandungan unsur hara pada pupuk organik cair cukup lengkap karena terdapat kandungan unsur hara mikro dan makro. Tanaman membutuhkan unsur hara mikro hanya dalam jumlah sedikit dan merupakan unsur hara esensial dimana unsur hara mikro ini harus ada dalam tanaman. Meskipun dibutuhkan dalam jumlah sedikit, akan tetapi harga pupuk cair lebih mahal dari pada pupuk padat yang lainnya. Hal ini dikarenakan unsur mikro hanya diproduksi dalam jumlah sedikit karena biaya proses pengembangannya lebih mahal dari pada unsur hara makro. Pupuk organik cair memiliki kandungan unsur hara 1,03% N, 13,33% P, 0,04% K, Sulfat (SO4) 25,28%, 0,04% Cl, 0,31 C/N ratio, 90,46 ppm Fe, 19,20 ppm B, 1,06 ppm Cu, 0,01% Ca, 0,02% Mg, 0,80 ppm CO, 4,99 Mn, 21,44 ppm Mo, 18,32 ppm Zn, Moisture 16,52%, Ash 77,62 (Laboratorium Sucofindo, 2002).

Pupuk organik cair berfungsi untuk memacu pertumbuhan dan perkembangan akar, batang dan daun, selain itu juga pupuk organik cair dapat merangsang pertumbuhan anakan, cabang, bunga dan buah sehingga akan meningkatkan produktivitas tanaman.

Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Karen S. 2004. Teknologi bio agrotek (biotani) tanaman padi, palawija dan hortikultura. H. 1-4. Dalam pusat pengembangan penataran guru teknologi Vocational Education Development Center Malang. Aplikasi pertanian terpadu PT. berau coal, Malang. Januari 2004. PPGT, Malang 

Laboratorium Sucofindo, 2002. Analisi kandungan pupuk organik prima. PT. Sucofindo, bandung

Jenis Pupuk Kandang Dan Pengertiannya

A. Beberapa Jenis Pupuk Kandang dan Pengertiannya


1. Pupuk Kandang Ayam

 
Jenis Pupuk Kandang dan Pengertiannya

Pupuk kandang ayam merupakan pupuk yang diproduksi dari kotoran ayam.  Pupuk kandang ayam memiliki kandungan 55% H2O,1 % N, 0,80% P2O5 dan 0,40% K2O (Sutejo, 1995). 

Kandungan unsur hara pada pupuk kandang ayam lebih tinggi dari pada pupuk kandang lainnya. Tingginya kandungan unsur hara pupuk kandang ayam, di karenakan kotoran ayam bagian cair tercampur dengan kotoran ayam bagian padatnya (Hardjowigeno, 1995).

2. Pupuk Kandang Sapi

Jenis Pupuk Kandang dan Pengertiannya
Pupuk kandang sapi adalah pupuk yang diproduksi dari kotoran sapi. Kandungan lendir dan air pada kotoran sapi ini sangat banyak, teksturnya cepat berubah dari lembek menjadi keras sehingga air tanah dan udara sukar menembus ke dalamnya. Menghambat mikro organisme yang berfungsi untuk menguraikan bahan-bahan yang terkandung di dalamnya, perubahannya berlangsung lambat dan kurang menghasilkan panas sehingga pupuk kandang sapi disebut dengan pupuk dingin (Sutejo, 1995). Pupuk kandang sapi mengandung unsur  nitrogen 0,29% P2O5, 0,17% dan K2O 0,35% (Hardjowigeno, 1995).

3. Pupuk Guano

Jenis Pupuk Kandang dan Pengertiannya
Pupuk guano adalah pupuk yang berasal dari kotoran unggas bukan peliharaan melainkan unggas yang hidup secara liar termasuk juga kotoran kelelawar (Prihmantoro, 2001). Ditambahkan oleh Lingga (2001), pupuk burung merupakan kotoran berbagai jenis burung liar dan bukan burung peliharaan.

Pupuk guano yang hingga kini masih digunakan adalah kotoran kelelawar. Pupuk dari kotoran kelelawar sangat baik digunakan untuk menyuburkan tanah karena kaya akan unsur seperti 8-13% Nitrogen, 5-12% Fosfor, 1,5-2,5 % Kalsium, dan 7,5-11% Sulfur (Lingga dan Marsono, 2002).

Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Hardjowigeno, S. 1995. Ilmu tanah (edisi revisi). Akadika Pressindo, Jakarta

Lingga, P dan Marsono. 2002. Petunjuk penggunaan pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta
Prihmantoro. 2001. Memupuk tanaman sayur. Penebar Swadaya, Jakarta

Sutejo,M. M. 1995. Pupuk dan cara pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta. 177 hlm.


Wednesday, 22 June 2016

Karakteristik Tanaman Padi Sawah Varieatas Unggul Nasional

A. Karakteristik Tanaman Padi Sawah Varietas Unggul Nasional

Karakteristik padi sawah

Varieats padi unggul merupakan salah satu varietas padi hasil dari penerapan tekhnologi pertanian dalam pembudidayaan secara nyata yang dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Padi sawah berbeda dengan padi gunung, produktivitas hasil gabah dari padi sawah lebih tinggi dari pada padi gunung. Pada umumnya padi sawah di budidaya pada lahan sawah yang digenangi/dialirin air secara berkelanjutan, sedangkan padi gunung di budidayakan pada lahan kering yaitu daerah perbukitan, air yang didapat adalah dari curah hujan pada masing-masing wilayah tempat budidaya padi gunung tersebut. Pada waktu tertentu padi sawah sangat membutuhkan genangan air, terutama dari musim tanam sampai mulai berubah untuk meningkatkan produksi gabah. Padi sawah saat memasuki fase pembungaan sangat membutuhkan cukup air dan pupuk agar gabah yang dihasilkan tidak hampa melainkan bernas. Penggunaan benih padi dari varietas unggul sangat direkomendasikan karena mampu meningkatkan produksi gabah yang dapat berkuntribusi cukup besar dalam meningkatkan swasembada beras nasional (Yandianto, 2003).

Padi sawah varietas unggul nasional memiliki beberapa sifat unggul diantaranya yaitu: produktivitas tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit, rasa enak, umur genjah, dan memiliki harga jual yang lebih baik atau lebih tinggi. Sejak 40 tahun dari (1960'an-2000) telah lebih dari 150 varietas padi unggul yang dilepas untuk dibudidayakan baik itu padi sawah, padi gogo, padi pasang surut, padi dataran rendah dan padi dataran tinggi. Dari banyaknya varietas padi unggul yang di lepas, hanya sebagian kecil yang mampu berkembang luas dan bertahan dalam waktu yang lama, beberapa diantaranya berkembang dalam sekala kecil dan sebagian tidak berkembang atau kurang diterima oleh petani (Hadi dkk, 2005).

Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Hadi, Setia., Budiarti, Tati dan Haryadi., 2005. Studi komersial benih padi sawah.

Yandianto, 2003. Bercocok tanam padi. M2S, Bandung

Tuesday, 21 June 2016

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kultur Embrio Somatik

A. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kultur Embrio Somatik dalam Ilmu Pertanian

1. Faktor Tanaman

Embrio pada spesies tertentu mudah untuk ditumbuhkan karena adanya perbedaan genetik antara kultivar dalam satu spesies. Umur fisiologis dan ontogenetik jaringan tanaman yang dijadikan eksplan juga berpengaruh terhadap potensi morfogenetiknya. Umumnya, eksplan yang berasal dari tanaman juvenil mempunyai daya regenerasi tinggi untuk membentuk tunas lebih cepat dibandingkan dengan eksplan yang berasal dari tanaman yang sudah dewasa.Fase pertumbuhan atau umur visiologis, jaringan dapat dikategorikan muda atau tua tergantung dari bagian mana tanaman yang diambil pada fase juvenil atau dewasa (Sjahril, 2011).

Jaringan embrio biasanya memiliki kemampuan regenerasi tinggi untuk tanaman serelia. Dengan demikian embrio atau biji banyak digunakan sebagai bahan penelitian kultur jaringan. Lingkungan tumbuh tanaman induk mempengaruhi keberhasilan teknik kultur jaringan. Tanaman induk umumnya ditumbuhkan di greenhouse untuk menjaga agar kondisi tetap sehat, tetapi juga dapat tumbuh di lahan kemudian dipindahkan ke kondisi yang terkontrol. Pertumbuhan tanaman induk harus bagus untuk menghasilkan pertumbuhan endosperm dan embrio yang bagus (Bano, 2005).

Ukuran eksplan juga mempengaruhi potensi morfogenetiknya. Ukuran eksplan yang terlampau kecil akan mengakibatkan kurangnya daya hidup bila dikulturkan, sementara jika terlalu besar akan mempersulit untuk mendapatkan eksplan yang steril dan dalam proses manipulasinya (Pratama, 2014). Eksplan yang ukurannya lebih besar, penambahan nutrisi (sumber karbon dan mineral) dan zat pengatur tumbuh kurang efektif.

Peletakan eksplan pada media mempengaruhi kemampuan regenerasi dari eksplan. Eksplan yang diletakan secara polar (tegak dengan bagian pangkal berada pada media) dibandingan dengan eksplan yang diletakan apolar (bagian ujung deletakan pada media). Regenerasi akar dan tunasnya lebih mudah dan cepat. Hal ini disebabkan oleh suplai oksigen yang baik dan juga faktor lain. Eksplan yang diinokulasi secara apolar mempunyai subtansi terakumulasi pada ujung pangkal yang menyebabkan tidak dapat berdifusi ke agar selama tidak bersentuhan dengan media (abbas, 2011).

2. Faktor Media

Kebutuhan hara untuk pertumbuh optimal eksplan yang dikulturkan secara in vitro bervariasai antara tiap-tiap spesies tanaman. Sumber eksplan dari tanaman dengan jaringan yang berbeda juga memerlukan media dengan nutrisi yang berbeda agar pertumbuhannya baik.

Media tumbuh mengandung komposisi garam anorganik dat zat pengatur tumbuh. Terdapat beberapa jenis media yang umum digunakan dalam kultur jaringan antara lain : Murashige dan Skoog (MS), Woody Plant Medium (WPM), Knop, Knudson-C, Anderson. Media yang paling sering digunakan secara luas adalah MS (Murishage dan Skoog, 1962).

Ketepatan memilih medium yang sesui dengan jenis tanaman dan kondisi fisiologis dari eksplan atau jaringan yang ditumbuhkan perlu diperhatikan dalam memilih medium dasar. Hal ini dikarenakan setiap jenis dan jaringan tanaman mempunyai respon tersendiri terhadap pemberian medium dasar Komposisi unsur penyusun media yang dapat digunakan untuk kultur jaringan bervariasi tergantung dari jenis tanaman, tujuan kultur, jenis eksplan, dan sumber eksplan. 2-5% konsentrasi sukrosa yang banyak digunakan sebagai sumber karbon dalam kultur in vitro. Selain itu, terdapat glukosa dan fruktosa yang di ketahui mampu meningkatkan pertumbuhan dengan baik pada teknik kultur jaringan.
3. ZPT (Zat Pengatur Tumbuh)

Komposisi dan jumlah konsentrasi ZPT yang ditambahkan dalam media sangat mempengaruhi arah pertumbuhan dan regenerasi eksplan yang dikulturkan. Komposisi dan konsentrasi hormon pertumbuhan yang ditambahkan ke dalam media kultur sangat tergantung dari jenis eksplan yang dikulturkan dan tujuan pengkulturannya. Dalam menentukan komposisi dan konsentrasi penambahan ZPT ke dalam medium kultur dapat merujuk pada percobaan-percobaan yang telah dilakukan sebelumnya serta melakukan percobaan untuk mengetahui komposisi hormon pertumbuhan yang sesuai dengan kebutuhan  dan arah pertumbuhan eksplan yang diinginkan.

Pada dasarnya, penambahan ZPT sangat penting dilakukan pada media kultur karena kegunaannya untuk menunjang dalam peningkatan pertumbuhan yang baik. Kelompok auksin, dan sitokinin adalah golongan ZPT yang paling sering digunakan dalam kultur jaringan.

Auksin menyebabkan perpanjangan batang, internodus, tropism, apikal dominan, absisi dan perakaran. Kegunaan auksin dalam kultur jaringan yaitu untuk pembelahan sel dan diferensiasi akar. 2,4-D adalah jenis auksin yang paling sering digunakan dalam kultur embrio pada tahap inisiasi dan multiplikasi sel. Perkembangan embrio somatik umummya terjadi jika pertumbuhan kalus pada medium yang diperkaya 2,4-D. Ada jenis auksin lain selain 2,4-D yaitu NAA dan IBA yang dapat digunakan untuk menginduksi embrio somatik.

Sitokinin merupakan hormon yang berperan untuk pembelahan sel, dominan apikal, dan diferensiasi tunas. Fungsi sitokinin dalam kultur jaringan embrio somatik adalah untuk pembelahan sel dan diferensiasi tunas adventif dari kalus menjadi organ. Jenis sitokinin yang paling banyak digunakan pada kultur jaringan adalah BAP, 2-ip (N6-2-Isopentanyl adenin atau 6-(t,t-Dimetyl Allyl Amino Purine), dan Kinetin (Zulkarnain, 2009).

4. Faktor Lingkungan Tumbuh Kultur Jaringan

a. Kelembaban

Kelembaban relatif dalam botol kultur dengan mulut botol yang ditutup umummnya cukup tinggi, yaitu berkisar antara 80-99%. Apabila mulut botol ditutup sedikit longgar meka kelembaban relatif dalam botol kultur dapat lebih rendeh dari 80%. Sedangkan kelembaban relatif di ruang kultur umumnya adalah sekitar 70%, jika berada dibawaj 70% maka akan mengakibatkan media dalam botol kultur (yang tidak tertutup rapat) akan cepat menguap dan kering sehingga eksplan dan planlet yang dikulturkan akan cepat kehabisan media. Namun kelembaban udara dalam botol kultur yang terlalu tinggi menyebabkan tanaman tumbuh abnormal yaitu daun lemah, mudah patah, tanaman kecil-kecil namun terlampau sekulen. Kondisi tanaman demikian disebut vitrifikasi atau hiperhidrocity (Zulkarnain, 2009).
b. Cahaya

Ruang kultur sebagai penyimpanan botol dari perbanyakan secara in vitro membutuhkan penyinaran yang cukup. Pada awal inokulasi eksplan untuk menjadi kalus tidak membutuhkan cahaya sama sekali. Akan tetapi pada saat kalus untuk membentuk tunas, sangat membutuhkan pencahayaan yang cukup agar merangsang pertumbuhannya dengan baik. Intensitas cahaya dalam ruang kultur  untuk pertumbuhan tunas umumnya berkisar antara 600-1000 lux. Perkecambahan dan inisiasi akar umumnya dilakukan pada intensitas cahaya lebih rendah (Yusnita, 2003).

Selain intensitas cahaya, lama penyinaran atau photoperiodisitas juga mempengaruhi pertumbuhan eksplan yang dikulturkan. Lama penyinaran umumnya diatur sesuai dengan kebutuhan tanaman sesuai dengan kondisi ilmiahnya. Periode lama penyinaran terang dan gelap (siang dan malam) dapat diatur dengan timer otomatis yang dihubungkan pada saklar lampu dalam ruang kultur pada kisaran 8-16 jam terang dan 16-8 jam gelap tergantung pada varietas tanaman dan eksplan yang dikulturkan.
c. Suhu

Sejatinya tanaman tumbuh pada lingkungan dengan suhu yang berbeda antara suhu siang dan suhu malam. Dalam kultur in vitro suhu tersebut dapat diatur, namun pada sebagian laboratorium suhu ruang di atur konstan yaitu berkisar 25 derajat celcius (kisaran suhu 17-32 derajat celcius) baik siang maupun malam. Tanaman tropis umumnya dikulturkan pada suhu yang sedikit lebih tinggi dari tanaman dengan empat musim, yaitu 27 derajat celcius (kisaran suhu 24-32 derajat celcius). Bila suhu siang dan malam diatur berbeda, maka perbedaan umumnya adalah 4-8 derajat celcius, variasi yang biasa dilakukan adalah 25 derajat celcius siang dan 20 derajat celcius malam, atau 28 derajat celcius siang dan 24 derajat celcius malam (Young, 2003). Walaupun hampir semua tanaman dapat tumbuh dengan suhu tersebut, namun setiap masing-masing tanaman membutuhkan suhu yang berbeda-beda. Tanaman dapat tumbuh dengan baik pada suhu optimumnya. Pada suhu ruang kultur dibawah optimum, pertumbuhan eksplan lebih lambat, namun pada suhu diatas optimum pertumbuhan tanaman juga terhambat akibat tingginya laju respirasi eksplan (Zulkarnain, 2009).

5. Sterilisasi Bahan Eksplan

Sumber kontaminasi yang paling sulit diatasi adalah yang berasal dari eksplan. Oleh karena itu, dalam memilih suatu metode sterilisasi haruslah selektif. Mencegah jamur dan bakteri yang tidak diinginkan agar tidak terjadi kontaminasi. Untuk menghilangkan sumber infeksi, bahan tanaman harus disterilkan sebelum ditanam pada media tumbuh. Jaringan atau organ yang terinfeksi jamur atau bakteri sistematik hendaknya dibuang (Zulkarnain, 2003). 

Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Abbas B. 2011. Prinsip dasar teknik kultur jaringan. Alfabeta, Bandung.

Bano S, Jabeen M, Rahim F, Ilahi I (2005). Callus induction and regeneration in seed explants of rice (Oryza sativa cv. Swat-II). Pak.J. Bot. 37:829-836.

Murashige, T. and Skoog, F. 1962. A rivised medium for rapid growth and bioassay with tobacco tissue culture. Physiol. Plant., 15: 473-479.

Sjahril, R. 2011. Pembiakan in vitro. Universitas Hasanudin. Makasar.

Yusnita, 2003. Kultur jaringan cara memperbanyak tanaman secara efisien. Agromeda Pustaka, Jakarta.

Zulkarnain. 2003. Perbanyakan tanaman Guichenotia machantha Turch. Secara kultur jaringan I. penelitian pendahuluan terhadap metode sterilisasi bahan tanaman dan komposisi medium dasar. Majalah ilmiah Unja. 48.

Zulkarnain. 2009. Kultur jaringan tanaman. Bumi Aksara. Jambi


Monday, 20 June 2016

Pengertian Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor

 
Pengertian Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor

A. Pengertia Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor

Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor atau disingkat dengan sebutan BBN-KB merupakan sumbangan pendapatan pajak yang paling besar jika dibandingkan dengan pendapatan asli daerah dari jenis pajak lainnya.

Adapun salah satu alasan diadakannya pungukutan BBN-KB ialah karena adanya gejala spekulasi objek (kendaraan bermotor) oleh banyak pedagang-pedagang kendaraan bermotor, disamping itu sebenarnya nilai jual kendaraan bermotor tersebut bisa disamakan  dengan perjanjian harta tidak bergerak.

Objek pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah setiap penyerahaan kendaraan bermotor dalam hak milik. Dalam hal ini, pajak tidak akan dikenakan pada setiap penyerahan yang bukan hak milik. Yang dimaksud penyerahan dalam hal ini adalah penyerahan dalam hak milik sebagai akibat perjanjian kedua belah pihak atau dapat pula perbuatan sepihak.

Dalam peraturan pemerintah nomor 65 tahun 2001 tentang pajak daerah, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor setiap penyerahan kendaraan bermotor dapat dibebaskan dari BBN-KB adalah penyerahan kendaraan bermotor kepada:
  1. Pemerintah pusat dan Pemerintah daerah.
  2. Kedutaan, konsultan, perwakilan asing dan lembaga-lembaga internasional dengan asas timbal balik.
  3. Subjek pajak lainnya yang ditetapkan dengan peraturan daerah. 

Adapun besar tarif BBN-KB ditetapkan dengan peraturan sebagai berikut:

1. Untuk penyerahan pertama ditetapkan sebesar:

  • 10% untuk kendaraan bermotor bukan umum.
  • 10% untuk kendaraan bermotor umum.
  • 3 % untuk kendaraan bermotor jenis alat-alat berat dan alat-alat besar lainnya.

2. Untuk penyerahan ke dua ditetapkan sebesar:

  • 1% untuk kendaraan bermotor bukan umum.
  • 1% untuk kendaraan bermotor umum.
  • 0,3% untuk kendaraan bermotor jenis alat berat. 

3. Sedangkan penyerahan karena warisan ditetapkan sebesar:

  • 0,1% untuk kendaraan bermotor bukan umum.
  • 0,1% untuk kendaraan bermotor umum.
  • 0,03% untuk kendaraan bermotor jenis alat berat

Total Pageviews

Kategori